MALEO

Gusmandora
Chapter #4

Kembali Ke Kamar

“Dendam itu seperti meminum racun dan berharap orang lain yang mati.”

(Nelson Mandela)


Sore ini Maleo sudah diperbolehkan pulang ke kamar setelah hampir 17 jam dia dirawat di klinik Lapas. Infusnya sudah dilepas. Zul meminjamkan kaos tadi padanya karena kaos yang ia pakai semalam sudah basah dan bau. Kaos yang sama lusuhnya dengan yang dipakai Zul, kaos hitam dengan kerah yang sudah melebar. Maleo tidak membawa apa-apa saat ditangkap, dia hanya mengenakan pakaian yang ada di badan. Zul bilang nanti disini setiap tahanan baru akan dikasih kaos tahanan, celana panjang dan kain sarung.

"Kamu pokoknya pakai baju aku dulu, kita gantian." Kata Zul baik hati sambil membantunya turun dari ranjang klinik.

Zul pun ikut menuntun Maleo berjalan sampai ke kamar. Beberapa anak penasaran melongo kearah mereka dan sepanjang perjalanan menuju kamar, Zul bercerita dengan riang bahwa dia sudah hampir enam bulan berada disini, putusan hukumannya 1,2 tahun, awal tahun depan Zul sudah bebas, dia sekarang sedang mengikuti pelatihan service AC bersertifikat, Zul akan mendapatkan sertifikat pertama dalam hidupnya. Dia dengan bangga akan menjadi tukang service AC setelah keluar nanti.

Zul juga bercerita kalau setiap pagi dia piket membersihkan ruangan kantor, dia ikut jadi kader kesehatan di klinik.

"Oh iya, disini ada posyandu remaja juga loh." Tambahnya.

"Apa itu?" Maleo baru dengar istilah itu. Seingatnya pernah melihat kata posyandu itu di balai desa tempat dia dan nenek tinggal, tapi itu untuk anak kecil.

"Ada petugas dari puskesmas datang, mereka sering bawa makanan, yang bisa jawab dapat makanan. Mereka mengecek kesehatan kita, kadang juga ngasih tontonan dari layar, ada permainannya, serulah pokoknya." Mata Zul berbinar ketika bercerita, anak itu penuh dengan aura positif yang akhirnya ikut menular ke Maleo. Maleo ikut tersenyum mendengarnya, senyum paling tulus pertama yang keluar sejak dia di tangkap.

Mereka sudah tiba di depan kamar yang terkunci, kamar dengan tulisan D.I Pandjaitan, terletak paling ujung dari gedung liter U yang merupakan blok blok hunian dari anak binaan yang ada di Lapas Anak ini. Petugas yang mengawal mereka dari klinik tadi langsung membuka pintu dengan kunci yang dikaitkannya di pinggang.

Bunyi kunci beradu dengan besi grandel langsung membuat penghuni kamar menoleh ke mereka, ke sumber suara tepat di depan pintu. Maleo dan Zul mengucapkan terimakasih hormat pada petugas sebelum pintu tralis di kunci lagi.

Lihat selengkapnya