Mana Barista : Aku Belajar Mengendalikan Sihirku Tapi Tidak Pernah Belajar Mengendalikan Perasaanku

Lyneetra Studio
Chapter #8

Episode 7 : Tempat yang Tidak Terburu-buru

Lulu sudah tidak tahu berapa lama ia duduk di sana. Cangkir di tangannya tinggal setengah. Uapnya tidak lagi setebal tadi, tapi sisa hangatnya masih terasa di telapak tangan. Sesekali ia menyesapnya, bukan karena haus, melainkan hanya untuk memastikan rasa tenang itu belum hilang.

Bunga di bawah pita rambutnya masih ada. Begitu juga yang kecil di tengkuknya. Namun keduanya terasa berbeda. Tidak lagi mendesak. Tidak lagi bergerak gelisah. Seperti tanaman yang dipindahkan ke sudut teduh. Masih hidup, tapi tidak memaksa tumbuh.

Ia menyadari sesuatu yang pelan tapi jelas. Ia tidak lagi merasa harus bersembunyi. Rambutnya memang masih disisir menutup sisi tertentu, tapi itu lebih karena kebiasaan, bukan panik.

Di balik meja bar, pemuda yang belum ia kenal namanya itu sibuk dengan mesin espresso. Gerakannya teratur dan tenang. Seolah waktu di tempat ini berjalan lebih lambat dari dunia luar. Ia tidak mencoba mengajak bicara. Tidak menatap terlalu lama. Tidak memancing apa pun.

Dan justru karena itu, Lulu merasa lebih lega.

Di sekolah, ia selalu harus berbicara. Harus menjawab. Harus memastikan semuanya baik baik saja. Di sini, tidak ada yang menunggu ia menjadi apa pun.

“Kafe ini sudah lama di sini?” tanya Lulu akhirnya. Suaranya lebih pelan dari yang ia kira.

Pemuda itu menyelesaikan satu gerakan terakhir pada mesin di depannya sebelum menjawab. “Cukup lama untuk tidak terlalu diperhatikan orang.”

Jawaban itu tidak sepenuhnya jelas. Lulu hanya mengangguk. Pandangannya beralih ke rak buku di sudut ruangan. Ada novel lama, buku resep, dan satu buku catatan dengan simbol kecil di pinggir halamannya.

“Kamu sendirian?” tanya Lulu lagi.

“Biasanya.”

Ia mengambil kain lap dan menyeka meja yang sebenarnya sudah bersih.

“Kamu tidak sekolah?” Pertanyaan itu keluar sebelum sempat ia tahan. Begitu mengucapkannya, Lulu langsung menyesal. Terlalu lancang.

Pemuda itu berhenti sebentar. Bahunya terangkat sedikit.

“Dulu.”

Hanya itu.

Tidak ada penjelasan.

Namun ada jeda yang terasa berbeda. Bukan canggung. Lebih seperti sesuatu yang memang tidak ingin dibahas lebih jauh.

Lulu menunduk menatap dasar cangkirnya. “Maaf.”

“Untuk apa?”

“Aku kebanyakan tanya.”

Terdengar hembusan napas pendek yang hampir seperti tawa. “Kamu baru tanya dua.”

Ia menoleh lagi. Kali ini tatapannya tidak sekadar mengamati. Ada kelembutan yang lebih nyata.

“Biasanya orang bakal tanya lebih banyak kalau lihat bunga tiba tiba tumbuh di kepala orang lain.”

Jantung Lulu terasa bergetar kecil.

“Biasanya mereka juga tidak akan diam saja,” katanya.

“Diam itu sering kali lebih efektif.”

Lihat selengkapnya