Mana Barista : Aku Belajar Mengendalikan Sihirku Tapi Tidak Pernah Belajar Mengendalikan Perasaanku

Lyneetra Studio
Chapter #7

Episode 6 : Seorang Pria yang Tidak Terlihat Terkejut

Bel kecil itu berbunyi lagi.

ting.

Lulu tidak yakin apakah ia yang tidak sengaja mendorong pintu sedikit, atau hanya angin sore yang membuatnya bergerak.

Ia masih berdiri beberapa langkah dari ambang pintu. Napasnya belum sepenuhnya teratur. Dua bunga itu terasa lebih jelas di udara terbuka. Kelopaknya bergerak ringan setiap kali angin gang sempit menyentuhnya.

Ia tahu ia harus memotongnya.

Ia tahu itu.

Namun untuk beberapa detik yang terasa lebih lama dari seharusnya, ia hanya berdiri diam.

Aroma dari dalam ruangan itu semakin terasa.

Kopi.

Hangat dan pahit dengan sisa manis tipis di ujungnya.

Berbeda dari aroma kantin sekolah yang terlalu manis atau terlalu tajam. Aroma ini lebih tenang. Lebih seperti sesuatu yang tidak tergesa.

Pintu kayu itu terbuka sedikit lebih lebar.

Seseorang keluar dari dalam.

Seorang pemuda mengenakan apron cokelat tua. Tali apron itu menyilang di punggungnya. Kemeja lengan panjangnya digulung, tapi tidak rapi. Lengan kiri sedikit lebih tinggi dari kanan, seperti ia melakukannya tanpa cermin.

Rambutnya gelap dan jatuh ke satu sisi wajahnya dengan cara yang tidak terlalu dipedulikan.

Ia berhenti tepat di ambang pintu.

Tatapannya jatuh pada Lulu.

Tidak lama.

Tidak juga cepat.

Cukup untuk melihat semuanya.

Dua bunga.

Sulur tipis di dekat tengkuk.

Rambut yang sengaja ditata menutup sisi tertentu.

Beberapa detik hening.

Lulu sudah siap.

Orang biasanya bereaksi dengan tiga cara.

Terkejut.

Bertanya.

Atau tertawa kecil karena merasa aneh.

Ia tidak mendapatkan ketiganya.

Pemuda itu hanya memiringkan kepala sedikit.

“Kamu berdiri di luar cukup lama,” katanya santai. “Biasanya orang masuk kalau sudah sampai depan pintu.”

Suaranya rendah dan tidak tergesa. Seolah dua bunga di kepala seseorang bukan hal yang luar biasa.

Lulu berkedip.

“Aku tidak sengaja berhenti di sini,” katanya pelan.

Jawabannya terdengar tidak masuk akal bahkan di telinganya sendiri.

Ia menunduk.

Sulur di tengkuknya bergerak lagi sedikit.

Ia bisa merasakannya.

Pemuda itu melirik sekilas ke arah sulur itu. Lalu kembali menatap wajahnya.

“Kalau dibiarkan terlalu lama,” katanya ringan, “biasanya makin susah dibereskan.”

Jantung Lulu melonjak.

Ia tidak menyebut apa pun secara langsung.

Tapi jelas ia tahu.

“Kamu bisa melihatnya?” Lulu bertanya hati hati.

“Bisa.”

Hanya satu kata.

Lihat selengkapnya