Mamak Aku Rindu

Andiliawati
Chapter #5

Bab 5

Sesuai janji yang diucapkan dengan gaya selangit, tepat pukul empat sore, raungan mesin motor sport itu kembali membelah kesunyian gang. Dua pria berjaket kulit itu turun dengan wajah yang disetel sangar, siap untuk melontarkan makian jika Wawan kembali memberikan janji kosong. Namun, kali ini Wawan sudah berdiri di depan teras dengan tangan bersedekap dan senyum miring yang sengaja dibuat-buat agar terlihat seperti saudagar kaya dari kota.


"Wah, tepat waktu ya, Bang! Kayaknya jam tangan Abang beneran mahal, atau emang sudah rindu sama kopi pahit buatan Mamak?" sapa Wawan sambil mengeluarkan amplop cokelat dari saku celananya.


Salah satu rentenir itu mendengus. "Nggak usah banyak cincong, Wan. Mana uangnya? Kami nggak punya waktu buat dengerin lawakanmu yang garing itu."


Wawan dengan perlahan mengeluarkan tumpukan lembaran merah. Ia menghitungnya satu per satu di depan mata mereka dengan gerakan yang sengaja diperlambat, seolah-olah sedang menikmati setiap detik kemenangan kecilnya. "Satu ... dua ... sepuluh ... Nah, ini dua cicilan yang nunggak, ini satu cicilan bulan depan, dan ini tambahan buat beli bensin motor Abang biar suaranya nggak terlalu berisik pas lewat depan rumah orang tua. Gimana? Lunas ya buat tiga bulan ke depan? Jangan kangen ya, Bang!"


Dua pria itu melongo melihat tumpukan uang tunai yang bersih tanpa kurang sepeser pun. Mereka menerimanya dengan canggung, bergumam pendek, lalu segera tancap gas meninggalkan kepulan asap yang langsung dibalas Wawan dengan lambaian tangan layaknya seorang pejabat yang sedang blusukan.


"Sombong amat kamu, Wan! Hati-hati itu uangnya jangan dipakai beli mainan!" teriak salah satu dari mereka dari kejauhan.


"Beli mainan? Gini-gini Wawan calon juragan, Bang! Hahaha!" tawa Wawan pecah, menggelegar di sore yang mulai meremang itu. Mamak yang melihat dari balik gorden hanya bisa geleng-geleng kepala, antara lega dan malu melihat kelakuan anak semata wayangnya.


Namun, tawa itu tak bertahan lama. Begitu malam benar-benar jatuh dan kegelapan mulai menyelimuti Desa Sukamaju, suasana berubah drastis. Setelah makan malam sederhana dengan sisa nasi uduk pagi tadi, Mamak sudah terlelap di kamar, mungkin kelelahan karena emosi yang naik turun sepanjang hari.


Wawan duduk sendirian di bangku kayu teras rumahnya. Lampu bohlam lima watt di atas kepalanya berpijar kekuningan, sesekali berkedip seolah hampir mati. Di depannya, jalanan kampung yang hanya berupa tanah itu tampak sunyi. Hanya suara jangkrik dan sesekali gonggongan anjing liar di kejauhan yang memecah sepi.


Lihat selengkapnya