Malam Takziah

Marion D'rossi
Chapter #50

Malam Takziah

Pada akhirnya, yang bertahan bukanlah rasa takut, tapi cerita. Ketakutan dapat diwariskan selama puluhan tahun. Ia dapat mengubah nama sebuah desa, membakar arsip, menghapus wajah dari foto-foto lama, bahkan membuat orang melupakan mereka yang pernah hidup di sisinya. Namun cerita memiliki cara yang jauh lebih sabar. Ia menunggu di sela halaman buku yang menguning, di balik dinding rumah tua yang nyaris roboh, di dalam kaset yang terus menyimpan suara seseorang meski pemiliknya telah lama tiada, dan ketika akhirnya ada satu orang yang bersedia mendengarkan, cerita itu akan hidup kembali.

Empat bulan telah berlalu sejak pagi ketika seluruh warga berkumpul di Sendang Watu Ireng. Musim telah berganti. Sawah-sawah yang dahulu menguning kini kembali menghijau. Air mengalir tenang di pematang, memantulkan langit yang bersih setelah hujan semalam. Burung-burung pipit turun berkelompok, mematuki bulir-bulir padi yang mulai tumbuh, sementara para petani bercanda dari kejauhan seolah desa itu tak pernah menyimpan luka. Namun Nadia tahu, luka itu tidak hilang. Ia hanya akhirnya diterima. Dan ada perbedaan besar antara melupakan luka dengan belajar hidup bersamanya.

Di tepi jalan utama desa, papan nama baru berdiri tegak. Kayunya masih tampak segar. Cat hijau tua yang melapisi permukaannya belum memudar oleh panas matahari. Huruf-huruf putih di atasnya terlihat sederhana. Namun bagi sebagian orang, tulisan itu lebih berharga daripada monumen sebesar apa pun.

SELAMAT DATANG DI DESA KARANGANYAR

Tak ada upacara besar ketika papan itu dipasang. Tak ada pidato. Tak ada perayaan. Hanya beberapa warga yang datang membawa cangkul dan semen, mencabut papan lama, lalu menegakkan papan yang baru di tempat yang sama. Saat nama itu kembali berdiri di tepi jalan, sebagian orang menangis. Sebagian hanya memandanginya lama sekali. Seolah sedang menyapa seorang sahabat yang baru pulang setelah menghilang bertahun-tahun.

Perubahan tidak datang sekaligus. Ia tumbuh perlahan, seperti benih yang akhirnya memperoleh cukup cahaya. Balai desa kini memiliki satu ruangan kecil yang sebelumnya tak pernah ada. Di atas pintunya tergantung papan bertuliskan: Ruang Arsip Sejarah Desa Karanganyar.

Semua dokumen yang ditemukan di ruang bawah tanah telah dipindahkan ke sana. Foto-foto lama dibersihkan dengan hati-hati. Peta-peta tua direntangkan kembali. Kaset-kaset Hadi disalin ke bentuk digital agar suaranya tidak hilang dimakan usia. Notulen rapat tahun 1991 tetap disimpan agar generasi berikutnya mengetahui betapa mudahnya manusia kehilangan dirinya sendiri ketika membiarkan rasa takut mengambil alih nurani.

Pak Hasan menjadi orang yang paling sering menjaga ruangan itu. Setiap kali ada anak sekolah datang berkunjung, ia selalu membuka album foto pertama, lalu berkata dengan suara pelan, "Sejarah bukan hanya tentang orang-orang yang menang. Tetapi juga tentang mereka yang pernah memilih jalan yang salah, lalu berani mengakuinya."

Sendang Watu Ireng pun berubah. Bukan menjadi tempat wisata. Bukan pula lokasi yang dipenuhi kios dan keramaian. Warga sepakat membiarkannya tetap sederhana. Jalan setapak dibersihkan. Gapura batu tua diperkuat agar tidak runtuh. Beberapa papan kayu dipasang di sepanjang jalur menuju mata air. Di sana tertulis kisah singkat mengenai sejarah desa mengenai Karanganyar. Mengenai penghapusan. Dan mengenai seorang guru honorer yang dahulu datang membawa mimpi-mimpi sederhana untuk mengajar anak-anak desa.

Tak ada kalimat yang dilebih-lebihkan. Tak ada legenda yang ditambah-tambahkan. Hanya kenyataan karena setelah semua yang terjadi, kenyataan saja sudah cukup menyakitkan sekaligus cukup berharga.

Beberapa puluh meter dari sendang, di bawah rindangnya pohon sawo tua, kini berdiri sebuah makam sederhana. Nisannya terbuat dari batu andesit berwarna abu-abu yang tak tinggi. Tak pula dihiasi ukiran yang rumit. Hanya satu nama terpatri dengan huruf-huruf yang dipahat dalam.

SARASWATI

Guru

1967–1991

Di bawah nama itu terdapat sebaris kalimat yang diusulkan sendiri oleh Mbah Wiryo, lalu disetujui seluruh warga desa.

"Ia tidak meminta dikenang sebagai pahlawan. Ia hanya ingin tidak dilupakan."

Hampir setiap minggu selalu ada bunga segar di atas makam itu. Kadang melati. Kadang kenanga. Kadang hanya setangkai bunga liar yang dipetik anak-anak sepulang sekolah. Tak seorang pun tahu siapa yang rutin meletakkannya. Dan tak ada yang merasa perlu mencari tahu. Yang penting tak pernah lagi ada hari ketika makam itu dibiarkan kosong.

Sementara itu, rumah Hadi tetap berdiri di tempatnya. Tidak banyak yang berubah. Meja kayu di ruang kerja masih berada di sudut yang sama. Tape recorder tua masih tersimpan rapi di dalam lemari. Namun satu hal kini berbeda. Di atas meja itu tidak lagi berserakan lembaran-lembaran catatan yang belum selesai. Sebagai gantinya, bertumpuk rapi naskah yang dijilid sementara. Halaman demi halaman disusun berdasarkan urutan waktu.

Buku harian Hadi, catatan Saraswati, rekaman kaset, arsip desa, kesaksian warga. Seluruhnya dipadukan menjadi satu naskah utuh. Sudah berbulan-bulan Nadia mengerjakannya. Kadang sampai larut malam. Kadang berhenti berjam-jam hanya karena satu kalimat dalam kaset Hadi kembali mengingatkannya pada sosok ayah yang selalu duduk di kursi itu.

Di halaman pertama naskah tersebut, Nadia tidak menuliskan namanya sebagai penulis. Ia hanya menulis satu kalimat pendek.

Berdasarkan catatan Hadi Prasetyo, dan mereka yang memilih untuk akhirnya mengingat.

Nadia menutup perlahan halaman itu.

Di luar jendela, matahari sore mulai condong ke barat. Cahayanya masuk melalui kisi-kisi kayu, jatuh membentuk garis-garis panjang di lantai ruang kerja. Ia mengusap pelan sampul naskah itu, lalu tersenyum.

Beberapa luka memang tidak pernah benar-benar hilang. Namun kini ia tahu, luka yang diceritakan akan berubah jadi pelajaran. Sedangkan luka yang disembunyikan hanya akan mencari cara untuk terulang kembali.

Nadia mengambil naskah itu ke dalam pelukannya. Hari ini, ada satu tempat lagi yang harus ia datangi. Tempat seseorang yang sejak awal telah mempercayainya, bahkan ketika dirinya sendiri belum percaya bahwa ia mampu menyelesaikan perjalanan ini.

Lihat selengkapnya