Mana Barista : Aku Belajar Mengendalikan Sihirku Tapi Tidak Pernah Belajar Mengendalikan Perasaanku

Lyneetra Studio
Chapter #5

Episode 4 : Di Bawah Pita

Lulu tidak lantas kembali ke tempat duduknya. Ia berdiam diri di sisi aula beberapa jenak lebih lama, membiarkan arus siswa mengalir melewatinya. Di atas panggung, Sherly sudah kembali sibuk mengatur jalannya acara. Musik pembuka mulai mengalun, mengisi ruangan dengan nada ceria yang terasa sangat kontras dengan degup jantungnya sendiri.

Rasa hangat itu belum juga meluruh. Malah, kini terasa kian nyata. Ia bisa merasakannya di bawah pita rambutnya. sesuatu yang lembut, hidup, dan perlahan menyingkap diri.

Jangan disentuh.

Lulu paham benar, semakin sering ia mengusiknya, ia akan tumbuh semakin cepat. Itu pelajaran yang sudah lama ia simpan sendiri.

Ia menuruni tangga aula dengan langkah yang terjaga. Setiap pijakan kaki terasa seperti sedang menyeimbangkan sesuatu yang sangat rapuh di atas kepalanya. Beberapa siswa berpapasan dengannya dan melontarkan ucapan selamat.

"Bagus sekali pidatonya, Ketua!".

"Kamu seolah tidak pernah merasa gugup, ya."

Lulu hanya membalas dengan senyum tipis sambil sedikit menunduk. Andai saja mereka tahu apa yang sebenarnya ia sembunyikan.

Di antara kerumunan, ia menangkap sosok itu lagi, berdiri tidak jauh dari pintu keluar. Tangannya diselipkan santai ke saku celana, raut wajahnya tampak tenang seperti biasa. Kali ini ia tidak mendekat, hanya mengangkat tangan sekilas sebagai tanda selamat.

Sederhana, namun entah mengapa itu terasa lebih menggelisahkan daripada senyuman tadi.

Rasa hangat itu kembali berdenyut. Lulu merasakan sesuatu yang sangat halus menyentuh kulit lehernya. Rasanya seperti helaian rambut tambahan, atau mungkin... selembar kelopak.

Ia segera memutar langkah menuju lorong samping aula yang lebih sepi. Cahaya di sana agak temaram, dan ada cermin panjang di dekat ruang tata suara yang cukup tersembunyi dari lalu-lalang siswa. Ia berhenti di depan cermin itu.

Perlahan, sangat perlahan, tangannya terangkat menyentuh pita di rambutnya. Ujung jarinya merasakan tekstur yang asing. Bukan rambut. Terasa lembut, dingin, dan nyata.

Lulu menelan ludah. Di bawah pita krem yang terikat rapi, seangkai bunga kecil telah menyingkap dua lapis kelopaknya. Warnanya merah muda pucat, hampir senada dengan warna kulitnya, sehingga tidak akan mencolok dari kejauhan. Namun bagi Lulu, ini bukan lagi sekadar kuncup.

Ini sudah menjadi bunga. Belum mekar seutuhnya, tapi tak lagi bisa disebut tersembunyi.

"Jangan sekarang..." bisiknya pada bayangannya sendiri.

Lihat selengkapnya