Wawan menarik napas lega setelah berhasil mengamankan dua krat telur ayam yang sempat tertinggal di lapak Pak Kumis. Sambil menyiulkan lagu dangdut yang liriknya pun ia karang-karang sendiri, ia memacu motor bebeknya dengan santai. Angin pagi yang mulai menghangat menerpa wajahnya. Di pikirannya, ia sudah membayangkan tumpukan nasi uduk yang rapi dan keuntungan yang bisa ia pakai untuk jajan gorengan lebih banyak dari biasanya.
Namun, pemandangan di depan warung saat ia sampai seketika meruntuhkan suasana hatinya. Sebuah motor sport berwarna mentereng terparkir melintang, hampir menutupi pintu masuk warung. Wawan mengenal motor itu. Motor yang suaranya selalu membawa hawa dingin di tengkuk warga kampung, motor para penagih hutang keliling.
Wawan bergegas turun dan meletakkan telur-telurnya di meja kayu depan dengan hati-hati. Saat ia melangkah masuk ke dalam rumah yang merangkap warung itu, hatinya mencelos. Mak Salmah duduk tertunduk di kursi kayu panjang. Tangannya yang gemetar meremas ujung daster batiknya yang sudah pudar. Di depannya, dua pria berbadan tegap dengan jaket kulit hitam dan wajah sedatar aspal jalanan duduk bersandar dengan gaya angkuh.
"Pokoknya kami nggak mau tahu, Bu. Ini sudah dua kali lewat jatuh tempo. Aturan tetap aturan," kata salah satu dari mereka, suaranya berat dan menekan.
Wawan langsung mengambil posisi duduk di samping Mamaknya. Ia bisa merasakan bahu ibunya sedikit bergetar. Rupanya, uang yang seharusnya dipakai untuk membayar cicilan bulanan kemarin terpaksa dialihkan untuk memperbaiki mesin sumur yang terbakar. Tanpa air, mereka tidak bisa masak. Tanpa masak, mereka tidak bisa makan. Sebuah lingkaran setan yang sering kali mencekik orang-orang kecil seperti mereka.
"Selamat siang, Bang," sapa Wawan mencoba mencairkan suasana, meski matanya menatap tajam. "Maaf ya, Mamak saya lagi agak nggak enak badan, jadi agak lambat responsnya."
"Walah, Wan ... ini urusan uang, bukan urusan badan enak atau nggak enak," sahut si rentenir satunya sambil memainkan kunci motor di jarinya.
Wawan menggeser duduknya, menenangkan Mamak dengan sentuhan ringan di lengannya. "Gini, Bang. Saya tahu kami telat dua kali. Tapi besok sore, jam empat setelah asar, Abang silakan datang ke sini lagi. Saya janji, dua cicilan yang nunggak plus satu cicilan bulan depan akan saya bayar tunai. Semua, sekaligus."
Mak Salmah tersentak. Beliau langsung menoleh ke arah Wawan dengan mata melotot, mulutnya setengah terbuka hendak memprotes, namun Wawan memberikan kode dengan remasan lembut di tangan ibunya agar tetap diam.
Kedua rentenir itu saling lirik. "Besok sore? Yakin kamu? Jangan sampai kami datang jauh-jauh cuma buat dengar dongeng lagi."