Mana Barista : Aku Belajar Mengendalikan Sihirku Tapi Tidak Pernah Belajar Mengendalikan Perasaanku

Lyneetra Studio
Chapter #20

Episode 18: Apa yang Terjadi Ketika Mereka Mencoba Memisahkan Hal yang Memang Tidak Pernah Ditakdirkan untuk Bersama.

Hari berikutnya, suasana sekolah tidak sama.

Tidak ada pengumuman resmi ataupun perubahan jadwal besar.

Tapi terasa beberapa guru terlihat lebih sering bicara dengan orang luar. Pintu ruang tertentu lebih sering tertutup.

Lulu berjalan di koridor seperti biasa.

Tidak ada yang menghentikannya.

Tapi ada yang memperhatikan.

Bukan siswa.

Orang-orang yang kemarin ada di aula.

Ia tidak menoleh.

Ia tetap berjalan.

Di sisi rambutnya, bunga itu masih ada.

Tidak berubah.

Di kelas, suasana lebih tenang dari biasanya.

Sherly duduk di sebelah Lulu.

“Kemarin…” katanya pelan.

Lulu menoleh.

“Iya.”

Sherly melihat ke depan.

“Mereka nggak kelihatan puas.”

Lulu mengangguk.

“Iya.”

Sherly ragu sebentar.

“Aku dengar mereka mau lanjut uji.”

Lulu tidak langsung jawab.

“Uji apa?”

Sherly menggeleng.

“Belum jelas.”

Beberapa detik hening.

“Kalau mereka maksa?” tanya Sherly.

Lulu melihat ke meja.

“Aku nggak tahu.”

Jawabannya jujur.

Bel berbunyi.

Pak Armand masuk.

Ia tidak membawa banyak dokumen.

Ia berdiri di depan kelas, lalu langsung bicara.

“Kalian akan tetap seperti biasa.”

Beberapa siswa terlihat bingung.

“Tidak ada perubahan metode,” lanjutnya.

Seseorang mengangkat tangan.

“Pak, tentang kemarin—”

Pak Armand memotong pelan.

“Kalian tidak perlu memikirkan hasilnya.”

Ia melihat ke seluruh kelas.

“Kalian hanya perlu melanjutkan.”

Tidak ada penjelasan tambahan.

Kelas berjalan singkat.

Tidak banyak materi baru.

Lebih banyak diam.

Setelah kelas, Lulu tidak langsung pergi.

Ia duduk beberapa detik.

Tangannya di meja.

Tenang.

Sampai seseorang berhenti di sampingnya.

“Lulu.”

Ia menoleh.

Salah satu pengawas berdiri di sana.

Orang yang kemarin berbicara cukup keras.

“Ada waktu sebentar?”

Lulu berdiri.

“Iya.”

Sherly melihat dari tempat duduknya, tapi tidak ikut bicara.

Lulu keluar kelas.

Pengawas itu berjalan lebih dulu.

Lulu mengikuti.

Mereka tidak bicara sampai tiba di ruang kecil di ujung koridor.

Pintu ditutup.

Ruangan itu sederhana. Meja, dua kursi, dan satu layar kecil di dinding.

“Duduk,” katanya.

Lulu duduk.

Pengawas itu tidak langsung duduk.

Ia berdiri sebentar, lalu akhirnya duduk di depan Lulu.

“Kami ingin memastikan sesuatu,” katanya.

Lulu menunggu.

“Yang terjadi kemarin,” lanjutnya, “kemungkinan besar terhubung denganmu.”

Lulu tidak menyangkal.

Ia juga tidak mengiyakan.

Pengawas itu memperhatikan reaksinya.

“Kami ingin uji sederhana.”

“Seperti apa?” tanya Lulu.

“Pisah posisi.”

Lulu diam.

“Kamu tidak berada di ruang yang sama dengan sistem,” lanjutnya. “Kita lihat apakah stabilitas tetap ada.”

