Tidak semua musuh datang dengan wajah yang mudah dibenci. Sebagian justru menyambutmu dengan senyum yang tenang, mengucapkan kata-kata lembut, lalu perlahan meyakinkanmu bahwa kebohongan adalah satu-satunya cara untuk bertahan hidup.
Nadia baru memahami hal itu dua hari setelah mendengarkan kaset terakhir Hadi. Selama dua hari itu, ia nyaris tidak keluar rumah. Sebab seluruh kepingan penyelidikan yang selama ini berserakan akhirnya mulai menemukan tempatnya masing-masing.
Semuanya kini saling terhubung. Namun justru ketika hampir seluruh pertanyaan terjawab, satu ruang kosong tampak semakin jelas. Siapa yang memimpin semuanya?
Pak Karsa memang ikut menandatangani kesepakatan tiga puluh tahun lalu. Ia mengakuinya sendiri. Tetapi semakin Nadia mengingat setiap percakapan mereka, semakin ia yakin lelaki tua itu bukan orang yang mengambil keputusan. Pak Karsa selalu terdengar seperti seseorang yang menjalankan kewajiban. Bukan seseorang yang menciptakan aturan. Artinya masih ada orang lain. Seseorang yang selama ini cukup cerdas untuk tidak pernah tampil di garis depan.
Pagi itu, sebelum matahari benar-benar tinggi, sebuah amplop tanpa nama diselipkan di bawah pintu rumah Hadi. Nadia menemukannya ketika hendak menyapu teras. Tidak ada perangko dan alamat pengirim. Hanya selembar kertas putih yang dilipat menjadi dua. Tulisan di atasnya sangat singkat.
Datanglah ke balai desa. Sendirian. Kalau ingin mengetahui siapa yang memulai semuanya.
Tak ada tanda tangan. Tak terdengar seperti ancaman. Namun Nadia tidak perlu menebak siapa yang mengirimnya. Orang yang menulis surat itu tahu persis sejauh mana penyelidikannya telah berkembang. Dan hanya ada sedikit orang yang mengetahui hal tersebut.
Ia melipat kembali surat itu, memasukkannya ke saku, lalu memandang halaman rumah yang lengang. Entah mengapa, ia sama sekali tidak merasa terkejut. Seolah sejak awal ia memang tahu bahwa saat ini akan datang. Saat ketika pihak lain berhenti bersembunyi.
Balai desa tampak jauh lebih sunyi daripada biasanya. Tak ada rapat warga. Tak ada anak-anak yang bermain di halaman. Bahkan sepeda motor yang biasanya berjajar di pendopo hanya tinggal dua atau tiga.
Udara siang terasa berat. Mendung tipis menggantung rendah di langit, membuat cahaya matahari kehilangan ketajamannya. Nadia menaiki anak tangga pendopo dengan langkah tenang. Pintu ruang kepala desa terbuka.
"Masuk saja." Suara itu datang dari dalam. Tenang. Berwibawa.
Nadia mengenali suara tersebut. Selama berada di Karangwening, ia hanya beberapa kali berbincang dengan kepala desa. Lelaki itu lebih sering muncul sekilas dalam acara takziah atau kegiatan warga, lalu menghilang kembali ke balik kesibukan administratif.
Ia begitu biasa. Begitu tidak mencolok. Sampai-sampai Nadia hampir tidak pernah memasukkannya ke dalam daftar orang yang patut dicurigai. Kini ia menyadari, mungkin memang itulah tujuannya.
Ruangan itu tertata rapi. Rak-rak arsip memenuhi satu sisi dinding. Beberapa pigura penghargaan tergantung sejajar. Di belakang meja kerja yang besar duduk seorang lelaki berusia sekitar enam puluh tahun dengan rambut yang mulai memutih di pelipis.
Pak Lurah Surono.
Ia menutup map yang sedang dibacanya, lalu mempersilakan Nadia duduk.
"Terima kasih sudah datang." Nada bicaranya tetap santun. Seolah mereka hanya akan membahas urusan administrasi desa.
Nadia tidak langsung duduk. "Surat itu Bapak yang kirim?"
Pak Surono mengangguk. "Iya."
"Kenapa sekarang?"
Lelaki itu tersenyum tipis. "Karena sekarang kamu sudah tahu terlalu banyak."
Jawaban itu tidak terdengar seperti ancaman. Justru terlalu tenang. Dan itulah yang membuat Nadia semakin waspada.
Beberapa detik berlalu tanpa percakapan. Pak Surono menuangkan teh ke dua cangkir kecil. Satu didorong ke arah Nadia. Yang lain dibiarkannya di depan sendiri.
"Minum."
Nadia tidak menyentuhnya.
Pak Surono tersenyum lagi. "Masih curiga?"
"Harusnya begitu," jawab Nadia datar.
"Kalau tidak, ayahmu pasti kecewa."
Kalimat itu membuat tangan Nadia yang semula berada di atas lutut perlahan mengepal. "Bapak kenal ayah saya?"
"Sudah sangat lama. Lebih lama daripada yang kamu bayangkan."
Pak Surono memandang keluar jendela. "Dia pernah datang kemari. Berkali-kali. Setiap kali membawa pertanyaan yang sama. 'Kenapa kalian melakukan ini?'"
Lelaki itu tertawa kecil. "Dulu aku selalu berharap suatu hari dia menyerah. Tapi Hadi..."
Ia menggeleng pelan.
"...tidak pernah tahu cara berhenti."
"Jadi...." Suara Nadia terdengar pelan namun tegas. "Bapak memang bagian dari kelompok itu."
Pak Surono tidak segera menjawab. Ia justru mengambil sebuah map tua dari laci meja. Sampulnya kusam dan tanpa label. Ia meletakkannya di atas meja, tepat di antara mereka.
"Lihat."
Nadia membuka map itu perlahan. Di dalamnya terdapat beberapa lembar dokumen yang hampir seluruhnya kosong. Bekas tinta masih tampak samar di atas kertas, tetapi isi tulisan telah menghilang. Sama seperti buku harian Hadi yang perlahan memudar.