Tidak ada tragedi yang lahir dalam satu malam. Yang terjadi pada malam itu sesungguhnya telah dimulai jauh sebelumnya—bertahun-tahun sebelumnya—ketika rasa takut perlahan diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya, sampai akhirnya tidak ada lagi yang mampu membedakan mana keyakinan dan mana ketakutan.
Di antara rak-rak kayu yang dipenuhi debu, terdapat sebuah kotak besi berukuran kecil. Berbeda dengan arsip lainnya, kotak itu tidak diberi label. Permukaannya dipenuhi bercak karat, tetapi gemboknya telah lama dilepas.
Raka mengangkatnya perlahan. "Ini bukan bagian dari arsip desa," bisiknya.
"Lalu?"
"Bapakku pernah bilang, kotak ini hanya boleh dibuka kalau semuanya sudah terlambat."
Nadia menatap kotak itu beberapa saat. Tak ada alasan logis mengapa sebuah benda sekecil itu terasa begitu berat.
Ia membuka tutup kotak tersebut. Engselnya mengeluarkan bunyi lirih. Di dalamnya hanya ada tiga benda. Sebuah gulungan pita rekaman, beberapa lembar berita acara yang telah menguning, dan sebuah buku catatan tipis bersampul kain biru.
Bukan milik Hadi. Di sudut sampulnya, masih tertulis nama menggunakan tinta yang telah memudar.
Saraswati.
Napas Nadia tertahan. Ia mengangkat buku itu dengan kedua tangan. Sampulnya jauh lebih sederhana dibanding buku harian Hadi. Ini hanya buku tulis biasa yang mungkin dibeli di toko kecil desa tiga puluh tahun silam. Begitu dibuka, aroma khas kertas tua memenuhi udara. Tulisan di halaman pertama sangat rapi. Huruf-hurufnya kecil, tetapi tegas.
"Hari pertama di Karanganyar. Anak-anak di sini luar biasa ramah. Semoga aku bisa menjadi guru yang baik."
Nadia tersenyum tipis. Sulit membayangkan bahwa pemilik tulisan itu kelak akan menjadi pusat dari seluruh misteri yang sedang dihadapinya.
Ia membalik beberapa halaman. Catatan-catatan awal dipenuhi kisah sederhana. Tentang murid-murid yang berebut membawakan tasnya. Tentang sawah yang menguning. Tentang ibu-ibu yang selalu mengirim makanan ke rumah dinas guru. Tentang desa yang damai. Tak ada sedikit pun bayangan tragedi. Seolah kehidupan benar-benar berjalan sebagaimana mestinya. Namun perlahan, nada tulisan itu berubah.
Di sebuah halaman bertanggal pertengahan Juli 1991, Saraswati menulis lebih pendek daripada biasanya.
"Hari ini seorang murid bertanya kenapa tidak boleh bermain di Sendang Watu Ireng. Sebelum sempat kujawab, guru lain langsung mengalihkan pembicaraan."
Halaman berikutnya.
"Pak Lurah bilang sendang itu angker. Tapi aneh. Orang-orang yang bilang tempat itu angker, justru sering pergi ke sana saat malam."
Nadia dan Raka saling berpandangan. Inilah awalnya. Rasa ingin tahu Saraswati. Hal yang tampak begitu sederhana. Namun justru mengubah seluruh hidupnya.
Semakin mendekati halaman-halaman terakhir, tulisan Saraswati berubah semakin tidak teratur. Beberapa kalimat dicoret. Ada noda air yang telah mengering di atas kertas. Entah air hujan. Atau entah air mata.
Pada salah satu halaman tertulis,
"Mereka semua berbohong."
Di bawahnya.
"Bukan karena jahat. Karena takut."
Nadia terdiam. Kalimat itu hampir sama dengan kesimpulan Hadi puluhan tahun kemudian. Dua orang yang berbeda. Dua zaman yang berbeda. Namun akhirnya sampai pada pemahaman yang sama.
Raka membuka berita acara yang berada di dasar kotak. Berbeda dengan notulen rapat yang mereka baca sebelumnya, dokumen ini ditulis beberapa hari sebelum tragedi. Judulnya singkat.
Persiapan Sedekah Sendang.
Namun isi pembahasannya membuat Nadia mengernyit. Tidak ada pembicaraan mengenai hasil bumi. Tidak ada daftar konsumsi. Yang dibahas justru sesuatu yang jauh lebih aneh.
"Berdasarkan hasil musyawarah adat, malam pelaksanaan harus dilakukan sesuai tata cara lama. Seluruh peserta wajib hadir. Tidak boleh ada orang luar yang mengetahui prosesi."
Orang luar. Saraswati langsung terlintas di benak Nadia. Sebagai guru honorer yang baru ditempatkan di Karanganyar, ia bukan bagian dari warga asli. Artinya, sejak awal ia memang tidak seharusnya melihat ritual itu.
Nadia kembali membuka buku Saraswati. Kini hanya tersisa beberapa halaman. Tulisan tangannya tampak semakin tergesa.