MALEO

Gusmandora
Chapter #3

Alasan Untuk Tetap Hidup

"Siapa yang punya alasan untuk hidup, akan mampu menghadapi hampir semua keadaan."

(Friedrich Nietzsche)


"Maleo...Maleo..."

Maleo membuka mata perlahan ketika samar-samar namanya disebut. Ia memicingkan mata berusaha menyesuaikan sinar lampu yang menyala terang diruangan itu. Ruangan berbau aneh yang sama yang ia jumpai di puskesmas saat mengantar neneknya mengambil obat dulu.

Tubuhnya lemah seperti baru saja tersedot kedalam pusaran besar tak berdasar dan dia berputar-putar disana, membuat nya lagi-lagi mual. Maleo kembali menutup matanya, perutnya seperti terbakar, pedih dan panas. Ingin sekali ia memuntahkan apa saja yang ada didalam sana, dan benar, tak lama dia memuntahkan isi perutnya termasuk kopi sialan yang diberikan kepala kamar tadi. Mulutnya penuh cairan muntahan dan berbau sabun.

"Ayo muntahkan semua." Bapak petugas yang mengantarnya tadi memijit lehernya, membuat Maleo terus memuntahkan isi perutnya yang hanya berisi air putih dan kopi sabun, tidak ada sisa makanan sama sekali yang keluar, karena memang tidak ada makanan didalam perutnya dan ini benar-benar menyiksa.

Dua orang ibu-ibu berseragam sudah menusuk punggung tangannya dengan jarum, memasangkan selang dari botol berisi entah air apa yang tergantung di atas tempat tidurnya itu. Mereka juga memasukkan cairan yang disuntikkan ke dalam selang.

Maleo terbaring tak berdaya, muntahnya telah berhenti dan mualnya juga berkurang meski belum hilang sepenuhnya, matanya menatap air yang menetes jatuh satu satu dan masuk ke selang dan mengalir perlahan ke tangannya itu. Menggenaskan sekali, Maleo jadi teringat neneknya. Sejak ditangkap dan dibawa ke kantor polisi, dia belum bertemu nenek. Neneknya pasti khawatir, tidak ada yang tau kalau dia sudah ditangkap dan mendekam disini. Bagaimana cara memberitahu kalau dia sudah berada disini, dia tidak terfikir untuk meminta tolong pada polisi yang menangkapnya, setidaknya mengabari nenek kalau dia ditangkap polisi, nenek pasti sudah mencarinya kemana- mana. Dia ditangkap kemarin siang, oleh polisi langsung dibawa ke Lapas sebab sel di Polres masih dalam pembangunan, hingga Maleo dan beberapa tahanan anak lainnya langsung dititip ke Lapas ini. Dia dan nenek tidak memiliki ponsel yang bisa mereka gunakan untuk bertukar kabar dan mereka juga tidak memiliki tetangga yang benar- benar peduli. Siapa yang peduli kalau dia tidak pulang kemarin dan hari ini? Maleo bisa membayangkan wajah tua neneknya yang cemas.

Maleo terduduk saat suara gorden dibuka, rupanya hari sudah pagi.

"Bagaimana, udah enakan belum?" Ibu yang kemarin malam sudah berganti baju berdiri di sisi ranjangnya.

Jujur Maleo sangat lapar, ia ingin mengatakan kalau dia lapar tapi yang keluar malah erangan. Seperti mengerti, si ibu keluar dan kembali lagi dengan mangkuk berisi bubur.

"Makan dulu setelah itu minum obatnya."

Maleo langsung menyambar mangkuk itu, tak perlu dikunyah. Buburnya tidak panas dan belum dingin juga sehingga bisa langsung ditelan. Dengan sedikit malu, Maleo meletakkan mangkuk kosong ke atas meja setelah tidak sampai 5 menit dia membuat mangkuk itu bersih, apakah setiap tahanan disini diberi bubur setiap pagi? sungguh enak sekali.

Anak laki-laki berwajah pucat yang tadi malam ikut menggotongnya kesini masuk sambil memegang sapu, dia mendekati Maleo." Udah enakan belum?" Dia menyisiri wajah Maleo.

Maleo mengangguk, Maleo lupa siapa nama anak ini, tapi dia baik setidaknya tidak seperti kepala kamar mereka yang memaksanya minum kopi Downy.

Zul meneliti wajah si anak baru, masih pucat tapi tidak sepucat malam tadi saat mereka membawa anak ini ke klinik. Hari ini Zul ada jadwal piket membersihkan klinik, setiap yang piket akan dikeluarkan lebih pagi dari blok hunian, biasanya terdiri dari 6-8 anak. Mereka bertugas membersihkan setiap ruangan dengan diawasi petugas keamanan. Setelah menyapu lantai, Zul menyempatkan melihat Maleo. Zul jadi ingat waktu dia pertama kali dibawa kesini, dulu Zul juga dipaksa minum kopi Downy, tapi tubuh Zul kuat, dia sempat pusing namun tidak sampai pingsan seperti Maleo.

Kata Preno, itu tradisi kamar mereka. Tradisi yang dibuat-buat sendiri oleh Preno. Kali ini Preno kena getahnya, tradisinya sudah memakan korban tadi malam, untung saja Maleo tidak mati.

Lihat selengkapnya