Wanita paruh baya dengan daster batik yang warnanya sudah mulai memudar, berdiri di depan pintu kamar anak semata wayangnya. Di tangannya sudah ada tutup panci alumunium dan sendok sayur besi sebagai alat musik pengiring bangun.
"Wawan! Bangun, Le! Matahari sudah mau asar ini!" teriak Mak Salmah, melebih-lebihkan waktu padahal jam dinding di ruang tamu baru menunjukkan pukul setengah empat pagi.
Tidak ada jawaban. Dari dalam kamar, hanya terdengar suara dengkur yang ritmenya mirip mesin parut kelapa yang kekurangan oli.
"Wawan! Heh, anak perawan! Bangun! Nasi uduk sudah manggil-manggil namamu itu!" Mak Salmah mulai memukulkan sendok sayur ke tutup panci.
Teng! Teng! Teng!
Pintu kamar terbuka sedikit. Muncul wajah Wawan yang bengkak karena bangun tidur, rambutnya yang ikal berdiri ke segala arah seperti habis kena setrum. Ia menyender di kosen pintu dengan mata yang hanya terbuka satu milimeter.
"Mak ... ini masih jam tiga lewat. Ayam tetangga saja masih mimpi basah, masa Wawan sudah disuruh dines?" gumam Wawan dengan suara serak.
"Ayam mimpi basah itu urusan dia sama induknya! Urusanmu sekarang itu bungkusin nasi! Itu tempe oreg sudah nungguin sentuhan tanganmu yang halus kayak parutan jahe itu. Cepat!" Mak Salmah menarik telinga Wawan, menyeretnya menuju dapur.
"Aduh, aduh! Mak, ini telinga Wawan, bukan pegangan panci! Copot nanti, Mak!" Wawan mengaduh sambil mengikuti langkah ibunya yang bertenaga.
Sesampainya di dapur, Wawan duduk di kursi kayu yang sudah reyot. Di depannya terhampar "medan perang", sebakul besar nasi uduk yang mengepul, tumpukan daun pisang yang sudah dilap bersih, bihun goreng yang warnanya mengkilap diguyur kecap, dan sambal merah merona yang pedasnya sanggup membuat orang insyaf seketika.
"Mamak ini ya, hobinya bangunin orang pakai cara ekstrem. Sekali-kali bangunin pakai kecupan di kening kek, atau bisikin 'Wawan sayang, sarapan sudah siap'. Ini malah pakai konser musik panci," keluh Wawan sambil mulai mengambil selembar daun pisang.
Mak Salmah mendengus sambil mengaduk sisa santan. "Kecup keningmu? Yang ada Mamak pingsan kena bau iler kamu yang aromanya kayak limbah pabrik karet. Cepat bungkus, jangan kebanyakan monyong itu mulut."
Wawan mulai beraksi. Tangannya lincah menyendok nasi, menatanya di atas daun, lalu menambahkan bihun dan oreg tempe. "Mak, Wawan semalam mimpi."