Ada orang-orang yang melawan waktu dengan meninggalkan sesuatu. Ada pula yang melawannya dengan terus mengulang. Selama ini Nadia mengira ayahnya termasuk golongan pertama. Ia percaya seluruh buku harian, kaset, peta, dan arsip yang memenuhi ruang kerja itu adalah warisan terakhir seorang penyelidik yang mengetahui ajalnya sudah dekat. Namun setelah pengakuan Pak Karsa sore itu, cara pandangnya berubah. Mungkin semua peninggalan itu bukan semata-mata warisan. Melainkan pelampung. Sesuatu yang sengaja ditinggalkan Hadi untuk dirinya sendiri agar setiap kali ia tenggelam ke dalam lupa, ia masih bisa menemukan jalan pulang.
Malam turun perlahan di atas Karangwening. Langit diselimuti awan tipis yang membuat cahaya bulan tampak pucat, seolah ikut kehilangan sebagian ingatannya. Dari ruang kerja terdengar bunyi jam tua berdetak teratur, memecah kesunyian yang sejak beberapa hari terakhir terasa semakin akrab bagi Nadia.
Ia belum tidur. Di hadapannya terbentang seluruh peninggalan Hadi yang kini hampir seluruhnya telah dipelajari.
Peta, surat, foto, buku harian, lima kaset.
Tidak.
Nadia mengerutkan dahi. Lima? Ia menoleh ke arah kotak kayu tempat seluruh rekaman disimpan. Tangannya menghitung kembali ruang-ruang kecil di dalamnya.
Satu, dua, tiga, empat, lima. Lalu, jemarinya berhenti.
Di dasar kotak, tepat di bawah lapisan kain beludru yang mulai rapuh dimakan usia, terdapat sesuatu yang selama ini tidak pernah ia perhatikan. Sebuah celah tipis yang hampir menyatu dengan warna kayu. Kalau tidak terkena pantulan cahaya lampu meja, mungkin Nadia tidak akan pernah menyadarinya.
Ia mengangkat lapisan kain itu perlahan. Benar saja. Di bawahnya tersembunyi sebuah kompartemen kecil. Ruang rahasia. Jantung Nadia mulai berdetak lebih cepat. Selama berminggu-minggu ia membongkar setiap sudut ruang kerja ini. Namun tempat sederhana seperti itu justru luput dari perhatiannya. Dengan ujung kuku, ia mendorong sisi kayu yang sedikit menonjol. Terdengar bunyi klik pelan. Kompartemen itu terbuka. Di dalamnya hanya ada dua benda. Sebuah amplop cokelat yang telah menguning dan satu kaset kecil tanpa nomor, tanpa label, dan tanpa tulisan apa pun.
Nadia mengangkat kaset itu dengan hati-hati. Permukaannya lebih kusam dibanding lima kaset sebelumnya. Sudut plastiknya bahkan sedikit retak. Kaset ini tampak jauh lebih sering diputar. Anehnya, tidak ada petunjuk apa pun mengenai isinya. Baru ketika Nadia membalik bagian belakang kaset, ia menemukan goresan kecil yang nyaris tak terlihat. Bukan menggunakan tinta, tapi digores dengan ujung benda tajam.
Kalau gagal.
Nadia menatap tulisan itu cukup lama. Kalimat yang tidak selesai. Namun cukup jelas maksudnya. Kaset ini disiapkan jika semua cara lain tidak berhasil. Jika seluruh penyelidikan berhenti. Jika Hadi gagal menyelesaikan pekerjaannya sendiri.
Ia memasukkan kaset itu ke dalam tape recorder. Tangannya sempat ragu ketika hendak menekan tombol putar. Selama ini setiap rekaman Hadi selalu membawanya selangkah lebih dekat kepada kebenaran. Tetapi kali ini entah mengapa Nadia merasa yang akan didengarnya bukan lagi tentang desa, tapi tentang ayahnya. Tentang sisi kehidupan Hadi yang selama ini sengaja disembunyikan.
Pita mulai berputar. Tidak ada desis panjang seperti biasanya. Suara Hadi langsung terdengar sangat jelas.
"Kalau kamu mendengar kaset ini..."
Hadi berhenti sebentar, lalu terdengar tawa kecil. Bukan tawa bahagia. Lebih seperti seseorang yang sedang menertawakan nasibnya sendiri.
"...berarti aku benar-benar tidak berhasil."
Nadia menundukkan kepala. Ada sesuatu dalam nada suara itu yang belum pernah ia dengar sebelumnya. Bukan rasa takut atau kesedihan. Namun, kelelahan.
"Aku ingin meminta maaf. Bukan karena menyeretmu ke dalam semua ini. Melainkan karena aku sudah terlalu lama menyembunyikan sesuatu."
Nadia mengeratkan genggaman pada buku hariannya. Suara Hadi berlanjut.
"Kalau selama ini kamu merasa catatanku berantakan, itu bukan karena aku ceroboh. Bukan pula karena aku lupa memberi tanggal."
Hening beberapa detik.