Setelah pengumuman observasi di kelas Teori Harmoni Mana, suasana sekolah tidak benar-benar berubah. Tidak ada kepanikan. Tidak ada yang lari ke UKS.
Tapi ada rasa ingin tahu yang tidak bisa disembunyikan.
Di kantin, topik yang biasanya soal nilai atau band favorit sekarang sedikit bergeser.
“Kalau mana aku ternyata unik gimana?”
“Unik itu bagus apa enggak sih?”
“Kalau dipanggil guru, aku pura-pura sakit aja.”
Sherly duduk di depan Lulu sambil mengaduk es teh yang hampir habis.
“Aku tetap enggak suka kata ‘observasi’,” katanya. “Kedengarannya kayak kita objek percobaan.”
“Pak Armand bilang sukarela.”
“Iya, tapi tetap aja.”
Lulu tidak langsung menanggapi. Ia lebih sibuk memperhatikan sekitar.
Seorang siswa di meja sebelah terlihat kesal karena temannya menertawakan jawabannya. Udara di sekitar gelas plastiknya bergetar halus, seperti riak tipis.
Tidak ada yang sadar.
Kecuali Lulu.
Ia mengalihkan pandangan sebelum terlalu lama memperhatikan.
“Lu.”
Ia menoleh.
Adrian berdiri di samping meja mereka, membawa nampan dengan dua piring.
“Kalian bahas observasi juga?”
Sherly langsung menunjuk Lulu. “Ini nih, calon peserta paling stabil.”
Lulu mendesah pelan. “Sher…”
Adrian duduk di kursi kosong tanpa diminta. “Aku juga dapat email tadi pagi. Panitia inti dianjurkan ikut duluan.”
“Kamu mau?” tanya Sherly.
“Ya kenapa enggak. Paling cuma scan aura sama tes dasar.”
Ia terlihat santai.
Terlalu santai.
“Kamu enggak khawatir?” tanya Lulu pelan.
“Khawatir apa?”
“Kalau ternyata polanya aneh.”
Adrian tersenyum kecil. “Semua orang aneh, Lu. Itu normal.”
Kalimat itu terdengar ringan, tapi Lulu tidak bisa sepenuhnya setuju.
Ada jenis aneh yang bisa ditertawakan.
Ada jenis aneh yang harus disembunyikan.
Ia tidak menjelaskan itu.
“Kamu ikut?” tanya Adrian lagi, kali ini lebih fokus padanya.
Lulu ragu sepersekian detik.
Kalau ia tidak ikut, justru akan mencurigakan.
Kalau ikut, datanya akan terlihat.
“Kalau diminta, ya ikut.”
Adrian mengangguk puas, seolah itu jawaban yang benar.
“Nanti kalau jadwalnya keluar, bareng aja.”
Sherly langsung menyeringai. “Oh, bareng.”
“Biar enggak tegang,” bela Adrian.
Lulu hanya meminum airnya tanpa komentar.
Setelah makan siang, pengumuman jadwal observasi benar-benar keluar.
Ditempel di papan pengumuman dekat ruang laboratorium mana.
Beberapa siswa berkerumun membaca.
Lulu berdiri sedikit di belakang, mencoba tidak terlalu terlihat tertarik.
Sherly lebih dulu menemukan nama mereka.
“Ini! Kelas dua belas IPA satu, besok sepulang sekolah.”
Jantung Lulu berdetak lebih cepat.
Besok.
Cepat sekali.
Adrian yang berdiri di sisi lain papan menoleh ke arah Lulu.
“Besok kita ketemu lagi di lab mana.”
Nada suaranya santai, seperti mengajak belajar kelompok.
Lulu mengangguk kecil.
Di dalam kepalanya, banyak kemungkinan berjalan bersamaan.
Apakah mereka akan membaca pola bunga itu?
Apakah grafiknya akan terlihat jelas seperti yang Pak Armand tampilkan tadi?
Apakah nama ayahnya akan ikut muncul dalam diskusi?
Sore itu, sepulang sekolah, Lulu tidak langsung pulang.
