Mana Barista : Aku Belajar Mengendalikan Sihirku Tapi Tidak Pernah Belajar Mengendalikan Perasaanku

Lyneetra Studio
Chapter #13

Episode 11 : The Pattern That Refuses to Stay Hidden

Keesokan hari setelah sesi observasi lab, Suasana sekolah keesokan harinya tidak jauh berbeda dari hari biasa, tapi Lulu bisa merasakannya, ada sesuatu yang bergeser tipis. Bukan kepanikan, bukan kegembiraan berlebihan. Lebih seperti semua orang menyimpan satu hal di kepala masing-masing dan memilih untuk tidak membicarakannya terlalu keras.

Di kantin, obrolan tetap berjalan seperti biasa. Tapi beberapa kali Lulu menangkap sepotong kalimat yang terhenti terlalu cepat ketika orang yang berbicara sadar ada yang mendengarkan.

"Katanya yang warnanya emas itu polanya paling stabil."

"Siapa?"

"Enggak tahu. Tapi grafiknya beda dari yang lain."

Lulu mengalihkan pandangannya ke nampan di depannya.

Sherly duduk di seberangnya dengan es teh di tangan dan ekspresi yang sudah Lulu kenali sebagai tanda ia sedang menahan banyak kata sekaligus. "Jadi," kata Sherly, memulai dengan nada yang terlalu santai untuk benar-benar santai, "grafik kamu kemarin itu."

"Aku tahu."

"Kuning."

"Emas."

"Sama saja." Sherly menyesap tehnya. "Kamu oke?"

Lulu memotong makanannya tanpa terburu-buru. "Aku Baik."

"Serius?", Shery bertanya

"Serius."

Sherly menatapnya beberapa detik, lalu mengangguk pelan seperti seseorang yang memutuskan untuk mempercayai jawaban itu meski belum sepenuhnya yakin. "Oke. Aku percaya."

Adrian datang beberapa menit kemudian dengan nampan yang terlalu penuh dan ekspresi yang lebih ringan dari kemarin. Ia duduk di kursi kosong di samping Lulu tanpa meminta izin, seperti biasa.

"Tadi pagi Pak Armand kelihatan lebih santai," katanya sambil mengatur makanan di nampannya. "Kemarin waktu di lab dia tegang."

"Karena datanya keluar sesuai yang diharapkan mungkin," kata Sherly.

"Mungkin." Adrian menoleh ke Lulu. "Kamu sudah lihat grafik lengkapnya?"

"Belum."

"Pak Armand bilang akan dibagikan hari ini."

Lulu mengangguk. Ia tahu itu. Tapi ada perbedaan antara mengetahui sesuatu akan terjadi dan siap menghadapinya ketika memang terjadi.

Setelah makan siang, Pak Armand masuk ke kelas dengan map yang lebih tebal dari biasanya dan meletakkannya di meja tanpa banyak pengantar.

"Kita tidak masuk ke materi baru hari ini," katanya. "Kita lihat hasilnya bersama."

Layar di depan kelas menyala.

Grafik kolektif dari sesi observasi kemarin ditampilkan, bukan data individual, tapi pola keseluruhan dari seluruh siswa yang ikut. Garis-garis berwarna berbeda bergerak dalam ritme yang tidak seragam tapi tidak juga kacau. Ada yang pendek dan rapi, ada yang lebih panjang dan sedikit tidak beraturan di ujungnya.

Dan di sisi kanan atas grafik, ada satu lengkungan yang berbeda dari yang lain.

Tidak ada nama di sana.

Tapi Lulu tahu.

"Ini yang kami sebut resonansi adaptif," kata Pak Armand sambil menunjuk pola itu dengan penggaris. "Bukan lonjakan. Bukan fluktuasi. Tapi pertumbuhan yang stabil dan terarah." Ia memandang kelas. "Ini bukan anomali. Ini yang pertama kali muncul sejelas ini pada kelompok usia kalian."

Beberapa siswa diam.

Beberapa berbisik ke yang di sebelahnya.

Seorang siswa di baris depan mengangkat tangan. "Pak, itu polanya satu orang atau gabungan?"

"Satu individu," jawab Pak Armand tanpa menunjuk siapa pun. "Tapi pola serupa, meski lebih kecil, mulai muncul di beberapa titik lain juga."

Lulu menatap layar itu.

Di sebelahnya, Adrian tidak bergerak. Ia hanya memandang grafik yang sama dengan ekspresi yang tidak bisa Lulu baca sepenuhnya.

"Ini masuk ke laporan?" tanya seseorang lagi.

"Data kolektifnya iya. Data individual tidak akan dibagikan tanpa persetujuan masing-masing siswa." Pak Armand menutup map di mejanya. "Kalian punya hak atas data kalian sendiri."

Kata-kata itu terdengar seperti penegasan yang sudah lama perlu dikatakan.

Lulu menulis sesuatu di sudut buku catatannya. Bukan materi. Hanya satu kalimat yang muncul begitu saja.

Hak atas data sendiri artinya hak atas cerita sendiri.

Sore itu lab dibuka untuk diskusi kecil yang tidak diwajibkan. Pak Armand hanya menyebutnya di akhir pelajaran, singkat, tanpa penekanan khusus. Tapi ketika Lulu sampai di sana setelah bel berbunyi, sudah ada beberapa siswa yang datang.

Rian berdiri di samping layar yang menampilkan versi lain dari grafik tadi, lebih detail, dengan titik-titik kecil yang menunjukkan waktu kemunculan masing-masing pola.

Lulu duduk di kursi paling dekat dengan pintu.

Pak Armand membuka sesi dengan satu pertanyaan sederhana. "Ada yang ingin ditanyakan tentang data kemarin?"

Beberapa siswa mengangkat tangan bergantian.

"Kenapa polanya bisa berbeda-beda?"

"Apakah stabilitas pola bisa berubah seiring waktu?"

Lihat selengkapnya