Mana Barista : Aku Belajar Mengendalikan Sihirku Tapi Tidak Pernah Belajar Mengendalikan Perasaanku

Lyneetra Studio
Chapter #14

Episode 12 : Hal yang Tak Meminta Izin

Keesokan hari setelah diskusi terbuka. Pagi. Sekolah.

Lulu tiba di sekolah lebih awal dari biasanya.

Bukan karena ada yang harus diselesaikan, dan bukan karena ia tidak bisa tidur. Semalam ia tidur cukup, bahkan lebih tenang dari beberapa malam terakhir. Tapi matanya terbuka sendiri sebelum alarm berbunyi, dan setelah berbaring beberapa menit tanpa tujuan, ia memutuskan untuk bangun saja.

Koridor lantai dua masih sepi ketika ia sampai. Beberapa lampu belum sepenuhnya menyala, masih dalam mode hemat daya yang membuat warna dinding sekolah terlihat lebih pucat dari biasanya. Suara langkahnya sendiri terdengar lebih keras karena tidak ada yang menyainginya.

Ia berjalan pelan ke arah kelasnya, melewati papan pengumuman yang kemarin masih ramai dengan kertas baru, sekarang terlihat biasa saja. Pengumuman tentang sesi lanjutan program observasi sudah ditempel di sudut kanan, kertasnya masih bersih dan rata.

Lulu berhenti sebentar di depannya.

Sesi lanjutan. Dua minggu lagi. Sifatnya sukarela.

Ia membaca kalimat terakhir itu dua kali, lalu melanjutkan langkahnya.

Sherly datang dua puluh menit kemudian dengan rambut yang belum sepenuhnya rapi dan satu kaus kaki yang berbeda warna, sesuatu yang tidak ia sadari sampai Lulu menunjuknya dengan pandangan mata saja.

"Aduh." Sherly menatap kakinya sendiri. "Aku buru-buru."

"Iya, kelihatan."

Sherly duduk di bangkunya dan mengeluarkan buku dari tas dengan cara yang tidak terlalu teratur. "Kamu sudah dari tadi?"

"Cukup lama."

"Kenapa?"

"Tidak ada alasan khusus."

Sherly menatapnya sebentar dengan ekspresi yang tidak sepenuhnya percaya, tapi tidak melanjutkan pertanyaan. Ia membuka bukunya dan mulai membaca, atau paling tidak berpura-pura membaca.

Beberapa menit berlalu.

"Kemarin kamu kelihatan berbeda," kata Sherly akhirnya, masih menatap halaman bukunya. "Waktu kamu bicara di depan."

Lulu tidak langsung menjawab. Ia meletakkan penanya di atas meja. "Berbeda bagaimana."

"Tidak seperti orang yang sedang menjelaskan sesuatu." Sherly menoleh. "Lebih seperti orang yang sedang bilang sesuatu yang sudah lama ia tahan."

Lulu memandang mejanya sendiri beberapa detik.

"Mungkin memang begitu," jawabnya.

Sherly mengangguk kecil, lalu kembali ke bukunya. Tidak ada pertanyaan lanjutan. Tidak ada komentar tambahan. Dan justru itu yang membuat Lulu merasa lebih ringan dari yang ia duga.

Pak Armand masuk kelas tepat saat bel berbunyi, seperti biasa, dengan langkah yang tidak terburu-buru tapi juga tidak lambat.

"Hari ini kita tidak masuk ke materi baru," katanya sambil meletakkan map tipis di atas meja guru. "Kita bicara tentang apa yang kalian rasakan setelah kemarin."

Beberapa siswa saling pandang.

"Bukan laporan," lanjut Pak Armand. "Tidak ada yang harus ditulis. Saya hanya ingin tahu apakah ada yang ingin disampaikan."

Ruangan diam selama beberapa detik yang terasa lebih panjang dari seharusnya.

Seorang siswa di baris ketiga akhirnya mengangkat tangan setengah jalan. "Pak, kemarin ada yang bilang resonansi generasi kita berbeda dari yang sebelumnya. Itu artinya kita lebih kuat?"

Pak Armand duduk di ujung mejanya. "Berbeda tidak selalu berarti lebih kuat. Berbeda berarti polanya tidak sama. Cara ia muncul, cara ia merespons kondisi, cara ia berkembang."

"Tapi kalau polanya lebih stabil, berarti lebih baik kan?"

"Stabilitas bukan satu-satunya ukuran." Pak Armand menyilangkan tangan di depan dadanya. "Resonansi yang stabil tapi tidak dipahami oleh pemiliknya sama tidak bergunanya dengan resonansi yang tidak stabil."

Lulu mencatat kalimat itu di sudut bukunya.

Di baris depan, seorang siswi bertanya dengan suara yang lebih pelan. "Pak, kalau kita pilih tidak ikut sesi lanjutan, apakah data kita tetap dipakai?"

Pak Armand menggeleng. "Data yang sudah dikumpulkan kemarin tetap ada sebagai bagian dari riset kolektif, tapi tidak ada identifikasi personal yang akan diteruskan tanpa persetujuan kalian. Kalian bisa membaca lengkapnya di lembar yang sudah dibagikan minggu lalu."

Siswi itu mengangguk, terlihat sedikit lebih tenang.

Lulu melihat ekspresi itu dan mengenalinya. Rasa lega ketika sesuatu yang tidak bisa dikontrol ternyata masih punya batas yang jelas.

Istirahat pertama, Adrian menemukan Lulu di dekat jendela ujung koridor, berdiri dengan punggung bersandar ke dinding dan mata menghadap ke halaman bawah.

"Tadi kamu kelihatan mikir berat," katanya, berdiri di sampingnya dengan jarak yang tidak terlalu dekat.

"Aku selalu mikir berat waktu pelajaran."

Adrian tertawa kecil. "Ini beda. Tadi kamu mencatat sesuatu terus berhenti lama banget."

Lulu meliriknya. "Kamu perhatiin."

"Selalu." Ia mengatakannya tanpa nada menggoda, lebih seperti pernyataan biasa, dan justru itu yang membuatnya terasa lebih berat.

Lulu mengalihkan pandangannya kembali ke halaman bawah. Beberapa siswa kelas bawah sedang duduk di bangku taman, ada yang makan, ada yang hanya duduk diam.

"Aku kepikiran apa yang Pak Armand bilang," kata Lulu. "Tentang resonansi yang stabil tapi tidak dipahami pemiliknya."

"Kenapa?"

"Karena aku rasa itu yang terjadi sama aku selama ini. Polanya mungkin sudah stabil dari dulu, tapi aku terlalu sibuk memotong sebelum sempat memahami."

Adrian diam sebentar. Ia memandang ke arah yang sama dengan Lulu.

"Tapi sekarang kamu tidak lagi potong."

"Sekarang tidak."

"Berarti kamu sedang memahami."

Lulu tidak langsung menjawab. Bukan karena ia tidak setuju, tapi karena kata memahami terasa terlalu besar untuk dikonfirmasi begitu saja. Memahami bukan sesuatu yang selesai dalam satu titik. Ia terasa lebih seperti proses yang tidak punya tanggal selesainya.

Lihat selengkapnya