Mana Barista : Aku Belajar Mengendalikan Sihirku Tapi Tidak Pernah Belajar Mengendalikan Perasaanku

DImas Reza Ariyanto
Chapter #3

Episode 2 : Ekspektasi yang Berat

Ruang OSIS selalu terasa sedikit lebih dingin daripada ruangan lain.

Bukan karena pendingin udaranya lebih kuat.

Tapi karena semua orang di dalamnya berusaha terlihat profesional.

Lulu duduk di kursi tengah meja panjang, map festival musim semi terbuka di hadapannya. Diagram anggaran, daftar sponsor dan jadwal panggung, semuanya tersusun rapi.

“Dekorasi taman utama masih kurang lima puluh ribu,” kata Sherly dari seberang meja. “Kalau kita kurangi lampion mana, mungkin cukup.”

Lulu mengangguk pelan.

“Lampion tetap dipertahankan. Kita kurangi ukuran panggung cadangan.”

Beberapa anggota mencatat cepat.

Ia tidak perlu berpikir lama.

Ia sudah menghitung semuanya tadi malam.

“Ketua memang selalu siap,” bisik seseorang di ujung meja.

Sherly tersenyum kecil. “Makanya dia jadi ketua.”

Lulu membalas senyum itu, tipis dan terkendali.

Hangat kecil muncul lagi di belakang telinganya.

Ia mengabaikannya.

“Baik,” katanya lembut. “Kalau tidak ada tambahan, kita akhiri rapat pagi ini.”

Kursi bergeser. Kertas dirapikan. Suara percakapan santai mulai memenuhi ruangan.

Sherly mendekat setelah yang lain keluar.

“Kamu kelihatan pucat,” katanya pelan.

“Kurang tidur sedikit,” jawab Lulu cepat.

“Kamu nggak tegang soal pidato nanti?”

Lulu tersenyum.

“Tidak terlalu.”

Sherly menyipitkan mata, tidak sepenuhnya percaya.

“Tetap minum air sebelum naik panggung.”

“Aku tahu.”

Selalu begitu.

Semua orang ingin memastikan ia baik-baik saja.

Karena ia memang selalu terlihat baik-baik saja.

Menjelang siang, aula mulai dipenuhi siswa.

Lihat selengkapnya