Lulu tidak membawa topik itu kembali ke meja makan.
Bukan karena ia takut, dan bukan karena ia sudah lupa. Topik itu ada di kepalanya setiap pagi ketika ia turun ke dapur dan melihat ayahnya sudah duduk dengan kopi di tangan dan koran digital di layar kecil di atas meja. Mereka makan pagi bersama seperti biasa. Bram menanyakan apakah Lulu sudah sarapan cukup. Lulu menjawab iya. Percakapan berhenti di sana.
Ada perjanjian diam yang terbentuk malam itu tanpa perlu diucapkan. Kita akan bicara, tapi belum sekarang. Dan keduanya memegang perjanjian itu dengan caranya masing-masing.
Yang berubah hanya satu hal kecil. Sekarang ketika Lulu memandang ayahnya, ada lapisan baru yang ia lihat di balik sosok yang sudah ia kenal selama tujuh belas tahun. Bukan lapisan yang menakutkan. Lebih seperti dokumen yang belum selesai dibaca, dan ia tahu isinya akan penting, tapi ia belum sepenuhnya siap membuka halaman berikutnya.
Di sekolah, pagi itu lebih ramai dari biasanya karena ada kegiatan ekstrakurikuler yang bentrok jadwalnya dan menyebabkan beberapa koridor dipadati siswa yang kebingungan mencari ruangan mereka.
Lulu melewati semua itu dengan langkah yang stabil. Ia sudah terbiasa bergerak di tengah keramaian tanpa ikut menjadi bagian dari kekacauannya.
Sherly menyusulnya dari belakang dengan napas yang sedikit tersengal. "Kamu jalan cepat banget pagi ini."
"Kamu yang terlambat."
"Sama saja." Sherly menyejajarkan langkahnya. "Ada apa? Kamu kelihatan lagi mikir."
"Aku selalu mikir."
"Ini beda. Ini mikir yang berat sebelah."
Lulu melirik ke arahnya. "Berat sebelah artinya apa."
"Artinya ada yang kamu tahan di satu sisi tapi belum bisa kamu keluarkan." Sherly mengedikkan bahu. "Kamu kelihatan agak miring kalau jalan."
Lulu hampir tersenyum. "Itu tidak masuk akal secara fisik."
"Tapi kamu ngerti maksudku."
Lulu tidak menjawab, dan Sherly tidak mendesak. Mereka berjalan berdampingan sampai ke kelas, dan Sherly mengalihkan perhatiannya ke agenda hari itu seperti seseorang yang sudah puas hanya dengan menyampaikan apa yang perlu disampaikan.
Pak Armand tidak hadir pagi itu. Ada pemberitahuan singkat di papan bahwa beliau menghadiri pertemuan dengan tim riset eksternal, dan kelas akan diisi dengan sesi mandiri mengerjakan jurnal refleksi yang sudah dibagikan minggu lalu.
Ruangan menjadi lebih berisik dari biasanya dalam sepuluh menit pertama, kemudian perlahan menemukan ritmenya sendiri ketika masing-masing siswa mulai benar-benar membuka jurnal mereka.
Lulu membuka jurnalnya di halaman yang masih kosong.
Di bagian atas halaman tertulis pertanyaan panduan yang dicetak oleh sekolah. Bagaimana kamu menggambarkan hubungan antara kondisi emosionalmu dan resonansi yang kamu miliki sejauh ini?
Ia membaca pertanyaan itu dua kali.
Lalu ia menulis, pelan, dengan tulisan tangan yang lebih kecil dari biasanya.
Sebelumnya aku menggambarkannya sebagai sesuatu yang harus dikontrol. Sesuatu yang kalau dibiarkan akan terlihat salah. Sekarang aku tidak yakin lagi dengan deskripsi itu. Tapi aku juga belum punya deskripsi yang lebih tepat.
Ia berhenti, membaca ulang apa yang ia tulis, lalu melanjutkan.
Yang aku tahu sekarang adalah bahwa resonansiku tidak pernah muncul karena aku memintanya. Ia muncul karena ada sesuatu yang bergerak di dalam, dan ia hanya mengikuti. Selama ini aku pikir itu masalah. Mungkin sebenarnya bukan.
Di bangku sampingnya, Sherly menulis dengan cepat dan banyak, seperti seseorang yang sudah menyimpan jawaban sejak lama dan baru sekarang punya tempat untuk menuangkannya. Lulu memandang gerakan tangan Sherly sebentar, lalu kembali ke jurnalnya sendiri.
Adrian duduk dua baris di depan. Ia menulis dengan cara yang berbeda dari Sherly, lebih lambat, lebih berhati-hati, sesekali berhenti dan memandang ke depan sebelum kembali menulis. Lulu mengenal ritme itu. Adrian adalah orang yang tidak suka menulis hal yang tidak ia yakini sepenuhnya.
Ruangan tetap relatif tenang sampai bel berbunyi.
Saat istirahat, Adrian menghampiri Lulu di depan loker.
"Jurnal tadi susah," katanya langsung, sambil memasukkan buku ke dalam lokernya.
"Susah bagaimana."
"Pertanyaannya kelihatan simpel tapi waktu aku mulai nulis, aku sadar aku tidak benar-benar punya jawaban yang konkret." Ia menutup loker. "Kamu?"
"Aku nulis apa yang ada." Lulu menutup lokernya juga. "Tidak tahu apakah itu jawaban yang benar."
"Mungkin memang tidak ada jawaban yang benar untuk pertanyaan seperti itu."
"Pak Armand mungkin setuju dengan itu."
Adrian tertawa kecil. Mereka berjalan bersama ke arah kantin, tidak terburu-buru.
"Lu," kata Adrian setelah beberapa langkah.
"Iya."
"Kamu baik-baik saja?"
Lulu memandang ke depan. Lorong menuju kantin sudah mulai ramai dengan siswa yang bergerak ke arah yang sama. "Baik-baik saja artinya apa."
"Artinya ada yang sedang kamu proses dan aku tidak mau tiba-tiba tanya hal yang salah."
Lulu memperlambat langkahnya sedikit. "Ada sesuatu yang aku temukan tentang ayahku. Belum bisa aku ceritakan sekarang. Tapi aku baik-baik saja."