Malam Takziah

Marion D'rossi
Chapter #49

Ingatan yang Kembali

Fajar belum benar-benar muncul ketika lonceng kecil di serambi rumah Hadi bergoyang pelan diterpa angin. Nadia telah terjaga sejak satu jam sebelumnya. Tak ada lagi kegelisahan yang membuatnya mondar-mandir seperti malam-malam sebelumnya. Setelah membaca seluruh arsip, mendengarkan semua rekaman, dan mengetahui akhir kisah Saraswati, perasaannya justru berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih tenang.

Tenang, tetapi mantap. Seluruh jalan yang selama ini berliku akhirnya mengarah pada satu tujuan yang tak lagi dapat dihindari. Di atas meja ruang kerja, seluruh bukti telah tersusun rapi. Semua yang selama tiga puluh tahun disembunyikan kini berkumpul di satu tempat.

Nadia memandang tumpukan arsip itu cukup lama. Ia teringat satu kalimat yang ditulis Hadi di halaman awal buku hariannya.

"Kebenaran tidak membutuhkan orang yang paling berani. Ia hanya membutuhkan seseorang yang tidak lagi bersedia berpaling."

Selama ini Nadia mengira ayahnya sedang berbicara tentang dirinya sendiri. Kini ia tahu kalimat itu ditujukan kepada siapa pun yang suatu hari melanjutkan perjuangannya.

Raka datang ketika langit mulai berubah kelabu. Tak ada sapaan. Tak ada basa-basi. Ia hanya berdiri di ambang pintu sambil membawa dua tas kanvas besar.

"Kita enggak bisa bawa semuanya pakai tangan," katanya pelan.

Nadia mengangguk. Mereka mulai memasukkan arsip satu demi satu. Setiap map dibungkus kain agar tidak rusak. Foto-foto lama diselipkan di antara lembaran karton. Kaset-kaset dibungkus koran bekas. Tak satu pun benda ditinggalkan. Masing-masing memiliki tempat dalam kisah yang sebentar lagi akan disampaikan. Raka memperhatikan buku harian Saraswati yang masih berada di atas meja.

"Kamu yakin mau membawanya?"

"Tidak," jawab Nadia jujur. "Aku takut."

"Lalu kenapa tetap dibawa?"

Nadia mengangkat buku itu perlahan. Karena ia tahu inilah benda yang paling ditunggu oleh seseorang selama tiga puluh tahun.

"Karena namanya harus pulang."

Raka tidak menjawab. Namun ia mengangguk pelan. Tak ada lagi keraguan di antara keduanya. Mereka mungkin belum sepenuhnya memulihkan kepercayaan. Tetapi kini mereka berdiri di tujuan yang sama.

Kabut tipis masih menggantung di atas pematang sawah. Burung-burung liar mulai keluar dari sarangnya, memenuhi udara dengan suara-suara yang terasa jauh lebih hidup dibanding hari-hari sebelumnya. Perjalanan menuju Sendang Watu Ireng terasa berbeda. Jalan setapak yang dahulu selalu berubah kini tetap berada di tempatnya. Pepohonan tidak lagi tampak seperti tembok yang menyesatkan. Hutan seolah telah berhenti menyembunyikan dirinya. Atau mungkin karena tak ada lagi yang perlu disembunyikan.

Sesampainya di gapura batu tua, Nadia menghentikan langkah. Tulisan SENDANG WATU IRENG tampak lebih jelas dibanding sebelumnya. Lumut yang menutupinya mulai mengering. Batu-batu tua yang dahulu tampak kelabu kini memantulkan cahaya pagi dengan warna yang lebih hangat. Tempat itu terasa berbeda karena Nadia kini datang tanpa membawa pertanyaan. Ia datang membawa jawaban.

"Di sini," bisiknya.

Raka meletakkan kedua tas di atas batu datar yang menghadap langsung ke sendang. Mereka mulai mengeluarkan seluruh arsip. Satu per satu disusun berjajar. Seperti sebuah pameran kecil yang dipersembahkan kepada masa lalu. Foto-foto Karanganyar diletakkan paling depan. Di sebelahnya buku notulen, lalu buku harian Saraswati, kaset Hadi, surat-surat, peta, daftar korban. Semua menghadap ke arah mata air.

Nadia tidak tahu mengapa ia melakukannya. Namun rasanya memang begitulah seharusnya.

"Sudah dimulai rupanya." Suara itu datang dari balik pepohonan. Nadia dan Raka menoleh bersamaan. Pak Surono keluar lebih dulu dari balik kabut. Di belakangnya berjalan Pak Karsa. Lalu beberapa lelaki yang selama ini dikenal sebagai kelompok penjaga rahasia.

Tak seorang pun membawa senjata. Tak seorang pun berteriak. Mereka hanya berjalan perlahan dengan wajah yang jauh lebih lelah daripada marah. Pak Surono berhenti beberapa meter dari Nadia. Tatapannya jatuh pada arsip-arsip yang telah tersusun di tepi sendang.

"Jadi...," katanya lirih, "...akhirnya kamu memilih jalan bapakmu."

Nadia tidak menjawab. Pak Surono menghela napas panjang. "Masih belum terlambat." Ia melangkah satu langkah mendekat.

"Kalau semua itu tetap berada di sini, kami masih bisa menyelamatkan desa."

"Desa yang mana?" tanya Nadia tenang.

"Karangwening? Atau..." Ia memandang lurus ke mata Pak Surono. "...Karanganyar?"

Lelaki tua itu membeku. Hanya sesaat. Namun cukup untuk menunjukkan bahwa nama itu masih hidup di dalam ingatannya.

Tak lama kemudian, suara langkah lain mulai terdengar dari jalan setapak. Puluhan derap langkah. Nadia menoleh. Warga desa mulai berdatangan. Ada yang berjalan tergesa. Ada yang masih mengenakan caping. Ada ibu-ibu yang belum sempat melepas celemek dapur. Beberapa remaja. Anak-anak. Pak Hasan. Bu Rukmini. Mbah Wiryo yang dipapah dua orang. Entah siapa yang memberitahu mereka. Entah bagaimana kabar itu menyebar. Namun pagi itu hampir seluruh Karangwening berkumpul di Sendang Watu Ireng.

Mereka memandang bingung tumpukan arsip yang terbentang di tepi mata air, lalu memandang Nadia. Tak ada yang berbicara. Yang terdengar hanya gemericik air sendang dan desir angin yang memainkan dedaunan. Nadia menarik napas dalam. Tangannya perlahan mengambil buku harian Saraswati.

Ia tahu, setelah kata pertama terucap, tak akan ada lagi jalan untuk kembali.

Lihat selengkapnya