Mana Barista : Aku Belajar Mengendalikan Sihirku Tapi Tidak Pernah Belajar Mengendalikan Perasaanku

Lyneetra Studio
Chapter #17

Episode 15 : Perlahan Menjadi Jelas

Keesokan harinya, Sehari setelah Lulu memutuskan akan menghadiri presentasi tim riset eksternal.

Koridor sekolah, yang belum terlalu ramai ketika Lulu tiba.

Beberapa siswa baru mulai berdatangan dari gerbang, Lulu berjalan menuju lokernya. Buku yang ia beli kemarin sore, masih berada di tasnya.

Ia membuka loker dan mulai menukar beberapa buku pelajaran.

Adrian muncul dari arah tangga sambil membawa dua botol minum di tangannya. Ia berhenti ketika melihat Lulu.

"Kamu datang lebih pagi hari ini," katanya sambil mengangkat salah satu botol sedikit.

Lulu menutup lokernya dan bersandar ringan pada pintunya. "Aku ingin membaca sedikit sebelum kelas."

Adrian mengangkat alisnya. "Buku yang kemarin?"

Lulu mengangguk.

Adrian menyodorkan salah satu botol ke arahnya. "Aku bawa ini buat kamu."

Lulu menerima botol itu dan memandangnya sebentar. "Terima kasih."

Adrian menepuk bagian belakang lehernya sendiri dengan canggung kecil. "Aku tidak tahu kenapa, tapi aku merasa kamu akan datang lebih awal."

"Kamu sering merasa seperti itu?"

"Kadang." Adrian mengangkat bahu. "Terutama kalau kamu sedang memikirkan sesuatu."

Lulu membuka botol itu dan menyesap sedikit air. "Aku memang sedang memikirkan sesuatu."

Adrian memandangnya dengan ekspresi yang lebih serius dari biasanya. "Tentang presentasi minggu depan?"

"Iya."

Adrian bersandar ke loker di sebelahnya. "Aku juga akan datang."

Lulu menoleh.

"Kamu?" tanyanya.

Adrian mengangguk. "Pak Armand bilang beberapa siswa boleh ikut sebagai pendengar. Aku langsung daftar."

Lulu memandangnya beberapa detik sebelum berkata pelan, "Bagus."

Adrian tersenyum kecil. "Aku ingin dengar sendiri apa yang mereka pikirkan tentang kita."

"Kita?"

Adrian menggerakkan tangannya sedikit ke arah lorong. "Generasi ini."

Bel pertama berbunyi.

Suara itu memantul di dinding koridor seperti tanda bahwa hari sudah benar-benar dimulai.

Adrian mendorong dirinya menjauh dari loker. "Ayo."

Lulu menutup botol minumnya dan memasukkannya ke dalam tas.

Mereka berjalan ke kelas bersama.

Di dalam kelas, Pak Armand sudah berdiri di depan papan tulis dengan beberapa lembar dokumen di tangannya.

Ia menunggu sampai semua siswa duduk sebelum mulai berbicara.

"Minggu depan akan ada presentasi dari tim riset eksternal yang bekerja sama dengan beberapa lembaga penelitian mana," katanya sambil meletakkan dokumen di meja.

Beberapa siswa langsung saling melirik.

Pak Armand melanjutkan dengan nada yang tenang. "Presentasi ini tidak dimaksudkan untuk mengevaluasi kalian secara individu. Fokusnya adalah fenomena yang lebih besar."

Ia menulis dua kata di papan.

Resonansi Generasi.

"Kita akan membahas apa yang mulai muncul pada kalian sebagai kelompok," lanjutnya.

Lulu membuka buku catatannya.

Di bangku sebelahnya, Sherly sudah siap dengan pena di tangan.

Pak Armand memandang kelas sebentar sebelum melanjutkan.

"Selama bertahun-tahun, penelitian tentang resonansi berfokus pada kontrol. Bagaimana mencegah lonjakan energi yang berbahaya. Bagaimana menahan fluktuasi yang tidak stabil."

Ia berhenti sejenak.

"Kalian mungkin adalah generasi pertama yang membuat pendekatan itu tidak lagi cukup."

Beberapa siswa berhenti menulis.

Pak Armand berjalan pelan di depan kelas.

"Karena apa yang muncul pada kalian bukan hanya fluktuasi. itu terlihat seperti pola yang berkembang."

Lulu menulis kalimat itu di catatannya.

Pola yang berkembang.

Ia tidak tahu kenapa, tapi kata-kata itu terasa seperti sesuatu yang pernah ia dengar sebelumnya.

Ia memikirkan percakapannya dengan Selvara beberapa hari lalu di laboratorium.

Ia memikirkan kalimat yang sama.

Tumbuh.

Di sisi rambutnya, satu kelopak kecil mulai terbentuk.

Tidak ada yang memperhatikannya.

Lulu tidak menyentuhnya.

Ia hanya menulis kalimat berikutnya di catatan.

Resonansi tidak selalu reaksi. Kadang ia adalah proses.

Lihat selengkapnya