Beberapa menit kemudian, Adrian kembali lagi, kali ini membawa dua botol minuman dingin.
“Satu buat kamu,” katanya sambil meletakkan botol di meja.
“Aku bilang enggak lapar.”
“Ini minum.”
Lulu menatap botol itu sebentar sebelum menerimanya. “Makasih.”
Adrian bersandar di sisi meja, tidak langsung pergi.
“Kamu tahu enggak,” katanya pelan, “aku dulu kira kamu itu galak.”
Lulu tersedak kecil. “Apa?”
“Iya. Ketua OSIS. Wajah serius terus.”
“Itu kan kerja.”
“Sekarang aku tahu kamu enggak segalak itu.”
Nada suaranya setengah bercanda.
Tapi lagi-lagi, ada kehangatan yang tidak bisa ia abaikan.
“Terus sekarang aku apa?” tanya Lulu, tanpa sadar.
Adrian berpikir sebentar. “Lebih gampang diajak ngomong.”
Jawaban itu sederhana.
Tapi entah kenapa membuat matanya sedikit panas.
Karena selama ini, ia merasa justru sulit diajak mengerti.
“Bagus dong,” katanya pelan.
“Iya. Bagus.”
Mata Adrian turun lagi sekilas ke arah rambutnya.
Kali ini lebih jelas.
Lulu tahu dia melihat sesuatu.
Adrian tidak langsung bereaksi.
Ia hanya mengangkat alis sedikit. “Itu… aksesoris baru?”
Detik itu juga, dunia terasa berhenti.
Suara festival seperti menjauh.
Lulu bisa memilih.
Bohong seperti biasa.
Atau panik.
Atau kabur.
Ia merasakan bunga itu di rambutnya. Kelopaknya halus. Nyata.
Ia menelan ludah.
“Iya,” jawabnya akhirnya. “Cuma… hiasan.”
Adrian mengangguk pelan.
“Cocok.”
Hanya satu kata itu.
Cocok.
Tidak ada tawa.
Tidak ada ekspresi aneh.
Tidak ada pertanyaan lanjutan.
Ia bahkan tersenyum kecil, lalu berdiri tegak lagi.
“Balik kerja dulu ya. Nanti sore jangan lupa makan.”
Dan ia pergi.
Lulu duduk diam.
Cocok.
Bukan “itu apa”.
Bukan “aneh”.
Bukan “kamu kenapa”.
Cocok.
Dadanya menghangat, tapi bukan seperti tadi.
Lebih tenang.
Namun di saat yang sama, ada hal kecil yang terasa kosong.
Adrian melihatnya.
Tapi tidak benar-benar melihat.
Ia menerima jawaban sederhana tanpa bertanya lebih jauh.
Mungkin itu hal yang normal.
Mungkin itu justru yang seharusnya ia inginkan.
Tapi anehnya, ia teringat seseorang yang tidak pernah menerima jawaban sederhana begitu saja.
Seseorang yang langsung tahu bunga itu bukan aksesoris.
Seseorang yang bahkan menyebut jenisnya dengan santai.
Lulu menunduk, membuka botol minuman, dan minum perlahan.
Bunga di rambutnya masih ada.
Tidak membesar lagi.
Tidak juga layu.
Ia belum memotongnya.
Dan untuk pertama kalinya, bukan karena takut.
Melainkan karena ia ingin tahu, sebenarnya sampai di mana ia bisa bertahan tanpa menyembunyikan semuanya.
Setelah Adrian kembali ke posnya dan festival berjalan lagi seperti biasa, Lulu tidak langsung bergerak.
Ia masih duduk di kursi plastik dekat meja rekap nilai, botol minuman dingin di tangan. Kata “cocok” tadi terus terulang di kepalanya.
Cocok.
Sederhana. Aman. Tidak mempertanyakan apa-apa.
Di sisi lain, ia tahu bunga itu bukan sekadar hiasan.
Kelopaknya masih terasa utuh di dekat telinganya. Tidak membesar lagi, tapi juga tidak layu.
“Lu, angka ini salah deh,” kata Sherly tiba-tiba, menyodorkan lembar penilaian.
Lulu berkedip, kembali ke kenyataan. “Yang mana?”
