" Hidup itu seperti bersepeda. Agar tetap seimbang, kamu harus terus bergerak."
(Albert Einstein)
Lantai keramik putih gading itu menjadi tempatnya bertumpu sejak dua jam yang lalu, dinginnya langsung menyusup masuk melewati pori-pori telapak kaki, memberikan sensasi aneh dan sedikit basah di kaki telanjang nya. Dia mulai lelah dan lapar, sebab sejak dibawa kesini dia nyaris belum memasukkan barang secuilpun makanan kedalam mulutnya.
Apakah dia harus meminta makanan kepada petugas agar tidak mati konyol disini, dia menggeleng pelan, tentu saja dia belum akan mati hanya karena sehari semalam tidak makan bukan, dia bahkan sebelumnya bisa menahan ini lebih dari sehari.
"Maleo!" Seorang petugas menyebut namanya, petugas berwajah bulat dengan alis mata lebat dan mata besar, membuat pria itu persis seperti burung hantu. "Ikut saya."
Maleo berdiri tegap, agak bingung lalu berjalan mengikuti si bapak burung hantu, mereka berjalan menyusuri koridor gedung perkantoran Lapas Anak kemudian berbelok menuruni tangga, melewati lapangan volli dan berhenti di pos penjagaan.
"Tahanan baru." Bapak yang mengajak Maleo tadi, berbicara ke petugas pos yang ada disana.
Netra Maleo menatap nanar pada setiap objek yang tertangkap oleh lensa matanya, dia dapat melihat pos penjaga berada ditengah-tengah deretan gedung beratap biru membentuk huruf U, dan didepannya dipasang trali panjang.Setiap gedung memiliki nama tersendiri yang ditempel diatas pintu masuk. Dibelakang gedung berdiri kokoh dinding beton setinggi 3-4 meter dengan kawat besi tepat diatasnya, beraliran listrik mungkin. Akan sulit untuk melarikan diri dari sini.
Maleo dibawa ke gedung paling ujung yang bertuliskan blok D.I Panjaitan, beberapa anak seumurannya melongok ingin tahu.
"Ini tempat kamu yang baru, baik-baik disini, ikuti aturan yang ada, jangan berkelahi." Si bapak burung hantu yang mengantar Maleo tadi menepuk-nepuk pundaknya pelan, diikuti anggukan kecil dari Maleo.
Maleo mengiringi kepergian si bapak lewat ekor matanya dari balik jeruji besi sampai punggung bapak itu mengecil dan menghilang. Belum sempat Maleo berbalik, bahunya sudah di tepuk keras dari belakang.
"Anak baru? Kasus apa?"
Maleo meringis dan mundur selangkah "Maling bang." Jawabnya pelan.
Anak yang menanyai Maleo tertawa," maling apa?"
"Maling hp bang."
"Di mana?"
"Di kosan orang."
"Udah sering maling?"
Maleo menggeleng, dia belum pernah mencuri sebelumnya, tidak ada niat sama sekali untuk mencuri, tapi saat dia lewat di gang sempit tempat kos kosan anak sekolah di jalan yang sering ia lewati itu, matanya langsung melihat ponsel yang tercolok casan di dekat pintu yang terbuka, sepi, tidak ada orang, dan ponsel itu pun tersenyum padanya, seolah merayunya untuk minta diambil. Betul sekali kata bang Napi, kejahatan terjadi bukan karena ada niat tapi karena ada kesempatan, waspadalah waspadalah!!!!
Maleo ada kesempatan walaupun tidak ada niat, ternyata niat untuk melakukan kejahatan bisa muncul belakangan. Setelah tangannya memegang hp tersebut, niatnya baru muncul untuk sebaiknya membawa kabur sang ponsel.