Kakinya secara refleks membawa dirinya ke gang sempit di samping gedung sekolah.
Arcane Brew terlihat seperti biasa. Pintu kayu setengah terbuka, lonceng kecil berbunyi saat ia masuk.
Udara di dalam jauh lebih tenang dibanding koridor sekolah.
Rian berdiri di belakang bar, menyusun cangkir.
Ia tidak terkejut melihatnya.
“Kamu kelihatan lebih cepat dari biasanya,” katanya tanpa menoleh.
“Observasi sekolah mulai besok,” jawab Lulu langsung, tanpa basa-basi.
Rian berhenti sejenak, lalu melanjutkan menyusun cangkir.
“Sudah diumumkan ya.”
Lulu memperhatikan itu.
Kamu sudah tahu.
“Sekolah kirim data ke kamu?” tanyanya.
Rian akhirnya menoleh.
“Diskusi awal saja.”
“Diskusi apa?”
“Pola fluktuasi.”
Nada suaranya tetap datar, tapi matanya sedikit lebih tajam.
Lulu berjalan mendekat ke bar.
“Polanya aneh?”
“Tidak.”
Jawaban itu terlalu cepat.
Rian mengambil gelas, mulai menuangkan espresso.
“Polanya… konsisten.”
“Konsisten itu bagus atau buruk?”
“Biasanya bagus.”
Biasanya.
Lulu menatap permukaan meja kayu di depannya.
“Aku ikut observasi besok.”
Rian mengangguk kecil.
“Datang saja seperti biasa. Jangan terlalu dipikirkan.”
“Mudah buat kamu bilang begitu.”
Rian berhenti sejenak, lalu menatapnya lebih serius.
“Kalau datanya menunjukkan sesuatu yang berbeda, itu bukan berarti kamu rusak.”
Kalimat itu membuat Lulu terdiam.
Ia tidak bilang takut dianggap rusak.
Tapi Rian langsung mengarah ke sana.
“Itu cuma pola,” lanjutnya. “Pola bisa dibaca. Dipahami.”
“Dan diperbaiki?”
“Tidak semua pola perlu diperbaiki.”
Mata mereka bertemu beberapa detik.
Di sekolah, kata “terstruktur” terasa seperti sorotan.
Di sini, kata “pola” terasa seperti kemungkinan.
Lulu menunduk sedikit, menyentuh sisi rambutnya.
Tidak ada bunga besar hari ini.
Hanya rasa hangat tipis.
“Kalau ternyata polanya terlalu jelas?” tanyanya pelan.
Rian tidak langsung menjawab.
Ia mendorong secangkir latte ke arahnya.
“Kalau terlalu jelas, berarti kamu tidak lagi sembunyi.”
Jawaban itu sederhana.
Tapi entah kenapa, lebih menenangkan daripada semua penjelasan ilmiah di kelas tadi pagi.
Di luar, suara kendaraan lewat terdengar samar.
Besok, namanya akan masuk ke data resmi sekolah.
Besok, grafik itu mungkin akan lebih terang.
Dan untuk pertama kalinya, Lulu tidak hanya merasa takut.
Ada sedikit rasa ingin tahu yang tumbuh di dalam dirinya.
Seperti kelopak yang membuka, pelan, tapi tidak lagi ingin langsung dipotong.
Keesokan harinya, suasana kelas terasa sedikit berbeda.
Bukan karena ada pengumuman besar. Bukan juga karena ada guru baru masuk.
Tapi karena semua orang tahu sepulang sekolah mereka akan masuk laboratorium mana.
Beberapa siswa pura-pura santai. Beberapa terlalu santai.
Sherly dari pagi sudah mengeluh.
“Kalau nanti ada alat aneh nempel di kepala aku, aku kabur ya.”
“Enggak akan,” jawab Lulu lagi, meski ia sendiri tidak sepenuhnya yakin.
Adrian duduk di bangku belakang, mengetuk-ngetukkan pulpen ke meja.
“Paling cuma scan aura dasar,” katanya. “Aku pernah lihat waktu kelas sepuluh.”
“Kamu enggak deg-degan?” tanya Sherly.
