Mana Barista : Aku Belajar Mengendalikan Sihirku Tapi Tidak Pernah Belajar Mengendalikan Perasaanku

Lyneetra Studio
Chapter #19

Episode 17 : Menjelang Titik yang Sama

Setelah Beberapa hari setelah percakapan di kafe dan persiapan presentasi mulai terasa lebih nyata.

Suasana sekolah berubah sedikit.

Beberapa guru terlihat lebih sering membawa dokumen. Ruang laboratorium digunakan lebih lama dari biasanya. Jadwal beberapa kelas disesuaikan.

Lulu berjalan di koridor lantai dua sambil memegang buku catatannya.

Ia tidak sedang terburu-buru.

Di sisi rambutnya, bunga itu tetap ada.

Tidak mencolok, juga tidak disembunyikan.

Beberapa siswa sempat melirik.

Tidak ada yang berbisik, apalagi yang menunjuk.

Hanya sekilas perhatian, Kemudian kembali ke urusan masing-masing.

Lulu berhenti di depan jendela.

Ia memandang ke halaman sekolah.

Beberapa kursi tambahan sudah disusun di dekat aula.

Persiapan mulai terlihat.

"Kamu lihat juga?"

Suara Adrian muncul dari belakang.

Lulu menoleh.

Adrian berdiri dengan tas di bahunya, mengikuti arah pandang Lulu ke bawah.

"Mereka serius," katanya.

Lulu mengangguk kecil.

"Iya."

Adrian melangkah mendekat, berdiri di sampingnya.

"Kamu siap?" tanyanya.

Lulu tidak langsung menjawab.

Ia memperhatikan beberapa orang yang sedang mengatur kabel di aula.

"Aku tidak tahu bentuk siap seperti apa," katanya akhirnya.

Adrian tersenyum tipis.

Lulu menoleh sedikit.

"Kamu?"

Adrian menghela napas pelan.

"Aku hanya ingin ada di sana," katanya. "Tidak perlu memahaminya."

Lulu memikirkan itu.

"Itu juga cukup."

Mereka berdiri beberapa detik tanpa bicara.

Kemudian bel berbunyi.

Di dalam kelas, Pak Armand tidak langsung membuka buku pelajaran.

Ia berdiri di depan kelas dengan tangan disatukan di depan.

"Mulai hari ini sampai hari presentasi," katanya, "kita akan sedikit mengubah fokus."

Beberapa siswa langsung memperhatikan.

"Kalian tidak perlu mencoba menstabilkan diri secara aktif," lanjutnya. "Kalian hanya perlu mengamati."

Lulu menulis kalimat itu.

Mengamati.

Pak Armand berjalan pelan di depan kelas.

"Kadang kita terlalu cepat ingin mengatur sesuatu yang sebenarnya sedang membentuk dirinya sendiri."

Kalimat itu terasa familiar.

Lulu tidak tahu apakah itu berasal dari pelajaran atau dari percakapannya beberapa hari terakhir.

Sherly mengangkat tangan sedikit.

"Kalau muncul sesuatu yang tidak biasa?" tanyanya.

Pak Armand menatapnya.

"Catat," katanya. "Jangan langsung dihentikan."

Beberapa siswa saling melirik.

Pendekatan itu berbeda.

Tidak menahan.

Tidak mengontrol.

Lebih seperti memberi ruang.

Lulu menyentuh ujung penanya.

Di sisi rambutnya, sensasi itu muncul lagi.

Tidak mengganggu.

Hanya ada.

Ia tidak menuliskannya.

Ia hanya menyadarinya.

Setelah kelas selesai, Lulu tidak langsung pergi.

Ia berjalan menuju laboratorium.

Pintu terbuka sedikit.

Di dalam, Rian sedang berbicara dengan seseorang.

Lulu berhenti di ambang pintu.

Perempuan itu berdiri membelakangi pintu, mengenakan kemeja sederhana dengan jas tipis.

Posturnya tenang.

Tidak mencolok.

Rian melihat Lulu lebih dulu.

"Lulu," katanya.

Perempuan itu menoleh.

Tatapan mereka bertemu.

Tidak ada reaksi besar.

Perempuan itu hanya mengangguk kecil.

"Kamu Lulu," katanya.

Suaranya tenang.

Lulu mengangguk.

"Iya."

Perempuan itu melangkah satu langkah mendekat.

"Aku Selvara."

Tidak ada tambahan jabatan.

Tidak ada penjelasan panjang.

Hanya nama.

Lulu menatapnya beberapa detik.

"Iya," katanya pelan.

Rian memperhatikan interaksi itu tanpa menyela.

