Suara festival masih sama kerasnya seperti satu jam yang lalu.
Bedanya sekarang, Lulu tidak lagi berdiri di pinggir pagar belakang.
Ia sudah kembali ke tengah semuanya.
Stan minuman dipindah sedikit ke samping panggung karena antreannya memanjang. Meja plastik berderet, gelas-gelas dingin berembun, dan kipas berdiri yang diputar maksimal tapi tetap kalah oleh panas siang.
Lulu berdiri di samping Sherly, memegang clipboard daftar peserta lomba. Tangannya sedikit lengket karena tadi membantu mengangkat kardus.
“Lu, kamu bisa cek ulang nomor peserta lomba duet? Tadi ada yang dobel,” kata Sherly cepat tanpa menoleh.
“Iya, kasih lihat.”
Lulu menunduk, menyisir nama-nama dengan pulpen di tangan. Suara musik dari panggung kecil di depan mereka menggema sampai ke dada. Ia merasa lebih sensitif dari biasanya. Setiap suara seperti menabrak langsung ke kepala.
Tenang saja, dia bilang dalam hati.
Ia sadar bunga di bawah pitanya masih ada. Ia bisa merasakannya seperti berat kecil di sisi kepala. Tidak mengganggu, tapi jelas.
Seorang siswa menabraknya dari samping.
“Eh, maaf, Kak!”
“Tidak apa-apa,” jawab Lulu cepat.
Ia hampir refleks menyentuh rambutnya, tapi menahan diri. Jangan panik. Tidak ada yang teriak. Tidak ada yang menunjuk.
Sherly meliriknya sekilas.
“Kamu kelihatan capek.”
“Sedikit,” Lulu mengaku. “Tadi sempat keluar sebentar.”
Sherly mengangguk. “Iya, kelihatan sih. Tapi sekarang lebih mending.”
Lulu tidak tahu maksud “lebih mending” itu apa. Rambutnya? Wajahnya? Atau cuma ekspresinya.
Sebelum ia sempat bertanya, suara lain masuk di antara mereka.
“Lulu.”
Ia langsung mengenali suara itu bahkan sebelum menoleh.
Adrian Mahesa berdiri dua langkah dari meja stan. Kaos panitia warna biru muda membuatnya mudah dikenali. Keringat tipis di pelipis, tapi tetap terlihat santai seperti biasa.
Jantung Lulu bergetar kecil.
“Oh, hai,” jawabnya, agak terlalu cepat.
Adrian tersenyum. “Maaf ganggu. Aku cuma mau pastikan jadwal lomba duet sudah final. MC tadi nanya.”
Lulu menunduk lagi ke clipboard. Tangannya terasa lebih ringan tapi juga sedikit gemetar.
“Sudah. Tadi ada satu nama dobel, tapi sudah diganti.”
“Oke. Boleh lihat sebentar?”
Ia mendekat. Terlalu dekat.
Lulu bisa mencium aroma sabun dari bajunya. Bukan parfum yang kuat. Hanya wangi bersih yang biasa saja. Tapi entah kenapa itu membuat napasnya sedikit tidak stabil.
Ia menyerahkan clipboard.
Adrian membungkuk sedikit untuk membaca. Bahunya hampir menyentuh lengan Lulu.
Jangan tumbuh sekarang.
Ia bisa merasakan sesuatu seperti getaran halus di bawah pita. Bukan sakit. Bukan dorongan kuat. Hanya tekanan ringan, seperti ingin membuka.
“Kerja bagus,” kata Adrian pelan. “Kamu dari pagi belum istirahat ya?”
Lulu mengangkat wajahnya. Mata mereka sejajar.
“Istirahat sebentar kok,” jawabnya. Suaranya lebih lembut dari yang ia niatkan.
“Bagus. Jangan sampai tumbang. Kamu kan tulang punggung acara hari ini.”
Kalimat itu sederhana. Bahkan terdengar seperti pujian biasa.
