POV HADI
Ada banyak hal yang sengaja tidak kutulis di dalam buku harianku. Bukan karena aku takut. Justru karena aku terlalu lama mencarinya. Dan setelah hampir tiga puluh tahun, aku menyadari bahwa tidak semua jawaban harus dimiliki manusia.
Kalau kau membaca halaman ini, berarti Nadia berhasil. Atau mungkin berarti seseorang setelah Nadia masih cukup peduli untuk membuka lembaran terakhir buku ini. Kalau memang begitu, izinkan aku menceritakan satu hal yang bahkan tidak pernah kuberitahukan kepadanya.
Aku pernah bertemu lelaki berbaju lurik itu.
Itu terjadi jauh sebelum aku jatuh sakit. Jauh sebelum kaset pertama kurekam. Saat itu penyelidikanku baru berjalan beberapa tahun. Aku sudah menemukan bahwa nama Karanganyar pernah ada. Aku sudah mengetahui tentang Saraswati. Aku sudah mendengar bisik-bisik mengenai Sendang Watu Ireng. Tetapi aku belum memahami mengapa semuanya terus menghilang. Aku ingin mencari jawaban, maka aku pergi sendiri.
Aku sampai di sendang menjelang malam. Kabut turun sangat pelan. Airnya tenang. Begitu tenang hingga terasa seperti selembar kaca hitam. Aku duduk di tepinya berjam-jam. Tidak terjadi apa-apa. Sampai akhirnya aku mendengar seseorang berbicara.
"Bukankah kau sudah terlalu lama mencari?"
Suara itu datang dari belakangku. Ketika aku menoleh, lelaki itu telah berdiri di sana.
Baju lurik, celana hitam, tanpa alas kaki.
Usianya… aku tidak tahu. Wajahnya tidak tua. Tetapi juga tidak muda. Kalau sekarang kau memintaku menggambarnya, aku tidak akan mampu. Setiap kali mencoba mengingat wajahnya, yang kuingat hanya pakaiannya.
"Apa yang sebenarnya terjadi di desa ini?" tanyaku waktu itu. Ia tidak menjawab. Sebagai gantinya, ia mengambil segenggam air dari sendang, kemudian membiarkannya jatuh kembali.