Lulu menatap meja.

Beberapa detik.

“Kalau tidak?”

Pengawas itu menjawab langsung.

“Berarti kami benar.”

Lulu mengangkat pandangannya.

“Dan kalau tetap stabil?”

Pengawas itu berhenti sebentar.

“Kami akan pertimbangkan ulang.”

Jawabannya tidak sepenuhnya pasti.

Lulu menyadari itu.

Ia tidak langsung setuju.

Ia tidak menolak.

“Aku harus sekarang?” tanyanya.

“Tidak,” jawabnya. “Tapi secepatnya.”

Lulu mengangguk kecil.

“Iya.”

Pengawas itu berdiri.

Pembicaraan selesai.

Lulu keluar dari ruangan.

Langkahnya tidak berubah.

Tapi pikirannya mulai bergerak.

Di ujung koridor, Adrian menunggu.

“Kemana aja?” tanyanya.

“Tadi dipanggil.”

Adrian langsung mengerti.

“Mereka?”

“Iya.”

Adrian menghela napas.

“Apa yang mereka mau?”

Lulu berhenti sebentar.

“Pisahin aku dari sistem.”

Adrian menatapnya.

“Itu berarti…”

“Iya.”

Mereka diam beberapa detik.

“Lo bakal ikut?” tanya Adrian.

Lulu tidak langsung jawab.

Ia menyentuh sisi rambutnya.

Bunga itu masih sama.

Tidak berubah.

“Kalau aku nolak,” katanya pelan, “mereka bakal cari cara lain.”

Adrian mengangguk.

“Iya.”

“Kalau aku ikut…”

Lulu berhenti.

Adrian menunggu.

“…aku pengen lihat juga.”

Adrian tidak tersenyum.

Tapi ia tidak melarang.

“Kapan?”

“Belum tahu.”

Mereka berjalan lagi.

Langkah mereka pelan.

Sekolah tetap sama.

Tapi arah yang mereka tuju mulai berubah.

Sore hari, Lulu kembali ke laboratorium.

Ruangannya lebih sepi dari biasanya.

Rian sudah di sana. Layar utama menyala, tapi tidak menampilkan banyak data.

“Kamu datang,” katanya.

“Iya.”

Selvara berdiri di dekat meja, membaca sesuatu di tablet.

Ia menutup layar saat melihat Lulu.

“Mereka sudah bicara denganmu,” katanya.

“Iya.”

Rian menoleh.

“Tes pisah?”

Lulu mengangguk.

Ruangan jadi diam beberapa detik.

“Kamu mau ikut?” tanya Rian.

Lulu tidak langsung jawab.

“Aku mau tahu hasilnya,” katanya.

Rian menghela napas pelan.

Selvara tetap tenang.

“Kita perlu atur caranya,” katanya.

Rian mengangguk.

“Kalau cuma keluar ruangan, itu terlalu simpel.”

Selvara setuju.

“Jarak dan waktu harus jelas.”

Ia melihat ke Lulu.

“Kamu harus benar-benar tidak terhubung.”

Lulu mengernyit sedikit.

“Terhubung gimana?”

Selvara menjawab singkat.

“Tidak melihat, tidak mendengar, tidak ikut memantau.”

Lulu mengangguk.

“Berarti aku cuma… nunggu?”

“Iya.”

Rian bersandar di kursi.

“Ini bakal aneh.”

Lulu meliriknya.

“Kenapa?”

“Karena kita biasanya lihat langsung reaksinya.”

Selvara menambahkan.

“Kali ini kita lihat tanpa kamu.”

Lulu diam.

Ia melihat ke layar.

Grafik masih stabil.

Tidak banyak perubahan.

“Kapan mulai?” tanyanya.

“Besok pagi,” jawab Selvara.

“Pengawas minta sesi khusus.”

Rian menatap Lulu.

“Kita tetap di sini.”