Selvara tidak langsung bertanya.

Ia hanya melihat Lulu.

Bukan dengan tatapan yang menilai.

Lebih seperti seseorang yang sedang memastikan sesuatu yang sudah ia duga.

"Kamu tidak menutupinya," kata Selvara.

Lulu menyentuh sisi rambutnya secara refleks.

"Iya."

Selvara mengangguk kecil.

"Bagus."

Jawaban itu sederhana.

Tidak dramatis.

Tapi jelas.

Lulu tidak tahu harus merespons bagaimana.

Ia hanya mengangguk.

Rian melangkah sedikit ke samping.

"Kita sedang melihat data terakhir sebelum presentasi," katanya.

Lulu masuk ke dalam ruangan.

Ia berdiri di dekat meja.

Selvara tidak langsung kembali ke tablet.

Ia masih memperhatikan Lulu beberapa detik lagi.

"Lulu," katanya.

"Iya?"

"Kamu tidak perlu mencoba menjelaskan dirimu di presentasi nanti."

Lulu sedikit terkejut.

"Kenapa?"

Selvara menjawab dengan tenang.

"Karena apa yang kamu tunjukkan sudah cukup jelas."

Ruangan menjadi lebih sunyi.

Lulu menatapnya.

Ia hanya merasa dipahami.

Dan itu terasa berbeda.

Rian menyalakan layar di meja.

Grafik muncul lagi.

Kali ini lebih rapi.

Lebih stabil.

Selvara akhirnya mengalihkan pandangannya ke layar.

"Kita mulai dari sini," katanya.

Lulu berdiri di samping mereka.

Ia tidak lagi merasa seperti seseorang yang datang untuk dilihat.

Dan untuk pertama kalinya, itu terasa tepat.

Beberapa menit berlalu tanpa banyak suara selain klik halus dari tablet dan gesekan jari di permukaan layar.

Lulu berdiri sedikit di belakang Rian dan Selvara. Ia tidak mencoba mendekat terlalu cepat. Hanya memperhatikan.

Grafik di layar bergerak pelan saat Rian mengganti layer data.

"Garis ini," kata Rian, menunjuk satu kurva tipis, "mulai stabil tiga hari terakhir."

Selvara mengangguk kecil. "Tanpa intervensi?"

"Iya."

Lulu memperhatikan garis itu. Tidak ada lonjakan. Tidak ada fluktuasi tajam.

Lebih seperti... sesuatu yang akhirnya menemukan bentuknya sendiri.

"Itu yang dimaksud Pak Armand," gumam Lulu, hampir tidak sadar ia bicara.

Rian meliriknya. "Mengamati?"

Lulu mengangguk.

Selvara tidak langsung menanggapi. Ia memperbesar bagian tertentu dari grafik, lalu berhenti.

"Menarik," katanya pelan.

"Apa?" tanya Rian.

Selvara sedikit memiringkan kepala. "Bukan cuma stabil."

Ia menunjuk bagian kecil di tengah kurva.

"Ada pola yang berulang."

Rian mendekat. "…kayak ritme?"

"Lebih halus dari itu."

Lulu ikut mendekat sedikit. Ia tidak sepenuhnya mengerti angka-angka di layar, tapi ia bisa melihat jarak antar puncak kecil yang konsisten.

Seperti napas.

Ia tanpa sadar menyentuh sisi rambutnya lagi.

Sensasi itu muncul.

Tidak lebih kuat.

Tapi… selaras.

Lulu berhenti bergerak.

Rian menoleh cepat. "Kamu ngerasain sesuatu?"

Lulu tidak langsung jawab. Ia menutup matanya sebentar.

"Iya."

Sunyi.

"Bukan berubah," lanjutnya pelan. "Lebih kayak… ikut."

Selvara menatapnya.

"Ikut apa?"

Lulu membuka mata.

"Ikut pola itu."

Rian menatap layar, lalu kembali ke Lulu.

"Itu… sinkronisasi?"

Selvara tidak menjawab langsung.

Ia justru melihat Lulu beberapa detik lebih lama.

"Bukan dipaksa?" tanyanya.

Lulu menggeleng.

"Enggak."

"Dan bukan kamu yang mengatur?"

Lulu diam sebentar, lalu menggeleng lagi.

"Bukan."

Selvara menghembuskan napas pelan.

"Itu bagus."

Rian sedikit mengernyit. "Bagus?"

Selvara mengangguk. "Karena itu berarti dia tidak mencoba mengontrol sesuatu yang tidak perlu dikontrol."

Ia kembali ke layar.

"Kalau ini benar," lanjutnya, "presentasi nanti bukan tentang menunjukkan kekuatan."

