Rahasia yang paling sulit ditemukan bukanlah rahasia yang dikubur paling dalam, melainkan rahasia yang sengaja disimpan. Dirawat. Dijaga agar tidak pernah benar-benar musnah.
Malam itu, kalimat Raka terus terngiang di kepala Nadia.
"Sejarah yang gagal mereka hapus."
Jika ucapan itu benar, berarti selama tiga puluh tahun kelompok penjaga rahasia telah hidup dalam sebuah ironi. Mereka membakar arsip, mengganti nama desa, menghapus foto, memaksa orang-orang melupakan. Namun pada saat yang sama, mereka sendiri tidak pernah sanggup membuang seluruh bukti. Seolah sebagian dari diri mereka masih berharap akan ada seseorang yang suatu hari nanti menemukan semuanya.
Balai desa berdiri sunyi di bawah langit tanpa bulan. Bangunan itu tampak jauh berbeda dibanding siang hari. Dinding-dinding putihnya berubah kelabu diterpa cahaya lampu jalan yang redup. Tiang-tiang pendopo memanjang seperti bayangan orang-orang yang sedang berdiri diam mengawasi siapa pun yang datang.
Nadia mematikan mesin motornya beberapa puluh meter sebelum halaman balai desa. Ia dan Raka memilih berjalan kaki. Tidak ada percakapan. Masing-masing larut dalam pikirannya sendiri. Kepercayaan yang sempat runtuh memang belum sepenuhnya pulih. Namun Nadia sadar, untuk malam ini mereka memiliki tujuan yang sama. Mencari kebenaran terakhir.
"Ada penjaga malam?" bisik Nadia ketika bangunan balai desa mulai terlihat jelas.
Raka menggeleng. "Biasanya enggak."
"Biasanya?"
"Malam ini..." Ia menatap ke arah pendopo. "...aku enggak yakin."
Mereka berhenti di balik rumpun bambu yang tumbuh di sisi halaman. Dari sana, seluruh bagian depan balai desa tampak jelas. Lampu ruang kepala desa telah padam. Pendopo kosong. Tak terlihat satu pun kendaraan. Namun Raka belum bergerak.
"Ada apa?" tanya Nadia.
"Kalau Pak Surono memanggilmu siang tadi," jawab Raka lirih, "berarti dia pasti menduga aku akan melakukan ini."
Nadia mengerti maksudnya. Mereka mungkin sudah ditunggu.
Raka mengajak Nadia memutar ke bagian belakang bangunan. Jalan setapak yang mereka lewati dipenuhi daun-daun kering. Semak liar tumbuh hampir setinggi pinggang, menutupi sebagian dinding belakang balai desa.
Di sana terdapat sebuah gudang tua yang pernah dilihat Nadia beberapa kali. Gudang yang dahulu menjadi tempat Pak Karsa bertemu beberapa orang secara diam-diam. Raka berhenti di depan pintu, di sudut kiri bangunan. Ia berjongkok, lalu menyibakkan rerumputan yang menutupi bagian bawah tembok.
Nadia ikut berlutut. Di balik semak-semak itu tersembunyi sebuah pintu kayu kecil setinggi pinggang orang dewasa. Nyaris menyatu dengan dinding. Kalau tidak diberitahu, mustahil seseorang menyadari keberadaannya.
"Kuncinya," bisik Raka.
Nadia mengeluarkan kunci kuningan yang diberikan sore tadi. Logam tua itu terasa lebih dingin daripada sebelumnya. Tangannya sedikit gemetar ketika memasukkannya ke lubang kunci.
Klik.
Suara mekanisme besi tua terdengar pelan. Pintu itu terbuka beberapa senti. Aroma lembap yang bercampur bau kayu lapuk segera menyeruak keluar.
Di balik pintu kecil itu terdapat tangga batu yang menurun ke dalam tanah. Sangat gelap.
Raka segera menyalakan senter. Sorot cahayanya menembus lorong sempit yang tampaknya telah puluhan tahun tidak pernah tersentuh matahari.
"Dulu," bisiknya, "tempat ini gudang penyimpanan hasil bumi."
"Lalu?"
"Setelah tragedi diubah."
Mereka mulai menuruni tangga. Setiap pijakan menghasilkan bunyi lirih. Debu beterbangan setiap kali kaki mereka menyentuh anak tangga. Udara di bawah tanah jauh lebih dingin dibanding di luar. Dinding batu yang lembap dipenuhi lumut tipis. Sesekali terdengar tetesan air jatuh dari langit-langit lorong. Suara itu menggema panjang. Membuat tempat tersebut terasa jauh lebih luas daripada yang terlihat.
Tangga berakhir di sebuah lorong pendek. Di ujungnya berdiri pintu besi tua berwarna hitam. Tidak besar. Namun jauh lebih kokoh dibanding seluruh bangunan di atasnya.