Lulu tidak langsung kembali ke aula.
Ia berdiri beberapa saat di depan cermin wastafel. Air dari keran masih menetes pelan. Di bawah cahaya lampu yang agak pucat, garis hijau tipis itu terlihat jelas di belakang telinganya.
Sulurnya masih kecil.
Tipis seperti goresan lembut di kulit.
Kalau tidak tahu polanya, orang mungkin akan mengira itu hanya bayangan rambut.
Hampir cantik.., Hampir.
Ia tahu betul bagaimana ini berkembang. Ia sudah mengalaminya lebih dari sekali. Hari ini sudah masuk tahap ketiga. Setelah kuncup, setelah kelopak pertama, sekarang sulur mulai mencari arah.
Kalau ia kembali ke aula sekarang, duduk di tengah keramaian, mendengar musik keras dan tawa yang terlalu riang, perasaannya bisa naik lagi. Dan kalau itu terjadi, yang kecil ini tidak akan berhenti di sini.
Ia menutup mata.
Tarik napas pelan. Tahan. Lalu hembuskan.
Kamu bisa mengendalikan ini.
Tangannya sempat menyentuh tas kecilnya. Gunting itu masih di dalam. Ia hampir mengeluarkannya, lalu berhenti. Memotong di tempat umum terlalu berisiko. Kalau tangkainya patah dan serpihan kelopak jatuh ke lantai, seseorang bisa melihat. Ia tidak ingin itu terjadi lagi.
Ia memasukkan kembali tangannya ke dalam tas.
Belum.
Ia keluar dari toilet dengan langkah yang terukur. Tidak terlalu cepat supaya tidak mencurigakan. Tidak terlalu lambat supaya tidak terlihat ragu.
Lorong sudah ramai lagi. Suara tawa dan obrolan saling bertabrakan di udara. Aroma manis dari stan makanan mulai terasa. Campuran gula hangus dan sesuatu yang digoreng.
Festival benar benar sudah dimulai.
Lulu melewati papan pengumuman besar yang dipenuhi poster. Pantulan dirinya di kaca tipis itu membuatnya berhenti tanpa sadar.
Kelopak bunga di rambutnya terlihat lebih jelas di bawah cahaya lorong.
Ia menggeser rambutnya ke sisi yang lebih menutup.
Masih aman.
Masih bisa disembunyikan.
Ia melanjutkan langkah.
Namun setiap suara terasa lebih keras dari biasanya. Tawa yang terlalu lepas. Langkah kaki yang tergesa. Musik yang diputar agak terlalu kencang.
Semua terasa seperti dorongan kecil di dalam dadanya.
Dan setiap dorongan itu membuat sulur di belakang telinganya bergerak sedikit lebih jauh.
Ia bisa merasakannya.
Seperti sesuatu yang pelan pelan mencari cahaya.
"Lulu!"
Ia langsung menegang.
Sherly melambai dari ujung lorong dengan wajah penuh semangat.
"Ayo, kita cek stan dekorasi dulu!"
Lulu memaksakan senyum yang sudah terlalu sering ia pakai hari ini.
"Iya."
Ia berjalan mendekat. Setiap langkah terasa seperti menjaga sesuatu yang rapuh agar tidak pecah sebelum waktunya.
Mereka berdiri di depan taman kecil buatan di tengah lapangan sekolah. Bunga bunga dekoratif yang dihias dengan mana ringan berkilau samar di bawah sinar matahari siang.
Ironis sekali.
"Bagus, kan?" Sherly berkata bangga. "Kita berhasil bikin nuansanya hidup."
Hidup.
Kata itu terasa aneh di telinganya.
Lulu mengangguk pelan.
Ia merasakan sensasi baru di tengkuknya.
Bukan lagi hanya sulur tipis.