Tapi bagi Lulu, itu seperti beban kecil yang ditambahkan di pundaknya.
Tulang punggung.
Ia tertawa kecil, canggung. “Enggak juga. Semua kerja bareng.”
Adrian menatapnya beberapa detik lebih lama dari biasanya.
“Kamu kelihatan beda hari ini.”
Jantungnya berhenti sepersekian detik.
Sherly yang tadi sibuk menuang minuman melirik sekilas.
“Beda gimana?” Lulu mencoba terdengar normal.
“Enggak tahu. Lebih… santai mungkin?”
Lulu tidak tahu harus merasa lega atau semakin gugup.
Getaran di rambutnya sedikit lebih jelas sekarang.
Jangan. Jangan sekarang.
Adrian mengembalikan clipboard. “Anyway, nanti habis lomba duet kamu bisa ke belakang panggung sebentar? Kita mau foto panitia inti.”
“O-oh. Iya.”
“Jam tiga kurang sepuluh ya.”
“Iya.”
Adrian tersenyum lagi. Tidak lebar. Tidak berlebihan. Hanya biasa.
“Oke. Makasih ya.”
Ia berjalan pergi, menyapa beberapa siswa lain di jalan. Tertawa sebentar. Menepuk bahu seseorang. Terlihat mudah sekali baginya.
Lulu berdiri diam beberapa detik setelah itu.
Sherly menyikut pelan. “Tuh kan.”
“Tuh kan apa?”
Sherly menahan senyum. “Dia perhatian banget sama kamu.”
“Dia perhatian sama semua orang.”
“Enggak semua orang diajak foto panitia inti.”
Lulu tidak menjawab.
Ia menunduk, pura-pura fokus lagi ke daftar nama. Padahal huruf-hurufnya mulai kabur.
Getaran itu kembali. Lebih terasa.
Tangannya akhirnya naik ke rambut, seperti kebiasaan lama yang sulit dihilangkan.
Ada tonjolan kecil di dekat telinga.
Bukan bunga besar.
Tapi sesuatu mulai membuka.
Sherly melihat gerakan itu. “Kenapa?”
“Tidak apa-apa. Cuma panas.”
“Kamu yakin? Wajahmu merah.”
Lulu cepat-cepat menurunkan tangan. “Karena cuaca.”
Sherly menatapnya beberapa detik, lalu mengangkat bahu. “Kalau kamu mau istirahat lagi, bilang saja. Aku bisa handle di sini.”
Lulu menggeleng. “Aku bantu sampai lomba duet selesai.”
Ia tidak ingin kabur.
Bukan kali ini.
Musik dari panggung berhenti sebentar, diganti suara MC yang terlalu bersemangat.
“Selanjutnya kita punya penampilan duet dari kelas dua belas IPA dua!”
Sorakan terdengar dari depan.
Lulu mencoba menarik napas perlahan. Tidak terlalu dalam. Tidak terlalu dramatis. Hanya cukup untuk menenangkan detak jantungnya.
Ia ingat sensasi di kafe tadi.
Bukan kata-katanya.
Bukan nasihatnya.
Tapi rasa ketika duduk di sana.
Tidak perlu terlihat baik.
Tidak perlu terlihat sempurna.
Hanya duduk.
Hanya bernapas.
Getaran di rambutnya tidak bertambah besar. Masih ada. Tapi tidak menyebar.
Ia menyentuhnya sekali lagi, lebih ringan.
Kelopak kecil terasa di ujungnya. Belum mekar penuh.
Adrian muncul lagi beberapa menit kemudian, kali ini dari arah panggung. “Lomba duet mulai lima menit lagi. Semua aman?”
“Aman,” jawab Lulu, lebih stabil.
“Good.” Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan, “Eh, Lulu.”
“Iya?”
“Kalau nanti capek, bilang ya. Jangan dipaksain.”
Nada suaranya tulus. Tidak menggoda. Tidak berlebihan.
Lulu mengangguk pelan.
