Mana Barista : Aku Belajar Mengendalikan Sihirku Tapi Tidak Pernah Belajar Mengendalikan Perasaanku

Lyneetra Studio
Chapter #18

Episode 16 : Yang Mulai Bergerak ke Tengah

Menjelang malam, setelah Lulu pulang dari Arcane Brew.

Rumah sudah dalam keadaan tenang ketika Lulu membuka pintu.

Lampu ruang tamu menyala dengan cahaya hangat yang tidak terlalu terang. Suara televisi terdengar pelan dari ruang keluarga, tapi tidak cukup jelas untuk menangkap isi beritanya.

Lulu melepas sepatu dan menaruh tasnya di kursi dekat pintu.

Ia tidak langsung masuk ke kamarnya.

Dari ambang lorong, ia melihat ayahnya duduk di meja makan dengan laptop terbuka. Layar itu menampilkan beberapa grafik yang Lulu tidak sepenuhnya mengerti, tapi ia mengenali pola yang mirip dengan yang pernah ia lihat di sekolah.

Bram tidak menyadari kehadirannya sampai Lulu melangkah lebih dekat.

"Ayah," kata Lulu sambil menarik kursi di seberangnya.

Bram mengangkat wajah dari layar dan menutup laptopnya perlahan.

"Kamu sudah pulang," katanya.

Lulu mengangguk. "Aku mampir ke kafe tadi."

Bram menggeser cangkirnya sedikit ke samping, memberi ruang di meja. "Bagaimana sekolah hari ini?"

Lulu meletakkan tangannya di atas meja.

"Pak Armand mulai membahas resonansi generasi kami sebagai sesuatu yang lebih besar dari sekadar fluktuasi individu," katanya pelan.

Bram tidak langsung menjawab.

Ia memperhatikan Lulu beberapa detik sebelum berkata, "Itu cepat."

Lulu mengingat kalimat yang sama dari Rian beberapa jam lalu.

"Iya," jawabnya.

Bram membuka kembali laptopnya, tapi tidak langsung melihat layar. "Presentasi minggu depan kemungkinan akan menjadi titik awal untuk banyak hal."

Lulu menatapnya.

"Ayah sudah lihat materinya?" tanyanya.

Bram menggeleng pelan. "Belum secara lengkap. Hanya garis besar."

"Ayah akan bicara di sana?"

"Belum tentu."

Lulu mengangguk kecil.

Beberapa detik hening.

Lulu memandang permukaan meja.

"Ayah," katanya lagi, kali ini lebih pelan.

Bram mengangkat wajahnya.

"Kalau sesuatu memang sedang berubah," lanjut Lulu sambil menyatukan jari-jarinya, "Apakah semua perubahan harus langsung dimasukkan ke dalam sistem?"

Bram tidak menjawab segera.

Ia menutup laptopnya lagi, kali ini lebih tegas.

"Itu Tergantung, Apakah perubahan itu membawa risiko yang belum kita pahami."

Lulu menahan napas kecil.

"Kalau tidak dimasukkan ke dalam sistem," lanjut Bram, "kita tidak punya cara untuk mengantisipasi dampaknya."

Lulu menatapnya.

"Kalau dimasukkan terlalu cepat," katanya, "kita mungkin mengubah sesuatu sebelum kita benar-benar mengerti."

Bram terdiam.

Ia memandang Lulu lebih lama dari biasanya.

"Kamu sudah memikirkan ini," katanya.

"Iya."

Bram menarik napas pelan.

"Aku tidak bilang semua harus dikontrol," katanya dengan suara lebih rendah. "Tapi aku juga tidak bisa mengabaikan kemungkinan bahwa sesuatu yang terlihat stabil sekarang bisa berubah."

Lulu mengangguk.

"Aku mengerti," katanya.

Ia benar-benar mengerti.

Tapi itu tidak membuat semuanya menjadi lebih mudah.

Di sisi rambutnya, satu kelopak kecil terbentuk perlahan.

Ia tidak menyentuhnya.

Bram melihat gerakan kecil itu.

Ia tidak bereaksi.