“Enggak juga.”
Lalu ia menoleh ke Lulu.
“Kamu?”
Lulu menatap buku di depannya. “Biasa saja.”
Itu tidak sepenuhnya bohong.
Ia memang tidak panik.
Tapi ada ketegangan tipis di bahunya yang sulit diabaikan.
Bel pulang berbunyi lebih cepat dari biasanya.
Atau mungkin hanya terasa begitu.
Sekelompok siswa kelas dua belas berjalan bersama ke gedung laboratorium mana di sisi timur sekolah. Gedung itu jarang dipakai untuk praktik biasa. Lebih sering untuk demonstrasi atau penelitian kecil.
Pintunya terbuka.
Di dalam, ruangan luas dengan lantai abu-abu mengilap dan beberapa meja rendah berlapis kaca. Di dinding belakang, panel tipis dengan garis cahaya biru menyala pelan.
Pak Armand sudah berdiri di sana bersama dua guru lain.
“Tenang saja,” katanya sebelum ada yang sempat bertanya. “Ini bukan tes kelulusan.”
Beberapa siswa tertawa kecil.
“Silakan duduk bergantian di kursi tengah. Alat hanya membaca pola dasar resonansi mana kalian. Tidak sakit.”
Kursi tengah itu sederhana. Hanya kursi dengan lingkaran tipis di lantai sekelilingnya.
Satu per satu siswa maju.
Ketika salah satu siswa duduk, garis biru di panel berubah menjadi hijau tipis, membentuk gelombang.
Beberapa pola naik turun biasa saja.
Tidak ada yang aneh.
Sherly maju lebih dulu sebelum Lulu.
Ia duduk kaku, memegang lutut sendiri.
“Relax,” kata salah satu guru sambil tersenyum.
Panel menunjukkan garis yang sedikit bergetar, lalu stabil.
“Normal.”
Sherly turun dengan wajah lega. “Tuh kan, cuma kayak ditimbang.”
Giliran Adrian.
Ia duduk tanpa ragu.
Panel menyala lebih terang sebentar, lalu membentuk pola yang cukup rata, hanya sesekali lonjakan kecil.
“Stabil,” kata Pak Armand.
Adrian turun, melirik Lulu sekilas. “Enggak serem.”
Sekarang tinggal beberapa orang lagi.
Nama Lulu dipanggil.
Dadanya terasa lebih berat dari tadi.
Ia melangkah maju.
Langkahnya tidak goyah, tapi ia sadar semua mata mengarah ke kursi itu sekarang.
Bukan karena ia berbeda.
Karena memang gilirannya.
Ia duduk.
Lingkaran tipis di lantai menyala lembut di bawah kakinya.
Panel di dinding awalnya menunjukkan garis biru biasa.
Lalu perlahan, warnanya berubah.
Bukan hijau seperti yang lain.
Lebih ke arah emas pucat.
Garisnya tidak naik turun liar.
Ia membentuk pola berulang.
Seperti lengkungan kecil yang tersusun rapi.
Ruangan menjadi sedikit lebih sunyi.
Pak Armand mendekat ke panel.
“Menarik,” gumamnya, hampir ke diri sendiri.
Lulu merasakan hangat di sisi kepalanya.
Bukan ledakan.
Hanya getaran halus.
Ia tahu apa yang terjadi tanpa perlu menyentuh rambutnya.
Bunga kecil itu muncul lagi.
Bukan besar.
Tapi cukup terasa.
Panel di dinding menampilkan bentuk yang lebih jelas sekarang.
Lengkungan-lengkungan itu saling bertemu, membentuk sesuatu yang hampir simetris.
Salah satu guru berbisik, “Ini bukan fluktuasi acak.”
Pak Armand tidak terlihat khawatir.
Justru sebaliknya.
“Cukup,” katanya akhirnya. “Kamu bisa turun.”
Lulu berdiri perlahan.
Tidak ada sirene.
Tidak ada alarm.
Hanya beberapa pasang mata yang penasaran.
Adrian mendekat saat ia kembali ke barisan.
“Kamu oke?”
“Iya.”
