Mamak Aku Rindu

Andiliawati
Chapter #2

Bab 2

Suara deru mesin mobil yang halus memecah kesunyian gang sempit depan rumah mereka. Mak Salmah, yang masih memegang sendok sayur, memicingkan mata. Sebuah mobil hitam mengkilap—jenis yang biasanya hanya Wawan lihat di layar HP sambil rebahan—berhenti tepat di depan pagar kayu mereka yang miring.


“Wan, mobil siapa itu? Apa kamu pesan ojek tapi yang datang malah begituan?” tanya Mak Salmah heran.


Wawan melongok, nyawanya yang baru terkumpul separuh mendadak penuh. “Mending kalau ojek, Mak. Ini mah harganya bisa buat beli sawah satu kampung!”


Seorang pria bersetelan rapi turun, tampak kontras dengan lingkungan sekitar yang becek sisa hujan semalam. Ia menghampiri mereka dengan sopan. "Maaf, benar ini rumah Ibu Salmah penjual nasi uduk legendaris itu?"


"Eh, iya ... bener, Pak. Saya sendiri. Ada apa ya? Saya nggak punya utang loh, Pak," jawab Mak Salmah polos, membuat Wawan menepuk jidatnya sendiri.


"Bukan begitu, Bu. Saya diperintah atasan saya. Beliau langganan nasi uduk Ibu yang dititip di warung Mpok Jenab. Katanya rasanya paling otentik. Begini, Bu, besok pagi kami butuh 300 bungkus nasi uduk spesial untuk acara ulang tahun putra atasan saya. Apakah Ibu sanggup?"


Mak Salmah mematung. Angka 300 bungkus berdengung di telinganya seperti suara lebah. Itu tiga kali lipat dari jatah harian mereka. Wajahnya yang tadi tegang langsung berubah cerah seolah baru saja disinari lampu stadion.


"Sanggup! Sangat sanggup, Pak! Jangankan 300, 500 juga Mak Salmah jabanin!" seru Mak Salmah dengan semangat berapi-api.


Setelah pria itu memberikan uang muka yang cukup tebal—tebal sampai-sampai Wawan bisa mendengar suara malaikat bernyanyi saat melihat lembaran merah itu—mobil tersebut meluncur pergi.


Mak Salmah langsung berbalik ke arah Wawan dengan mata berbinar-binar. "Wawan! Berangkat ke pasar sekarang! Ganti bajumu! Ini rezeki nomplok, Le! Bapakmu di sana pasti lagi ikut senyum lihat kita!"


"Siap, Kanjeng Ratu! Tapi Wawan belum mandi, Mak!"


Lihat selengkapnya