Riska
Orang bilang, rumah itu tempat paling nyaman. Tempat kita pulang. Tapi... Nggak semua rumah terasa seperti itu. Sejak kecil, aku selalu iri dengan teman-temanku. Mereka punya Mama yang hebat. Mama yang selalu ada. Mama yang selalu nemenin belajar. Mama yang selalu masakin bekal. Mama yang selalu antar jemput sekolah.
Mamaku?
"Riska, tolong itu cucian nanti dijemur ya. Mama tadi udah nyuci." Sepele, tapi bikin moodku langusng turun 70%. Aku menghela napas dengan malas.
"Ma... Aku baru bangun."
"Ya terus? Emang Mama nyuruh sekarang juga? Nanti dijemur sebelum siang."
Entahlah.
kecil seperti itu selalu berhasil bikin suasana hatiku berubah. Mungkin terdengar sepele. Tapi kalau hampir setiap pagi dimulai dengan cara yang sama, lama-lama capek juga. Di situlah aku mulai merasa... Mama memang selalu ada di rumah. Tapi bagiku, Mama belum pernah benar-benar hadir secara emosional.
***
Keranjang cucian itu akhirnya tetap kubawa ke belakang rumah. Meskipun perasaanku masih dongkol. Karena, setelah dipikir-pikir mau ngambek sampai kiamat juga, bajunya nggak bakal jemur sendiri.
Satu per satu baju kugantung di tali jemuran. Entah kenapa, setiap kali mengambil satu helai baju, rasanya satu keluhan ikut muncul. Jika ditotal, mungkin daftar keluhanku sudah sepanjang bon hutang. Atau sepanjang daftar belanja bulanan Mama.
Sebenarnya, aku hanya ingin mengawali pagi yang tenang. Menyeduh kopi. Bercengkerama sebentar dengan Mama sebelum memulai hari. Aku tidak bermaksud membentak Mama. Aku hanya... Ingin Mama, sekali saja mengerti.
Pernah suatu pagi aku main ke rumah Salsa. Mamanya menyambutku dengan hangat. Beliau menyuruhku makan dan menghidangkan makanan yang kelihatannya lezat. Hari itu, aku bertanya, "Salsa mana Tante?"
Lalu, Mamanya Salsa menjawab, "Itu di kamar, lagi mainan hp."
Aku sempat menunggu kalimat, "SALSAAA!" Tapi ternyata nggak ada.
"Loh? Ini semua tante sendiri yang masak?" Aku bertanya, karena jujur saja, aku penasaran.
"Iya dong! Cobain dulu... Tante jamin, kamu bakal nambah!" Seru Mamanya Salsa.
"Mbak..." suara Nayla muncul dari balik pintu sambil ngucek mata. "Ngambek lagi?"
Ingatanku tentang Mamanya Salsa langsung buyar.
"Enggak." Jawabku pendek tanpa melihat ke arahnya.
Nayla menghampiriku dengan kondisi setengah ngantuk setengah usil.
"Kalau nggak niat bantuin mending pergi." Tukasku.