Mana Barista : Aku Belajar Mengendalikan Sihirku Tapi Tidak Pernah Belajar Mengendalikan Perasaanku

Lyneetra Studio
Chapter #4

Episode 3: Satu Kelopak Bunga

“…tentang kebersamaan yang tumbuh dari kerja keras kita bersama.”

Kalimat itu akhirnya selesai.

Kata tumbuh terasa sedikit terlalu nyata di ujung lidahnya.

Tepuk tangan kecil terdengar dari sisi kanan aula, disusul gelombang tepuk tangan yang lebih luas. Tidak terlalu keras, tapi cukup untuk memenuhi ruangan dengan suara yang terasa aman.

Lulu tersenyum.

Senyum yang sudah ia latih di depan cermin bertahun-tahun. Sudut bibir yang tepat. Lengkung mata yang tidak berlebihan. Bahu yang tetap lurus.

Senyum yang tidak membiarkan siapa pun melihat apa yang sebenarnya terjadi di baliknya.

Hangat di bawah pita rambutnya berubah menjadi geli yang lebih tajam.

Awalnya hanya seperti sentuhan udara.

Lalu seperti titik embun yang terlalu lama menempel di ujung daun.

Ia tidak boleh menyentuhnya sekarang.

Terlalu mencurigakan.

Semua mata tertuju padanya.

Guru-guru di barisan depan. Kepala sekolah yang duduk tegap. Siswa-siswi yang memegang ponsel untuk merekam.

Fokus.

Ia menunduk sedikit, pura-pura membaca naskah berikutnya, meskipun ia tidak lagi membutuhkan kertas itu.

Rambut cokelat madu itu jatuh tipis ke pipinya, menutupi sebagian sisi wajah.

Gerakan kecil itu bukan kebetulan.

Itu strategi.

Tekanan kecil itu semakin jelas.

Bukan sakit.

Bukan ledakan.

Lebih seperti sesuatu yang pelan namun pasti mencari jalan keluar.

Seperti titik embun yang ingin menembus permukaan daun.

Jangan tumbuh.

Tolong jangan tumbuh.

Ia mengatur napasnya pelan.

Tarik.

Tahan.

Hembuskan.

Ia sudah terbiasa dengan teknik ini.

Teknik untuk menenangkan mana.

Teknik untuk membuat aliran kembali stabil.

Kalimat berikutnya keluar dengan stabil, meski jari-jarinya terasa dingin memegang kertas.

“Festival ini bukan hanya perayaan tahunan…”

Suaranya tetap jernih melalui mikrofon.

Tidak ada getaran.

Tidak ada patahan.

Di barisan ketiga, ia tahu seseorang masih memperhatikannya.

Ia tidak perlu melihat untuk tahu.

Tatapan itu tidak berat.

Tidak menghakimi.

Justru terlalu hangat.

Dan itu membuat jantungnya berdetak lebih keras dari yang seharusnya.

Hangat itu menyebar dari dada ke leher.

Ke belakang telinga.

Ke bawah pita.

Lihat selengkapnya