"Ketika kita tak bisa mengubah keadaan, kita ditantang untuk mengubah diri sendiri."
(Viktor E. Frankl)
Suara tetes air hujan yang jatuh menimpa kaleng cat tempat penampungan air itu, terasa begitu mengganggu ruang pendengaran. Preno mendengus kesal, melongok ke arah kaleng cat yang isinya baru seperempat, kalengnya berada diluar kamar, tapi berisiknya sampai ke dalam.
Ia menghisap darah yang belum kering dari sudut bibirnya, dia baru saja dipukuli petugas. Bibirnya berdarah, punggungnya lebam dan badannya sakit semua. Ini gara-gara si anak baru bernama Maleo. Anak itu pingsan setelah minum kopi pemberian nya, padahal itu bukan kopi sianida, itu kopi yang di campur Downy, iya Downy salah satu merek pengharum pakaian.
Baginya tidak terlalu berbahaya. Preno beberapa kali meminumnya, tidak terjadi apa-apa, minuman hasil racikannya sendiri, ciptaan nya yang spektakuler, minuman yang membuat ruangan berputar-putar padahal kepala diam, minuman yang membuat sedikit mual tapi enak. Sekali lagi Preno meringis menahan sakit, dia sekarang berada di ruang isolasi, sendiri. Sementara Maleo sudah dibawa ke klinik Lapas oleh petugas.
Semua panik saat anak baru itu jatuh tak sadarkan diri, Arif langsung berteriak minta tolong ke petugas jaga, hujan lebat membuat teriakan Arif tertelan angin, Reno memukul mukul trali besi yang mengurung mereka. Semuanya hampir frustasi, tapi untunglah ada dua orang petugas jaga yang sedang patroli melewati blok hunian mereka.
" Pak, tolong pak, ada yang pingsan.!!!"
"Pingsan kenapa?"
"Gak tau pak, tiba-tiba dia jatuh." Jawab Zul cepat.
Petugas membuka pintu trali dan melihat Maleo sudah tergeletak tak berdaya di lantai, wajahnya seperti kapas, dan sedingin es. Sementara cangkir kopi tercecer disamping tubuhnya. Belum ada yang mau mengakui seperti apa kronologi kejadian, semua bungkam.
Maleo langsung di angkat dan dibawa ke ruangan klinik Lapas. Dua orang petugas mengangkat dibagian kepala dan badan , dibantu Arif, Reno dan Zul dibagian tungkai kaki. Mereka membawa Maleo melewati lorong selasar blok hunian, menaiki undakan tangga, menembus hujan yang cukup lebat membelah lapangan volly untuk sampai di klinik.
Salah satu petugas mengambil cangkir dilantai, mendekatkan cangkir itu ke hidungnya, keningnya langsung berkerut dalam. Dia melirik ke arah Preno, "Apa yang terjadi?"
Preno diam, menunduk sambil memainkan jari- jemarinya yang saling bertautan, matanya tidak fokus, dia berusaha menghitung petak ubin namun gagal, pak petugas sekali lagi bertanya, kali ini Preno cukup berani untuk menatap petugas namun tak berselang ia kembali menunduk dan diam.