Mamak Aku Rindu

Andiliawati
Chapter #4

Bab 4

Pagi itu, langit Desa Sukamaju masih berwarna biru gelap saat dapur mak Salmah sudah tampak seperti pabrik logistik skala besar. Seratus bungkus pertama sudah tertata rapi di dalam kardus, seratus berikutnya sedang proses penyematan lidi, dan sisanya masih mengepul hangat di atas meja panjang. Bau harum santan, pandan, dan gurihnya oreg tempe menyatu dengan keringat Wawan yang sudah bercucuran meski fajar belum benar-benar pecah.


"Wan, itu sambalnya jangan kebanyakan! Nanti tamu-tamunya Sultan pada mencret, kita yang digugat ke pengadilan!" teriak Mak Salmah sambil tangan kanannya lincah melipat daun pisang secepat gerakan pesulap.


"Tenang, Mak! Sambal Wawan ini dosisnya sudah pas. Pedas-pedas kangen, bukan pedas-pedas dendam," sahut Wawan sambil mengelap keningnya dengan handuk lusuh yang dikalungkan di leher.


Tepat pukul tujuh pagi, mobil hitam mengkilap yang kemarin kembali muncul. Kali ini tidak sendirian, ada satu mobil bak terbuka di belakangnya untuk mengangkut pesanan. Pria rapi kemarin turun, memeriksa kualitas bungkusan dengan teliti, lalu tersenyum puas.


"Luar biasa, Bu Salmah. Wanginya saja sudah sampai depan gang. Ini sisa pembayarannya, dan atasan saya bilang, karena Ibu sanggup menyelesaikannya tepat waktu dengan kualitas jempolan, ada sedikit tambahan untuk uang lelah mas Wawan dan Ibu," ujar pria itu sambil menyerahkan sebuah amplop cokelat yang cukup tebal.


Wawan menerimanya dengan tangan gemetar. Saat pria itu pergi, Wawan dan Mak Salmah masuk ke dalam rumah. Dengan perlahan, Wawan membuka amplop itu di atas meja kayu tempat mereka biasa makan. Matanya membelalak. Isinya bukan hanya sisa pembayaran, tapi ada bonus yang jumlahnya hampir menyamai total pesanan itu sendiri.


Wawan terdiam. Ia menghitung cepat dalam hati. Uang ini bukan cuma cukup untuk membayar dua tunggakan utang dan satu cicilan bulan depan, tapi masih sisa banyak untuk modal jualan sebulan ke depan, bahkan untuk memperbaiki atap dapur mereka yang bocor.


"Mak ... lihat ini, Mak," bisik Wawan suara seraknya hampir hilang.


Mak Salmah mendekat, melihat tumpukan uang merah itu, lalu tiba-tiba kakinya terasa lemas. Beliau terduduk di kursi reyotnya. Suasana yang tadinya penuh canda mendadak berubah menjadi sunyi yang menyesakkan dada. Mak Salmah menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan yang kasar karena ratusan kali terkena panas panci. Bahunya mulai berguncang.


"Mamak ... kenapa menangis? Kan kita sudah kaya mendadak ini, Mak! Harusnya ketawa dong, kayak di film-film," goda Wawan, mencoba mencairkan suasana meski matanya sendiri sudah mulai berkaca-kaca.


Mak Salmah tidak berhenti. Ia menangis sesenggukan, tangisan yang keluar dari lubuk hati terdalam seorang ibu yang baru saja melepaskan beban sangat berat. Ia menarik Wawan, menyuruhnya duduk di sampingnya, lalu mengelus pundak anak semata wayangnya itu dengan penuh kasih sayang.


Lihat selengkapnya