Mana Barista : Aku Belajar Mengendalikan Sihirku Tapi Tidak Pernah Belajar Mengendalikan Perasaanku

DImas Reza Ariyanto
Chapter #2

Episode 1 : Rutinitas Pagi Hari

Alarm Lulua Aethelgard berbunyi tepat pukul 05.30.

Hanya bunyi lembut yang cukup untuk membangunkannya tanpa membuat jantungnya terkejut.

Ia membuka mata sebelum bunyi itu mencapai puncaknya.

Tangannya terulur, mematikan alarm dalam satu gerakan yang sudah terlalu sering dilakukan untuk disebut kebiasaan.

Langit pagi masih pucat di balik tirai kamarnya. Cahaya keabu-abuan menyusup tipis melalui celah kain, cukup untuk menerangi meja belajar yang rapi—buku tersusun berdasarkan mata pelajaran, pena-pena sejajar, dan jadwal mingguan tertempel lurus tanpa sudut yang terlipat.

Tidak ada yang berantakan.

Lulu duduk perlahan di tepi tempat tidur.

Tarik napas, Hembuskan.

Hari ini akan berjalan baik.

Ia berdiri dan berjalan menuju cermin kecil di atas meja rias. Rambut cokelat madu yang terurai sampai punggungnya jatuh lembut mengikuti gerakannya. Ia menyisirnya pelan, memastikan tidak ada helaian yang terlalu liar.

Setelah itu, ia mengambil pita besar berwarna krem dari laci kecil.

Half-up.

Simpul rapi.

Simetris.

Ia menatap bayangannya.

“Baik,” gumamnya pelan.

Tidak ada yang aneh.

Belum.

Di lantai bawah, aroma teh hangat dan roti panggang sudah memenuhi ruang makan. Ayahnya duduk di kursi utama meja panjang, membaca berita di tablet dengan ekspresi datar yang selalu sama.

“Selamat pagi,” kata Lulu, membungkuk kecil sebelum duduk.

“Pagi,” jawab ayahnya tanpa mengangkat pandangan. “Hari ini pidato pembukaan festival.”

“Ya.”

“Jangan terburu-buru. Kontrol napasmu.”

Lulu mengangguk.

Ia selalu mengangguk.

Ibunya sudah lama tidak tinggal bersama mereka, dan rumah besar itu terlalu sunyi untuk dua orang. Suara sendok menyentuh cangkir terdengar lebih jelas dari seharusnya.

Ayahnya akhirnya mengangkat pandangan.

Lihat selengkapnya