Lulu mengangguk.

“Iya.”

Tidak ada yang menambahkan.

Keputusan sudah jelas.

Malamnya, Lulu di kamar.

Lampu meja menyala.

Ia duduk tanpa membuka buku.

Tangannya di atas meja.

Diam.

Ia menyentuh sisi rambutnya.

Bunga itu masih ada.

Tidak berubah.

Ia menarik napas pelan.

Besok, ia tidak akan ada di sana.

Ia mencoba membayangkan.

Layar tetap berjalan.

Grafik tetap stabil.

Tanpa dirinya.

Ia tidak tahu kenapa

Pikiran itu terasa aneh.

Bukan takut.

Tapi tidak biasa.

Ponselnya menyala.

Pesan baru.

Nomor yang sama.

Lulu langsung membuka.

“Kalau mereka memisahkanmu, perhatikan apa yang hilang.”

Lulu membaca pelan.

Tidak ada tambahan.

Ia menatap layar beberapa detik.

Lalu mengunci ponselnya.

Tangannya turun pelan.

Ia tidak membalas.

Ia tidak tahu harus membalas apa.

Ia hanya duduk.

Dan menunggu hari berikutnya.

Pagi hari, Lulu tidak ke laboratorium.

Ia diarahkan ke ruang lain.

Lebih kecil. Tidak ada layar besar.

Hanya meja dan kursi.

Pengawas yang sama berdiri di sana.

“Kita mulai,” katanya.

Lulu masuk.

Pintu ditutup.

“Selama sesi ini, kamu tidak akan menerima informasi apa pun dari ruang utama.”

Lulu mengangguk.

“Iya.”

Pengawas itu duduk di depan.

“Durasi satu jam.”

Lulu tidak bertanya.

Ia hanya duduk.

Tangannya di pangkuan.

Diam.

Beberapa menit pertama tidak terasa berbeda.

Ia hanya menunggu.

Tidak ada suara.

Tidak ada gangguan.

Ia menatap meja.

Lalu menutup mata sebentar.

Mencoba merasakan sesuatu.

Kosong.

Tidak ada perubahan.

Beberapa menit lagi berlalu.

Masih sama.

Di sisi lain

Di laboratorium, Rian berdiri di depan layar.

“Mulai,” katanya.

Data masuk.

Grafik muncul.

Selvara berdiri di samping.

Beberapa pengawas ikut mengamati.

“Posisi Lulu terpisah,” kata salah satu dari mereka.

Rian mengangguk.

“Iya.”

Garis di layar berjalan.

Awalnya sama seperti biasa.

Stabil.

Beberapa menit berlalu.

Masih stabil.

Rian sedikit santai.

“Tidak ada perubahan.”

Selvara tidak langsung menjawab.

“Lanjutkan.”

Lima menit.

Sepuluh menit.

Garis tetap sama.

Salah satu pengawas mencatat.

“Tidak ada perbedaan signifikan.”

Rian menatap layar.

“Sejauh ini.”

Lima belas menit.

Masih stabil.

Dua puluh menit.

Sedikit perubahan.

Garis turun tipis.

Tidak besar.

Tapi terlihat.

Rian langsung fokus.

“Mulai geser.”

Selvara melihat angka.

“Catat.”

Pengawas itu mendekat.

“Itu deviasi.”

Rian tidak menyentuh apa pun.

“Kecil.”

“Awal tetap kecil.”

Garis itu tidak berhenti.

Turun sedikit lagi.

Lalu berhenti.

Tidak anjlok.

Tapi tidak kembali.

Selvara menatap layar.

“Masih dalam batas.”

Rian mengangguk.

“Tapi beda dari sebelumnya.”

Di ruang terpisah, Lulu membuka mata.

Ia tidak tahu kenapa.

Ia hanya merasa perlu.

Tangannya naik sedikit.

Berhenti di udara.

Lihat selengkapnya