Sherly berbisik, “Warnanya beda.”
“Iya.”
“Kenapa?”
“Enggak tahu.”
Tapi sebenarnya ia bisa menebak.
Karena ini bukan kebocoran.
Ini pola.
Setelah semua selesai, Pak Armand berdiri di depan mereka lagi.
“Terima kasih. Seperti yang saya katakan, tidak ada yang perlu dikhawatirkan.”
Ia menatap layar sebentar.
“Beberapa dari kalian menunjukkan struktur resonansi yang lebih kompleks. Itu bukan berarti tidak stabil. Justru sebaliknya.”
Beberapa siswa terlihat lega.
Lulu tidak tahu harus merasa apa.
Kompleks.
Bukan rusak.
Kata-kata itu terasa berbeda.
Saat mereka keluar dari laboratorium, Adrian berjalan di sampingnya.
“Kamu lihat tadi?”
“Iya.”
“Keren.”
Lulu menoleh. “Keren?”
“Iya. Polanya beda dari yang lain. Enggak berantakan.”
Ia tersenyum kecil.
Lulu tidak membalas senyumnya sepenuhnya.
Ia senang Adrian tidak takut.
Tapi ia juga sadar, bagi Adrian, itu hanya sesuatu yang menarik.
Bukan sesuatu yang hidup di kepalanya.
Di ujung koridor, Pak Armand berbicara pelan dengan salah satu guru lain.
“Data ini perlu kita diskusikan.”
“Dengan siapa?”
Pak Armand menjawab singkat.
“Ardhana.”
Nama itu tidak terdengar keras.
Tapi cukup jelas.
Dan entah kenapa, Lulu merasa napasnya sedikit berubah saat mendengarnya.
Di luar gedung, matahari sore mulai turun.
Ia menyentuh rambutnya pelan.
Kelopak kecil itu benar-benar ada lagi.
Dan sekarang, bukan hanya ia yang tahu.
Setelah keluar dari gedung laboratorium, suasana langsung berubah lagi jadi ramai seperti biasa.
Beberapa siswa tertawa lega. Ada yang bercanda soal warna aura masing-masing.
“Aura aku kayak WiFi lemah,” celetuk seseorang.
“Yang penting enggak merah nyala kayak sirene.”
Sherly berjalan di sisi Lulu, masih terlihat kagum.
“Serius deh, tadi warna kamu beda banget.”
“Cuma beda warna,” jawab Lulu pelan.
“Bukan cuma warna. Polanya juga.”
Lulu tidak menjawab.
Ia masih bisa membayangkan lengkungan-lengkungan di layar tadi. Teratur. Tidak meledak. Tidak liar.
Seperti sesuatu yang tumbuh dengan sadar.
Adrian menyusul dari belakang.
“Kalian mau ke mana?”
“Gerbang,” jawab Sherly. “Aku mau langsung pulang. Hari ini capek banget.”
Adrian menoleh ke Lulu. “Kamu?”
“Aku…” Lulu ragu sepersekian detik. “Mampir sebentar.”
Sherly langsung tahu maksudnya, tapi tidak berkata apa-apa.
“Oke. Besok ketemu,” katanya sebelum berpisah.
Tinggal Lulu dan Adrian yang berjalan pelan menyusuri koridor.
“Aku enggak tahu kalau pola bisa sejelas itu,” kata Adrian tiba-tiba.
“Biasanya enggak jelas?”
“Biasanya naik turun biasa saja. Tadi kayak… gambar.”
Lulu menunduk sedikit.
“Itu berarti aneh.”
“Enggak,” Adrian cepat menjawab. “Berarti unik.”
Ia berhenti sebentar di depan tangga.
“Kamu takut?”
Pertanyaan itu sederhana.
Lulu berpikir sebentar.
“Enggak takut,” katanya akhirnya. “Cuma… belum tahu harus gimana.”
Adrian mengangguk pelan.
“Menurutku enggak perlu gimana-gimana dulu. Tunggu saja.”
Mudah untuk bilang begitu.
Lulu tahu Adrian bermaksud baik.
