“Kesuksesan adalah kemampuan untuk pergi dari satu kegagalan ke kegagalan lain tanpa kehilangan semangat.” — Winston Churchill
Maleo nyaris tidak tidur semalaman, entahlah di saat yang lain sudah bersahut-sahutan dengan suara ngorok mereka, Maleo justru terjaga, matanya tak kunjung mengantuk. Meski sudah bolak-balik mencari posisi nyaman, kantuknya tak kunjung tiba.
Maleo bisa mendengar suara sepatu dan orang mengobrol dari luar, setiap dua jam sekali sepertinya petugas berkeliling patroli. Pikirannya masih terserak kemana-mana sampai entah kapan matanya mulai menutup perlahan.
Maleo kecil berlari kencang melewati gang sempit, tangan kanannya memegang ketapel, tangan kirinya memegang sisa kue yang belum habis dimakan. Langkahnya makin kencang ketika melihat beberapa anak yang mengejarnya mulai mendekat.
Sendal jepitnya putus tepat ketika dia tak sengaja menginjak kubangan air di jalan berlubang, cipratan airnya mengenai baju Maleo, kuenya jatuh, tidak ada waktu untuk mengambil kue yang sudah bercampur air kotor.
Maleo mengambil sendalnya yang sudah putus dan lanjut berlari, rumahnya sudah tampak, dia bisa melihat nenek yang baru saja keluar dari pintu.
"NENEEEEKKKK.."
Teriak Maleo membuat anak-anak tadi yang mengejarnya terhenti lalu serentak tertawa. Mereka adalah anak-anak gang disana, usianya 3-5 tahun diatas Maleo, senang sekali mengganggu Maleo kecil, mengejar Maleo sampai Maleo menangis, menyoraki Maleo yang tidak punya ayah dan ibu.
"Memangnya ayah dan ibu kemana nek?"
Nenek yang saat itu sedang memperbaiki sendal Maleo cuma diam. Nenek masih lanjut memanaskan ujung paku kecil di atas lampu minyak kemudian menusukkan paku ke tali sendal yang putus." Nah, cobalah." Ucapnya.
Maleo mengambil sendal itu dan mencobanya, sendalnya sudah bisa dipakai lagi.
"Nanti kalau Maleo sudah besar, sudah setinggi ini." Nenek menunjuk dadanya dengan telapak tangan. "Nenek ceritakan."
Barulah saat Maleo sedikit dewasa, sekitar 3-4 tahun setelah sunat waktu itu, kira-kira umur lima belas, nenek mengajaknya bicara. Mereka duduk berhadap-hadapan, nenek mengusap kepala Maleo pelan.
"Dulu, nenek pernah janji mau menceritakan ayah ibu Maleo."
Maleo mengangguk singkat, sudah tak sabar mendengar seperti apa versi ayah ibunya, dulu saat kecil Upin Ipin adalah Role model hidupnya, Maleo selalu membesarkan hati, meyakinkan bahwa hidupnya sama seperti Upin Ipin yang tidak memiliki orang tua, yang hanya tinggal bersama nenek. Dia sesungguhnya memiliki orangtua yang hebat seperti tokoh kartun itu.