“Ini totalnya harusnya tujuh puluh delapan, bukan delapan puluh satu.”
“Oh.” Lulu cepat mengambil pulpen dan menghitung ulang. “Iya, salah jumlah.”
“Kamu dari tadi bengong.”
“Enggak.”
Sherly menatapnya beberapa detik. “Kamu yakin baik-baik saja?”
“Iya.”
Jawaban itu otomatis keluar. Terlalu cepat.
Sherly menghela napas pelan, lalu kembali fokus ke tugasnya.
Lulu mencoba ikut fokus. Satu per satu nilai dijumlahkan, dicatat, diserahkan. Hal-hal teknis seperti ini biasanya menenangkan. Angka tidak punya perasaan. Angka tidak tumbuh di kepala.
Tapi hari ini, bahkan angka terasa sedikit kabur.
Dari arah panggung, suara Adrian terdengar memberi aba-aba ke peserta berikutnya. Ia tidak melihatnya, tapi tahu ia ada di sana.
Aneh. Ia senang mengetahui itu.
Beberapa menit kemudian, satu siswa kelas sepuluh mendekat ke meja mereka. Wajahnya pucat.
“Kak… boleh pinjam tisu?”
“Kenapa?” tanya Sherly.
“Enggak apa-apa. Cuma…” Ia menoleh ke sekeliling, lalu berbisik, “Tangan aku dingin banget.”
Lulu melihat lebih jelas.
Di sekitar pergelangan tangan siswa itu, embun tipis terbentuk seperti kabut kecil. Tidak banyak. Tidak dramatis. Tapi jelas bukan hal biasa.
Siswa itu panik. “Ini tadi pas aku mau tampil, tiba-tiba begini.”
Sherly terlihat bingung. “Kamu sakit?”
“Enggak, Kak. Cuma gugup.”
Lulu berdiri tanpa sadar.
“Boleh aku lihat?”
Siswa itu mengangguk ragu.
Lulu mendekat, memperhatikan. Embun itu tidak menyebar. Hanya berputar pelan di sekitar kulit, seperti napas yang terlihat di udara dingin.
Ia tahu rasa itu.
Bukan embunnya.
Tapi paniknya.
“Kamu tarik napas pelan,” kata Lulu pelan. “Enggak usah mikir orang-orang di depan. Fokus ke satu hal saja.”
Siswa itu mengikuti, meski terlihat tidak yakin.
“Napas… tahan sebentar… lalu keluar pelan.”
Beberapa detik berlalu.
Embun di pergelangan tangan mulai menipis.
Tidak hilang total, tapi tidak lagi berputar liar.
Sherly memperhatikan dengan mata sedikit membesar.
“Sudah mendingan?” tanya Lulu.
Siswa itu melihat tangannya sendiri. “Iya… kayaknya iya.”
“Kalau nanti muncul lagi, jangan panik. Itu cuma respon tubuh.”
Siswa itu mengangguk cepat. “Makasih, Kak.”
Ia pergi dengan langkah lebih ringan.
Sherly menatap Lulu begitu siswa itu menjauh.
“Kamu tahu itu apa?”
Lulu mengangkat bahu kecil. “Cuma gugup.”
“Gugup sampai berembun?”
Lulu tidak langsung menjawab.
Festival tetap berjalan. Tidak ada yang memperhatikan kejadian kecil itu. Musik kembali terdengar. MC bercanda lagi.
Sherly akhirnya berkata pelan, “Akhir-akhir ini memang banyak yang aneh.”
Lulu menoleh. “Aneh gimana?”
“Kemarin waktu lomba debat, lampunya sempat redup sendiri pas salah satu anak marah. Tadi pagi aku lihat anak kelas sebelas nangis, terus kertas di mejanya basah kayak kena hujan.”
Lulu terdiam.
Hal-hal kecil.
Tidak cukup besar untuk bikin heboh.
Tapi cukup untuk diperhatikan.
“Biasanya kan cuma kamu yang… ya…” Sherly menggantung kalimatnya.
“Yang apa?”
Sherly ragu, lalu tersenyum canggung. “Yang unik.”
Lulu ikut tersenyum tipis.
Di dalam dadanya, ada perasaan aneh.
Selama ini ia merasa sendirian dalam hal itu.
