Malam Takziah

Marion D'rossi
Chapter #45

Pengkhianatan

Tidak ada pengkhianatan yang lebih menyakitkan daripada pengkhianatan yang dilakukan oleh seseorang yang masih ingin melindungimu. Saat itu Nadia belum memahami kenyataan tersebut. Yang ia lihat hanyalah Raka yang berdiri di sisi Pak Surono dengan diam. Tanpa membantah. Tanpa menjelaskan apa pun.

Pemandangan itu cukup untuk meruntuhkan sisa kepercayaan yang selama berminggu-minggu masih berusaha ia pertahankan. Semua kebohongan. Semua jejak kaki berlumpur. Dokumen yang dibakar. Kemunculan Raka di balai desa tengah malam. Semua yang selama ini tampak seperti teka-teki, tiba-tiba menemukan jawaban yang paling sederhana. Raka memang bagian dari mereka.

Nadia tidak mengucapkan sepatah kata pun. Ia hanya memandang Raka selama beberapa detik yang terasa begitu panjang. Lelaki itu balas menatapnya dengan sorot mata yang sama sekali tidak berubah. Masih tenang. Namun kali ini Nadia melihat sesuatu yang sebelumnya tak pernah ia sadari.

Kelelahan. Seperti kelelahan seseorang yang terlalu lama menyimpan beban. Tetapi saat itu Nadia tidak lagi peduli.

"Jadi..." Suara Nadia terdengar datar. "...selama ini kamu memang membohongiku."

Raka membuka mulut. "Nadia, aku bisa jelaskan—"

"Enggak usah." Nadia memotong. "Semua sudah jelas."

Ia menoleh kepada Pak Surono. "Terima kasih. Setidaknya sekarang aku tahu siapa yang benar-benar harus kuhadapi."

Tanpa menunggu jawaban, Nadia berbalik menuju pintu. Langkahnya cepat. Terlalu cepat. Seolah bila ia berhenti sedetik saja, seluruh amarah dan kekecewaan yang ditahannya akan berubah menjadi air mata.

"Nadia!" Suara Raka terdengar dari belakang.

Ia tidak berhenti. Anak tangga balai desa dituruninya, hampir berlari. Baru ketika sampai di halaman, langkah kaki lain menyusul di belakangnya.

"Nadia!" Tangan Raka berhasil meraih pergelangan tangannya.

Refleks Nadia melepaskan diri. "Jangan sentuh aku."

Nada suaranya tidak tinggi. Namun dinginnya cukup membuat Raka membeku. Beberapa warga yang melintas di jalan utama menoleh sekilas, lalu kembali melanjutkan langkah mereka. Tak seorang pun mendekat. Desa ini sudah terlalu terbiasa berpura-pura tidak melihat sesuatu.

"Nadia..." Raka mengembuskan napas panjang. "Dengarkan aku lima menit saja."

"Aku sudah terlalu sering mendengarkan kebohongan."

"Yang ini bukan."

Nadia tertawa pelan. Tawa yang sama sekali tidak mengandung kegembiraan. "Aneh ya. Semua orang di desa ini selalu bilang begitu. 'Yang ini bukan kebohongan. Yang ini demi kebaikan. Yang ini demi melindungi.'" Ia menggeleng. "Tapi hasilnya tetap sama. Semua orang memilih diam."

Raka tidak lagi mencoba mendekat. Ia berdiri beberapa langkah dari Nadia. Membiarkan jarak itu tetap ada.

"Aku memang membantu mereka," katanya akhirnya.

"Terima kasih," jawab Nadia cepat. "Itu saja yang perlu aku tahu. Tapi bukan karena aku setuju. Kamu pikir itu mengubah apa?"

Raka memejamkan mata. Seolah pertanyaan itu memang pantas diterimanya.

"Enggak," jawabnya lirih. "Enggak mengubah apa-apa. Tapi kamu tetap harus tahu."

Nadia tidak menjawab. Ia hanya menyilangkan kedua tangan di dada. Memberi isyarat bahwa ia akan mendengarkan. Tidak lebih.

"Ayahku..." Raka berhenti. Kalimat itu tampaknya jauh lebih sulit diucapkan daripada yang dibayangkannya. "...ikut malam itu."

Nadia mengangkat kepala.

"Malam tahun 1991," lanjut Raka. "Dia ada di Sendang Watu Ireng."

Suasana mendadak menjadi lebih sunyi. Bahkan angin sore yang tadi berembus perlahan terasa seolah berhenti.

"Ayahku... salah satu orang yang berlutut di sana." Suara Raka mulai bergetar. "Waktu aku kecil, aku enggak tahu apa-apa. Aku cuma tahu ayah sering mimpi buruk. Kadang bangun tengah malam sambil menyebut satu nama. Saraswati."

Nadia tidak lagi memotong. Ia mulai mendengar sesuatu yang tidak pernah muncul dalam semua kebohongan sebelumnya. Penyesalan.

"Setelah ayah meninggal..." Raka melanjutkan. "Pak Surono yang datang. Dia bilang, 'Sekarang giliran kamu.'"

"Giliran?"

"Menjaga rahasia keluarga." Raka tertawa hambar. "Aku bahkan belum paham rahasia apa. Tapi sejak hari itu, aku mulai dibawa ke pertemuan mereka. Disuruh mendengarkan. Disuruh menghafal. Disuruh percaya kalau semua ini dilakukan demi desa."

Tatapannya jatuh ke tanah.

"Aku mencoba percaya. Benar-benar mencoba. Tapi..." Ia menoleh kepada Nadia. "...semakin besar, aku semakin mirip Hadi."

Kalimat itu membuat Nadia sedikit mengernyit. Raka tersenyum pahit.

"Ayahmu pernah bilang, ‘Kalau suatu hari kamu mulai banyak bertanya, berarti kamu masih bisa diselamatkan.'"

Lihat selengkapnya