“Iya.”
Saat Adrian berjalan pergi lagi, Lulu menyadari sesuatu yang aneh.
Ia memang senang ketika Adrian bicara padanya.
Ia suka ketika dipanggil namanya seperti itu.
Ia suka ketika dia memperhatikannya.
Tapi di saat yang sama, tubuhnya selalu bersiap.
Seperti harus waspada.
Seperti harus menjaga sesuatu agar tidak keluar.
Ia menatap ke arah panggung.
Keramaian tetap sama. Tawa tetap keras. Matahari tetap panas.
Bunga kecil di rambutnya belum ia potong.
Dan untuk pertama kalinya, ia tidak merasa panik melihatnya.
Masih gugup, iya.
Masih deg-degan, iya.
Tapi tidak ingin lari.
Sherly menyerahkan satu gelas minuman ke siswa lain, lalu menoleh lagi ke Lulu.
“Kamu yakin enggak mau istirahat?”
Lulu melihat ke arah gerbang belakang sekolah, arah gang sempit itu berada.
Ia bisa saja pergi lagi.
Cuma lima menit.
Cuma sebentar.
Tapi ia tidak bergerak.
“Aku di sini saja,” katanya pelan.
Dan untuk sekarang, itu sudah cukup.
Jam di layar ponsel Lulu menunjukkan 14.47.
Tiga belas menit lagi sebelum foto panitia inti.
Ia berdiri di samping panggung kecil sambil membantu memastikan peserta duet berikutnya sudah siap. Dua siswi kelas sebelas tampak tegang, saling cek mikrofon.
“Tes, tes. Kedengeran?” salah satu dari mereka berbisik.
“Kedengeran kok,” jawab Lulu. “Tenang saja. Kalau salah lirik juga enggak apa-apa. Ini festival, bukan ujian praktik.”
Keduanya tertawa kecil, sedikit lebih rileks.
Lulu menyadari sesuatu. Biasanya, melihat orang lain gugup justru membuat dadanya ikut sesak. Seolah emosi mereka menular dan memicu sesuatu di dalam dirinya.
Sekarang masih ada rasa itu, tapi tidak sekuat dulu.
Ia menoleh ke arah kerumunan. Adrian berdiri dekat sound system, berbicara dengan teknisi sambil sesekali melihat ke arah panggung.
Saat mata mereka bertemu, Adrian mengangkat tangan kecil, semacam isyarat “sebentar lagi”.
Jantung Lulu bereaksi lagi. Cepat, tapi tidak meledak.
Ia menarik napas pelan.
Di dekat telinganya, bunga kecil itu terasa lebih jelas sekarang. Kelopaknya mungkin sudah membuka satu lapis lagi. Ia tidak perlu cermin untuk tahu.
Selesai penampilan duet, tepuk tangan pecah dari depan panggung.
MC naik lagi, berteriak terlalu semangat seperti biasa. “Kita kasih waktu lima menit untuk persiapan lomba berikutnya!”
Adrian langsung berjalan ke arah Lulu.
“Lu, sekarang ya. Biar belum makin ramai.”
“Oke.”
Sherly muncul dari belakang, menyodorkan botol air. “Minum dulu. Kamu mukanya merah banget.”
“Thanks.”
Airnya hangat, tidak terlalu membantu, tapi setidaknya memberi jeda.
“Foto bentar ya, Sher,” kata Adrian.
Sherly mengangguk sambil menyeringai tipis. “Cepat ya. Nanti kamu kabur lagi.”
Lulu tidak sempat protes karena Adrian sudah berjalan lebih dulu, mengarah ke belakang panggung.
Area belakang lebih sepi. Hanya beberapa panitia inti yang sudah berkumpul. Spanduk festival dipasang sebagai latar, agak miring di satu sisi.
“Eh, lengkap belum?” tanya seorang siswa laki-laki dari kelas lain.
“Bentar lagi,” jawab Adrian. “Lulu sudah.”