Pagi itu, suasana sekolah terasa sedikit berbeda.
Tidak ada perubahan besar.
Tidak ada pengumuman.
Namun entah kenapa, semuanya terasa lebih pelan.
Beberapa siswa berbicara dengan suara yang lebih rendah.
Langkah kaki di koridor tidak secepat biasanya.
Lulu berjalan di lantai dua seperti biasa.
Buku catatannya dipegang dengan satu tangan.
Langkahnya tidak tergesa.
Namun ada sesuatu dalam dirinya yang lebih sadar dari biasanya.
Beberapa orang menoleh saat ia lewat.
Tidak terang-terangan.
Hanya sekilas.
Lalu kembali ke aktivitas mereka.
Lulu menyadarinya.
Tapi tidak menanggapi.
Di sisi rambutnya, bunga itu masih ada.
Tenang.
Tidak berubah.
Saat sampai di depan kelas, ia berhenti sebentar.
Tangannya menyentuh pintu.
Ia menarik napas kecil.
Lalu masuk.
Di dalam, Adrian sudah duduk.
Ia tidak bermain ponsel.
Tidak juga bicara dengan siapa pun.
Hanya melihat keluar jendela.
Lulu masuk tanpa suara.
Adrian langsung menoleh.
“Pagi.”
“Pagi.”
Lulu duduk di tempatnya.
Jarak mereka masih seperti biasa.
Tidak ada yang berubah.
Namun…
Entah kenapa, Lulu jadi lebih sadar akan posisi itu.
Beberapa detik hening.
Adrian melirik ke arah rambut Lulu.
Masih ada.
“Masih di situ,” katanya.
Lulu mengangguk kecil.
“Iya.”
Adrian tidak bertanya lebih jauh.
Ia hanya bersandar sedikit.
“Kemarin…”
Lulu menoleh.
“Iya?”
Adrian menarik napas pelan.
“Kamu tidak apa-apa?”
Lulu tidak langsung menjawab.
Ia melihat ke meja.
“Iya.”
Adrian memperhatikannya.
Lebih lama dari biasanya.
“Yakin?”
Lulu mengangkat pandangannya.
“Iya.”
Ia berhenti sebentar.
“Cuma… sekarang lebih jelas saja.”
Adrian mengangguk pelan.
Ia tidak memaksa.
Bel berbunyi.
Kelas dimulai.
Namun Lulu tahu
Hari ini tidak akan berjalan seperti biasa.
Siang hari datang lebih cepat dari yang Lulu kira.
Pelajaran berjalan seperti biasa.
Guru menjelaskan.
Beberapa siswa mencatat.
Beberapa lainnya hanya mendengarkan.
Lulu melakukan semuanya dengan benar.
Menulis.
Melihat papan.
Mengikuti alur.
Namun beberapa kali, fokusnya terlepas.
Hanya sebentar.
Tapi cukup terasa.
Di sampingnya, Adrian duduk lebih tenang dari biasanya.
Sesekali ia melirik ke arah Lulu.
Tidak lama.
Namun Lulu tetap menyadarinya.
Ia tidak langsung menoleh.
Hanya menarik napas pelan.
Lalu kembali ke catatannya.
Waktu berjalan.
Bel akhirnya berbunyi.
Suara kursi bergeser hampir bersamaan.
Lulu menutup bukunya.
Pelan.
Adrian berdiri lebih dulu.
Namun kali ini, ia tidak langsung pergi.
Ia menunggu.
“Kantin?” tanyanya.
Lulu menatapnya sebentar.
Seolah memastikan sesuatu.
Lalu mengangguk.
“Iya.”
Mereka berjalan keluar bersama.
Langkah mereka santai.
Tidak terburu-buru.
Di koridor, beberapa orang kembali melirik.
Tidak jelas.
Namun terasa.
Lulu menyadarinya.
Adrian juga.
Namun ia tidak mengatakan apa-apa.
Ia hanya berjalan seperti biasa.
Dan itu membuat Lulu sedikit lebih tenang.
Di kantin, mereka memilih duduk di sudut.
Tempat yang tidak terlalu ramai.
Adrian duduk di hadapannya.
“Mau apa?” tanyanya.