Ternyata mungkin tidak.
Dari arah panggung, suara musik berhenti lagi. Adrian turun dari tangga dan berjalan cepat ke arah mereka.
“Ada yang lihat peserta nomor delapan?” tanyanya.
“Tadi ke belakang panggung,” jawab Sherly.
Adrian mengangguk, lalu baru menyadari suasana meja mereka agak berbeda.
“Ada apa?”
“Enggak ada,” jawab Lulu lebih dulu.
Adrian menatapnya beberapa detik. Tatapannya turun sekilas lagi ke arah rambutnya.
Bunga itu masih ada.
Ia tidak menutupinya.
Adrian tidak berkomentar kali ini.
“Kamu tadi bantu anak kelas sepuluh itu ya?” tanyanya.
Lulu terkejut sedikit. “Kamu lihat?”
“Iya. Kamu kelihatan… beda waktu ngomong sama dia.”
“Beda gimana lagi?” Lulu mulai lelah dengan kata itu.
“Lebih tenang.”
Ia tidak tersenyum. Tidak bercanda.
“Kayak kamu tahu persis apa yang harus dilakukan.”
Lulu tidak tahu harus menjawab apa.
Ia hanya melakukan apa yang ia harap dulu seseorang lakukan padanya.
“Cuma nyuruh napas,” katanya pelan.
“Itu tetap bantu.”
Adrian berdiri sebentar, lalu menepuk ringan sisi meja.
“Kadang orang cuma butuh itu.”
Ia pergi lagi sebelum Lulu sempat merespons.
Sherly menyenggolnya pelan. “Dia makin sering ngomong serius sama kamu.”
“Dia memang panitia.”
“Bukan itu maksudku.”
Lulu mengabaikan komentar itu.
Ia duduk kembali.
Bunga di rambutnya terasa lebih ringan sekarang.
Bukan karena hilang.
Tapi karena untuk beberapa menit tadi, ia tidak memikirkan apakah orang melihat atau tidak.
Ia hanya fokus pada orang lain.
Dan itu membuatnya stabil.
Matahari mulai turun sedikit. Bayangan panggung memanjang.
Festival masih akan berlangsung beberapa jam lagi.
Lulu tahu hari ini belum selesai.
Masih ada kemungkinan ia kehilangan kendali.
Masih ada kemungkinan ia panik lagi.
Tapi sejauh ini, ia bertahan.
Dan yang lebih aneh lagi, di tengah semua kebisingan dan fluktuasi kecil yang mulai terasa di sekelilingnya, ia tidak merasa sepenuhnya sendirian dalam hal itu lagi.
Menjelang sore, udara mulai lebih sejuk. Langit berubah oranye tipis, dan lampu-lampu panggung dinyalakan satu per satu.
Festival masuk ke sesi terakhir sebelum istirahat besar. Lomba band antar kelas.
Kerumunan semakin rapat di depan panggung. Suara gitar disetel, drum dicoba-coba, mikrofon berdesis.
Lulu berdiri sedikit lebih belakang sekarang, dekat meja sound system. Bukan karena menghindar, tapi karena tugasnya memang di situ.
Sherly sibuk dengan rekap final sementara.
Adrian mondar-mandir memastikan semua siap.
Lulu memperhatikan sekeliling.
Ia mulai sadar sesuatu.
Bukan cuma anak kelas sepuluh tadi.
Beberapa siswa lain juga terlihat lebih sensitif hari ini.
Seorang siswi tertawa terlalu keras dan rambutnya sedikit mengembang seperti terkena listrik statis.
Seorang anak laki-laki terlihat kesal dan udara di sekitarnya terasa lebih hangat.
Hal-hal kecil.
Tidak cukup untuk membuat guru panik.
Tapi cukup untuk terasa.
Band pertama mulai tampil. Musik keras mengguncang udara. Sorakan bercampur tepuk tangan.
Lulu menahan napas sejenak.
Energi seperti ini biasanya memicu sesuatu di dalam dirinya.
Ia bisa merasakan bunga di rambutnya bergetar halus mengikuti ritme bass.
Ia menunduk sedikit, mencoba menstabilkan diri.
Fokus.
Suara.
Langkah kaki.