Nama saya Lulua Aethelgard.
Saya ketua OSIS.
Nilai saya hampir selalu sempurna.
Saya tidak pernah terlambat.
Dan saya tidak pernah membuat masalah.
Setidaknya, itu yang orang-orang lihat.
Yang tidak mereka lihat adalah gunting kecil berlapis emas di dalam tas saya.
Dan alasan mengapa saya selalu memilih duduk dekat pintu keluar.
Di kota ini, sihir bukan sesuatu yang aneh. Lampu jalan menyala dengan energi mana. Pendingin ruangan bekerja dengan rune sederhana. Bahkan mesin kopi di ruang guru memiliki inti sihir kecil untuk menjaga suhu tetap stabil.
Sihir adalah bagian dari kehidupan.
Masalahnya bukan pada sihir.
Masalahnya ada pada emosi.
Terutama emosi remaja.
Saya sudah belajar sejak kecil bahwa perasaan harus dikendalikan. Ayah saya sering berkata, “Ketika pikiran tenang, mana akan patuh.”
Jadi saya tidak pernah menangis di depan orang lain.
Saya tidak pernah tertawa terlalu keras.
Dan saya berusaha sekuat mungkin untuk tidak terlihat gugup.
Hari itu seharusnya berjalan normal.
Saya berdiri di podium aula Akademi Aethelgard, menyampaikan pidato pembukaan festival musim semi. Seragam saya rapi. Rambut saya terikat setengah dengan pita besar. Naskah saya tersusun sempurna.
Semuanya terkendali.
Hingga saya melihatnya tersenyum.
Itu hanya senyum biasa.
Senyum ramah dari anggota klub musik yang duduk di barisan depan.
Tapi jantung saya berdegup terlalu cepat.
Hangat kecil muncul di belakang telinga.
Tidak. Tolong jangan sekarang.