Tapi ia juga tahu, Adrian tidak sepenuhnya mengerti bagaimana rasanya hidup dengan sesuatu yang bisa terlihat orang.
Mereka sampai di gerbang sekolah.
“Kamu mau kutemani?” tanya Adrian.
“Enggak usah.”
“Yakin?”
“Iya.”
Adrian tidak memaksa.
“Kalau nanti ada apa-apa, bilang ya.”
“Iya.”
Ia berdiri beberapa detik sebelum akhirnya berjalan menjauh.
Lulu menunggu sampai ia tidak lagi terlihat jelas, lalu berbelok ke arah gang sempit.
Langkahnya tidak terburu-buru.
Ia tidak sedang kabur.
Ia hanya ingin tahu sesuatu.
Arcane Brew masih cukup sepi sore itu. Satu pelanggan duduk di pojok dengan laptop terbuka.
Lonceng pintu berbunyi pelan saat ia masuk.
Rian berdiri di belakang bar seperti biasa.
“Kamu selesai observasi.”
Bukan pertanyaan.
“Iya.”
“Bagaimana?”
Lulu duduk di kursi favoritnya.
“Warnanya beda.”
Rian mengangguk kecil. “Emas.”
Lulu terdiam.
“Kamu sudah lihat datanya?”
“Dikirim tadi siang.”
“Dan?”
Rian menuangkan air panas perlahan ke atas bubuk kopi.
“Dan itu bukan pola kebocoran.”
“Terus?”
“Itu pola resonansi.”
Ia mendorong cangkir ke arah Lulu.
“Bedanya?”
“Kebocoran itu acak. Tidak terarah. Milikmu berulang. Stabil. Hanya muncul saat ada stimulus emosional tertentu.”
Lulu memegang cangkir itu, merasakan hangatnya di telapak tangan.
“Jadi ini bukan masalah?”
Rian menatapnya sebentar sebelum menjawab.
“Masalah itu tergantung siapa yang melihat.”
Jawaban itu membuat Lulu sedikit kesal.
“Aku tanya serius.”
“Aku juga jawab serius.”
Ia bersandar ringan ke meja bar.
“Kalau sekolah melihatnya sebagai adaptasi, itu perkembangan. Kalau biro keamanan melihatnya sebagai potensi risiko, itu investigasi.”
Kata terakhir membuat Lulu menegang.
“Kamu pikir mereka akan sampai ke sana?”
“Belum.”
Jawaban itu tenang. Tidak dramatis.
“Pak Armand hanya ingin diskusi. Bukan laporan resmi.”
Lulu menunduk.
Bunga kecil itu muncul lagi saat duduk di sini.
Bukan besar.
Tapi terasa.
“Waktu duduk di kursi tadi, aku ngerasa hangat,” katanya pelan.
“Karena kamu tidak menekan.”
Rian menjawab tanpa ragu.
“Kalau kamu terus potong sebelum pola selesai terbentuk, grafiknya tidak akan pernah stabil.”
Lulu menatapnya.
“Jadi aku harus biarkan?”
“Bukan harus. Tapi kamu bisa coba mengamati tanpa langsung menghakimi.”
Kalimat itu tidak terdengar seperti perintah.
Lebih seperti opsi.
Di sekolah tadi, ia merasa disorot.
Di sini, ia merasa dibaca.
Itu berbeda.
“Pak Armand sebut namamu,” kata Lulu tiba-tiba.
Rian mengangkat alis tipis.
“Di koridor. Setelah observasi.”
“Hmm.”
“Kamu bakal ke sekolah?”
“Mungkin.”
Jawaban itu membuat jantung Lulu bergetar sedikit.
“Mungkin kapan?”
“Kalau diskusinya butuh tatap muka.”
Rian menatap cangkir di tangannya.
“Dan kalau aku datang, itu bukan untuk memeriksa kamu.”
Ia mengangkat pandangan lagi.
“Itu untuk memahami pola.”
Lulu tidak tahu kenapa kalimat itu terasa lebih personal daripada yang seharusnya.
Di luar, cahaya sore mulai berubah lebih gelap.