Tapi tatapannya berubah sedikit.

Bukan takut.

Lebih seperti seseorang yang sedang melihat sesuatu yang ia kenal, tapi dalam bentuk yang belum sepenuhnya ia pahami.

"Ayah," kata Lulu pelan, "aku akan datang ke presentasi itu."

Bram mengangguk.

"Itu keputusan yang baik."

Lulu berdiri dari kursinya.

Ia mengambil tasnya dan berjalan menuju kamar.

Di dalam kamar, ia meletakkan tas di meja dan duduk di depan cermin.

Ia membuka ikatan rambutnya.

Bunga itu terlihat.

Lebih jelas di bawah cahaya lampu.

Ia menyentuh salah satu kelopaknya dengan ujung jari.

Tidak ada dorongan untuk memotongnya.

Tidak ada rasa panik.

Hanya rasa ingin memahami.

Ia mengambil buku yang ia beli kemarin dan membukanya di halaman yang sudah ia tandai.

Kalimat itu masih ada di sana.

Tentang bagaimana seseorang tidak mewarisi ketakutan secara langsung, tapi mewarisi cara melihat dunia.

Lulu membaca kalimat itu pelan.

Lalu ia menutup buku.

Ia tidak ingin hanya memahami dari buku.

Ia ingin melihat sendiri.

Minggu depan, ia akan berada di ruangan yang sama dengan ayahnya.

Dengan orang-orang yang mencoba mendefinisikan generasinya.

Dan untuk pertama kalinya, ia tidak merasa ingin menghindar dari itu.

Ia ingin duduk di sana.

Dan mendengar semuanya dengan jelas.

Setelah makan malam, ketika rumah sudah lebih sunyi dan suara televisi dimatikan.

Lulu masih berada di kamarnya.

Buku yang tadi ia baca sudah tertutup di meja, tapi pikirannya belum benar-benar berhenti. Ia duduk di kursi, satu tangan menahan dagu, memandang pantulan dirinya di cermin.

Bunga itu masih ada.

Tidak berubah drastis.

Tidak membesar.

Tapi juga tidak hilang.

Ia menarik napas pelan, lalu berdiri dan mendekat ke cermin.

Ujung jarinya menyentuh salah satu kelopak dengan hati-hati.

Tidak ada dorongan untuk menghilangkan.

Tidak ada rasa ingin menyembunyikan.

Ia hanya ingin memahami.

Ponselnya bergetar pelan di atas meja.

Lulu menoleh, lalu mengambilnya.

Nama Adrian muncul di layar.

Ia menatapnya beberapa detik sebelum menjawab.

Lulu mengangkat ponsel ke telinga.

"Iya?" katanya sambil berjalan kembali ke arah tempat tidur.

Suara Adrian terdengar sedikit lebih pelan dari biasanya.

"Aku tidak mengganggu, kan?" katanya.

Lulu duduk di tepi tempat tidur. "Enggak."

Adrian menghela napas kecil di ujung sana. "Aku cuma mau memastikan kamu baik-baik saja setelah hari ini."

Lulu menatap lantai di depannya.

"Aku baik," katanya.

Adrian diam sebentar.

"Kamu kelihatan banyak mikir," katanya lagi.

Lulu tersenyum kecil meskipun Adrian tidak bisa melihatnya.

"Aku memang banyak mikir."

Adrian tertawa pelan. "Aku sudah tahu itu."

Lulu memutar ujung bajunya dengan jari.

"Kamu jadi ikut presentasi minggu depan?" tanyanya.

"Iya."

Adrian langsung menjawab. "Aku juga."

Lulu mengangguk pelan meskipun tidak terlihat.

"Aku tahu," katanya.

"Kalau nanti…," Adrian berhenti sebentar, seolah memilih kata, "kalau nanti ada sesuatu yang bikin kamu tidak nyaman, kamu bisa bilang ke aku."

Lulu terdiam.

Kalimat itu sederhana.

Tapi terasa hangat.

"Iya," jawabnya pelan.

Adrian menggeser posisi duduknya di ujung sana, terdengar dari suara gesekan kecil.

