Malam Takziah

Marion D'rossi
Chapter #42

Kesepakatan Lama

Kebenaran tidak selalu dikubur. Kadang ia justru diletakkan tepat di depan mata, lalu diberi nama lain sampai tak seorang pun lagi mengenalinya. Nadia memikirkan hal itu sepanjang perjalanan pulang dari Sendang Watu Ireng. Langit di ufuk timur mulai memucat ketika ia keluar dari kawasan hutan. Kabut yang semalaman menyelimuti jalan setapak perlahan terangkat, memperlihatkan sawah-sawah yang dibasahi embun. Dari kejauhan terdengar kokok ayam bersahutan, disusul suara lesung yang dipukul pelan dari salah satu rumah penduduk.

Desa itu tampak begitu damai. Anak-anak sebentar lagi akan berangkat sekolah. Para petani mulai memikul cangkul. Asap dapur mengepul dari atap-atap rumah. Pemandangan yang sama seperti puluhan tahun lalu. Dan justru di situlah letak kengeriannya. Ketenteraman yang dinikmati desa ini berdiri di atas sebuah masa lalu yang sengaja dipatahkan. Semua orang menjalani kehidupan yang tampak normal. Namun fondasinya dibangun dari ingatan yang telah dipilih, dipangkas, lalu disusun ulang.

 

Rumah peninggalan Hadi masih sunyi ketika Nadia tiba. Ia tidak langsung beristirahat meski semalaman hampir tidak memejamkan mata. Sebaliknya, ia berjalan lurus menuju ruang kerja. Di atas meja masih tergeletak lembaran kronologi yang disusunnya bersama para saksi sehari sebelumnya. Benang-benang merah, foto-foto, serta catatan kecil memenuhi hampir seluruh permukaan papan. Kini ada satu nama yang akhirnya bisa ditulis tanpa keraguan.

Saraswati.

Nadia mengambil spidol hitam. Dengan hati-hati ia melingkari nama itu. Bukan lagi sebagai korban yang tak dikenal, tapi sebagai seseorang yang akhirnya kembali memperoleh tempat dalam sejarah. Namun pekerjaannya belum selesai. Masih ada satu pertanyaan besar yang belum terjawab.

Bagaimana seluruh desa bisa melupakan satu peristiwa secara bersamaan? Bahkan jika ritual itu benar-benar terjadi, penghapusan dokumen dan perubahan nama desa tetap membutuhkan tangan manusia. Itu bukan pekerjaan semalam. Seseorang pasti memimpin. Seseorang pasti mengatur. Dan seseorang pasti membuat seluruh warga sepakat untuk diam.

 

Tatapan Nadia jatuh pada kotak kayu peninggalan Hadi. Di dalamnya tinggal satu kaset yang belum pernah diputar. Label putihnya telah kusam dimakan usia. Di sudut kiri atas tertulis angka kecil yang nyaris pudar.

5. Kaset terakhir.

Ia mengangkat benda itu perlahan. Anehnya, tidak ada catatan tambahan seperti kaset-kaset sebelumnya. Tak ada tulisan "putar setelah menemukan sendang" atau "jangan dengarkan sendirian". Hanya satu baris pendek yang ditulis menggunakan tinta biru.

Kalau semuanya sudah mulai jelas... dengarkan ini.

Nadia memejamkan mata beberapa saat. Ia merasa seolah Hadi sedang mengatur ritme penyelidikannya, bahkan setelah kematian tidak lagi mampu menghentikan dirinya. Tape recorder tua kembali diletakkan di tengah meja. Kaset dimasukkan perlahan.

Bunyi mekanisme pengunci terdengar nyaring di ruang kerja yang sunyi. Nadia menekan tombol PLAY. Desis pita memenuhi ruangan selama beberapa detik. Kemudian suara Hadi muncul. Lebih pelan daripada biasanya. Namun terdengar jauh lebih tenang.

"Kalau kamu sampai pada kaset terakhir..." Ia berhenti sesaat. "berarti kamu sudah bertemu Saraswati."

Nadia tersenyum tipis. Ayahnya benar lagi. Seolah seluruh langkahnya telah diperhitungkan sejak awal.

"Kalau dugaanku benar, dia tidak akan meminta dibalas, dia hanya ingin diingat."

Kalimat itu membuat dada Nadia kembali terasa sesak. Semalam Saraswati memang tidak meminta keadilan. Tidak meminta para pelaku dihukum. Ia hanya takut seluruh keberadaannya lenyap.

 

Suara Hadi berlanjut.

"Aku membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk memahami satu hal. Yang menghancurkan Karanganyar bukan ritualnya. Bukan malam itu. Tapi apa yang dilakukan orang-orang setelahnya."

Nadia segera membuka buku catatan. Pulpen telah siap di tangannya.

"Dua hari setelah kejadian, para tetua desa berkumpul. Bukan di Sendang. Tapi di balai desa."

Nadia mengangkat kepala. Balai desa. Lagi. Tempat yang sejak awal selalu muncul dalam penyelidikannya.

"Aku berhasil menemukan notulen pertemuan itu. Sayangnya... dokumennya sudah dimusnahkan. Yang tersisa hanya salinan catatan pribadiku."

Desis pita terdengar sesaat, lalu Hadi kembali berbicara.

"Mereka tidak membahas siapa yang hilang. Tidak membahas siapa yang bersalah. Mereka hanya membahas satu hal."

Suara Hadi berubah semakin pelan.

"Bagaimana membuat seluruh desa tetap tenang."

Nadia menghentikan pulpennya.

Tetap tenang. Dua kata itu terdengar sangat sederhana. Namun kini ia memahami betapa mahal harga yang harus dibayar untuk mendapatkannya.

Lihat selengkapnya