Tidak ada luka yang lebih sulit diterima selain luka yang datang dari orang yang paling kita percaya. Nadia masih memandangi halaman terakhir buku notulen itu ketika kesunyian mulai memenuhi ruang bawah tanah. Nama itu tetap berada di sana.
Hadi Prasetyo.
Ditulis menggunakan tinta hitam yang mulai memudar dimakan usia, tetapi masih cukup jelas untuk dikenali. Lengkungan huruf H, sapuan panjang pada akhir nama belakangnya, bahkan tekanan pena yang sedikit lebih kuat di bagian tengah, semuanya persis seperti tanda tangan yang menghiasi puluhan halaman buku harian ayahnya.
Ia berharap menemukan kejanggalan. Satu garis yang berbeda. Satu huruf yang melenceng. Apa saja yang bisa membuktikan bahwa tanda tangan itu palsu. Namun semakin lama diperhatikan, semakin mustahil menyangkal kenyataan. Itu benar-benar tulisan Hadi. Ayahnya pernah berada di ruangan ini. Ayahnya pernah menghadiri rapat itu. Dan ayahnya pernah membubuhkan tanda tangan di bawah sebuah keputusan yang selama bertahun-tahun berusaha dihancurkannya.
"Nadia." Suara Raka terdengar hati-hati dari belakang.
Namun Nadia tidak menoleh. "Jangan."
Hanya satu kata yang diucapkan pelan. Tetapi cukup untuk membuat Raka mengurungkan niat mendekat. Ruangan kembali sunyi. Lampu minyak di atas meja bergoyang pelan diterpa embusan udara dari lorong, membuat bayangan rak-rak arsip bergerak perlahan di sepanjang dinding batu. Bayangan itu mengingatkan Nadia pada sesuatu. Pada malam-malam ketika Hadi duduk sendirian di ruang kerjanya.
Menulis, menghapus, menulis lagi. Selama ini ia selalu membayangkan ayahnya sebagai seseorang yang sejak awal berdiri di sisi yang benar. Seseorang yang tidak pernah goyah. Yang terus melawan ketika semua orang memilih diam. Namun kenyataan yang berada di hadapannya kini jauh lebih rumit. Jauh lebih manusiawi. Dan justru karena itulah terasa begitu menyakitkan.
Dengan jemari yang gemetar, Nadia membalik halaman sebelumnya. Mungkin ada penjelasan. Mungkin ada catatan tambahan. Namun yang ditemukannya hanyalah bahasa-bahasa resmi yang dingin.
Keputusan disetujui. Seluruh peserta menyatakan sepakat. Pelaksanaan dilakukan secepatnya.
Tak ada satu pun kalimat yang mencerminkan keraguan. Tak ada catatan keberatan. Tak ada tanda bahwa seseorang pernah menolak. Nama Hadi berada di sana. Seolah ia memang jadi bagian dari mereka.
"Kenapa," bisik Nadia. Entah kepada dirinya sendiri. Entah kepada ayahnya. "Kenapa, Pak...?"
Kalimat itu menggantung di udara. Tak ada yang menjawab. Hanya bunyi tetesan air dari langit-langit ruang bawah tanah yang terus terdengar dengan ritme lambat.
Raka akhirnya memberanikan diri mendekat. "Aku juga kaget waktu pertama kali lihat itu."
Nadia tertawa pelan. Tawa yang terdengar lebih seperti helaan napas yang patah.
"Kaget?" Ia menggeleng. "Aku bukannya kaget. Aku..."
Kalimatnya terputus. Butuh beberapa detik sebelum ia mampu melanjutkannya.
"...aku marah."
Ia menutup buku notulen itu dengan sedikit lebih keras daripada yang dimaksudkannya. Suara benturan sampul menggema di seluruh ruangan.
"Selama ini aku memperjuangkan nama bapakku. Percaya semua yang dia tinggalkan. Percaya dia berbeda." Nadia menatap lurus ke arah Raka. "Lalu sekarang aku menemukan ini."
Ia menunjuk halaman terakhir buku notulen. "Jelaskan padaku, bagaimana aku harus memahami semua ini?"
Raka tidak segera menjawab. Ia hanya memandang nama Hadi cukup lama. Seolah pertanyaan itu juga selama ini menghantuinya.
"Bapakmu pernah bilang," ucap Raka akhirnya, "kalau suatu hari kamu menemukan tanda tangan itu, jangan langsung membencinya."
Nadia mengangkat kepala. "Bapak bilang begitu?"
Raka mengangguk pelan. "Waktu itu aku juga bertanya, 'Kalau memang Om Hadi menolak, kenapa tanda tangannya ada di sana?'"