"Aku tidak tahu apa yang akan mereka bahas," katanya, "tapi aku tidak ingin kamu merasa sendirian di sana."

Lulu menundukkan kepalanya sedikit.

"Aku tidak sendirian," katanya.

Adrian tersenyum di ujung sana, suaranya berubah sedikit lebih ringan. "Bagus."

Hening sebentar.

Tidak canggung.

Lebih seperti dua orang yang sama-sama tidak terburu-buru mengakhiri percakapan.

"Lu," kata Adrian akhirnya, suaranya sedikit lebih pelan.

"Iya?"

"Aku senang kamu tetap datang."

Lulu mengangkat wajahnya.

"Aku juga."

Setelah itu, percakapan mereka tidak berlangsung lama.

Mereka mengucapkan selamat malam dengan nada yang ringan, tanpa tekanan, tanpa kata yang berlebihan.

Lulu menaruh ponselnya kembali ke meja.

Ia kembali berdiri di depan cermin.

Bunga itu masih ada.

Ia tidak berubah karena percakapan tadi.

Tapi ada sesuatu yang terasa berbeda.

Lebih tenang.

Lebih stabil.

Seperti tidak ada lagi dorongan untuk buru-buru mengambil keputusan.

Ia duduk kembali di kursi.

Beberapa menit berlalu tanpa suara.

Ponselnya kembali bergetar.

Lulu menoleh lagi.

Nama yang muncul kali ini berbeda.

Rian.

Lulu memandang layar itu beberapa detik lebih lama dari sebelumnya.

Ia tidak langsung menjawab.

Ia mengambil napas pelan, lalu menekan tombol jawab.

"Iya?" katanya sambil berdiri tanpa sadar.

Di ujung sana, suara Rian terdengar tenang seperti biasa.

"Kamu sudah sampai rumah?" tanyanya.

"Iya."

"Bagaimana setelah pulang?"

Lulu berjalan pelan ke arah jendela.

Ia membuka tirai sedikit dan melihat ke luar.

Lampu jalan sudah menyala.

"Aku bicara dengan ayah," katanya.

Rian tidak langsung menjawab.

"Apa yang dia katakan?" tanyanya kemudian.

Lulu menyandarkan bahunya ke dinding di dekat jendela.

"Dia tidak menolak perubahan," katanya, "tapi dia juga tidak ingin melepas semuanya begitu saja."

Rian mengangguk pelan di ujung sana, terdengar dari jeda napasnya.

"Itu wajar."

Lulu menatap jalan di luar.

"Aku akan melihatnya di presentasi minggu depan," katanya.

"Iya."

"Kami akan duduk di ruangan yang sama, tapi dari sisi yang berbeda."

Rian diam sebentar sebelum menjawab.

"Itu bukan hal yang buruk."

Lulu menoleh sedikit, seolah Rian ada di dekatnya.

"Kenapa?"

"Karena kamu bisa melihat bagaimana dia berpikir," kata Rian. "Dan dia juga bisa melihat bagaimana kamu melihat sesuatu."

Lulu memikirkan itu.

Tidak terasa seperti konfrontasi.

Lebih seperti dua arah yang akhirnya bertemu di satu titik.

"Aku tidak ingin menjadikannya perdebatan," katanya.

Rian menjawab tanpa ragu.

"Kamu tidak perlu."

Lulu menutup matanya sejenak.

"Aku hanya ingin memahami."

"Itu sudah cukup."

Hening kembali turun.

Tidak berat.

Tidak canggung.

Hanya tenang.

Lulu membuka matanya lagi.

"Rian," katanya pelan.

"Iya?"

"Aku mulai merasa ini bukan sesuatu yang harus aku lawan."

Rian tidak langsung menjawab.

Lalu ia berkata dengan suara yang sama stabilnya.

"Itu berarti kamu sudah mulai melihatnya dengan benar."

Lulu tersenyum kecil.

Ia menyentuh sisi rambutnya.

Bunga itu masih ada.

Dan untuk pertama kalinya, ia tidak memikirkan apakah itu akan hilang.

Lihat selengkapnya