Lulu menatapnya.

"Terus?"

Selvara sedikit tersenyum tipis.

"Tentang menunjukkan bahwa tidak semua hal perlu diarahkan."

Rian bersandar pelan ke meja.

"Itu bakal bikin beberapa orang nggak nyaman."

Selvara mengangguk tanpa ragu.

"Memang."

Lulu menunduk sedikit, melihat tangannya sendiri.

Ia tidak merasa gugup.

Tapi ada sesuatu yang bergerak pelan di dalam dirinya.

Bukan tekanan.

Lebih seperti… kesadaran.

"Aku cuma perlu ada di sana," katanya pelan, mengulang kata-kata Adrian tadi.

Rian meliriknya, lalu tersenyum kecil.

"Kayaknya itu memang cukup."

Selvara tidak menambahkan apa-apa.

Tapi ia tidak membantah.

Sore mulai turun saat Lulu keluar dari laboratorium.

Langkahnya pelan menyusuri koridor yang mulai sepi.

Cahaya matahari masuk dari jendela samping, memanjang di lantai.

Ia berhenti sebentar.

Menatap bayangannya sendiri.

Bunga kecil itu masih ada.

Tidak berubah.

Tidak bertambah.

Tapi juga tidak hilang.

Lulu mengangkat tangan, menyentuhnya pelan.

Tidak ada reaksi aneh.

Tidak ada lonjakan.

Hanya rasa yang… stabil.

Ia menghembuskan napas pelan.

"Lulu."

Ia menoleh.

Adrian berdiri di ujung koridor, satu tangan di saku.

"Kamu lama."

Lulu berjalan mendekat.

"Tadi ke lab."

Adrian mengangguk, tidak bertanya lebih jauh.

Mereka berjalan berdampingan tanpa bicara beberapa langkah.

"Jadi?" tanya Adrian akhirnya.

Lulu berpikir sebentar.

"Bukan soal siap atau nggak."

Adrian menoleh sedikit.

"Tapi?"

Lulu menatap ke depan.

"Lebih ke… aku nggak perlu jadi sesuatu yang lain."

Adrian tersenyum tipis.

"Itu baru kedengeran kayak kamu."

Lulu meliriknya sekilas.

"Kamu juga nggak berubah."

Adrian tertawa kecil.

"Aku dari awal juga nggak punya banyak yang bisa diubah."

Mereka berhenti di tangga.

Beberapa siswa turun di depan mereka, suara langkah bergema pelan.

Lulu memegang pegangan tangga, tapi tidak langsung turun.

"Adrian."

"Hm?"

"Kalau nanti…"

Ia berhenti.

Mencari kata yang tepat.

"Kalau nanti ada yang nggak sesuai…"

Adrian menatapnya.

Lulu menghela napas kecil.

"Kamu tetap di sana?"

Adrian tidak menjawab langsung.

Ia hanya mengangkat bahu sedikit.

"Aku udah bilang."

Lulu menatapnya.

"Aku cuma ingin berada di sana."

Sunyi sebentar.

Lulu mengangguk kecil.

"Iya."

Mereka mulai turun tangga bersama.

Langkah mereka seirama.

Tidak cepat.

Tidak lambat.

Dan untuk pertama kalinya sejak semua ini mulai, Lulu tidak mencoba mempercepat atau menahan apa pun.

Ia hanya mengikuti.

Dan itu terasa cukup.

Keesokan harinya, suasana aula sudah berubah lebih jelas.

Kursi tersusun rapi dalam barisan panjang. Kabel menjalar di lantai, beberapa sudah dirapikan dengan penutup hitam. Di bagian depan, layar besar berdiri dengan rangka sederhana.

Lulu berdiri di ambang pintu.

Ia tidak masuk.

Hanya melihat.

Beberapa orang yang tidak ia kenal berada di dalam. Bukan siswa. Cara mereka bergerak berbeda. Lebih tenang, lebih terukur.

Salah satu dari mereka sedang berbicara dengan Pak Armand.

Nada suaranya rendah, tapi tegas.

"Kami tidak meminta banyak," katanya. "Hanya struktur yang jelas."

Pak Armand berdiri dengan tangan di belakang punggung.

"Kalian akan mendapatkannya."

"Struktur tanpa kontrol bukan struktur."

Lulu diam.

Kalimat itu terasa… berlawanan.

Pak Armand tidak langsung menjawab.

Ia menoleh sedikit ke arah layar, lalu kembali ke pria itu.

"Kadang kontrol justru mengganggu struktur yang sedang terbentuk."

Pria itu tidak terlihat setuju.

Lihat selengkapnya