Pagi itu, Lulu datang lebih awal dari biasanya.
Langit masih sedikit redup.
Halaman sekolah belum ramai.
Udara terasa lebih tenang.
Ia berjalan pelan menuju kelas.
Tasnya disampirkan di satu bahu.
Langkahnya ringan, tapi tidak sepenuhnya santai.
Seolah ia sedang mencoba memahami sesuatu.
Saat sampai di depan kelas, Lulu berhenti.
Tangannya menyentuh gagang pintu.
Ia tidak langsung masuk.
Menarik napas pelan.
“…coba dulu,” gumamnya lirih.
Ia membuka pintu.
Masuk.
Kelas masih kosong.
Tidak ada siapa pun.
Lulu berjalan ke mejanya.
Duduk.
Tasnya diletakkan pelan.
Lalu diam.
Beberapa detik.
Ia melihat tangannya.
Tidak ada perubahan.
Tidak ada sensasi aneh.
Ia menghela napas kecil.
“…masih sama.”
Namun
Langkah kaki terdengar dari luar.
Mendekat.
Lulu langsung menoleh ke pintu.
Adrian muncul.
Ia berhenti sebentar saat melihat Lulu sudah ada.
“Kamu pagi banget.”
Lulu mengangguk.
“Iya… mau coba sesuatu.”
Adrian masuk.
Menutup pintu.
Lalu berjalan ke mejanya.
Jaraknya dengan Lulu tidak jauh.
Seperti biasa.
Namun hari ini
Lulu langsung menyadarinya.
Saat Adrian mendekat…
Ada sensasi halus.
Seperti sesuatu yang tertarik pelan dari dalam dirinya.
Tidak sakit.
Tapi jelas.
Lulu menahan napas sedikit.
Tangannya mengepal kecil di bawah meja.
Adrian tidak sadar.
Ia duduk seperti biasa.
Menaruh tasnya.
“Coba apa?” tanyanya santai.
Lulu tidak langsung menjawab.
Ia menunggu beberapa detik.
Merasakan.
“…jarak,” katanya pelan.
Adrian menoleh.
“Jarak?”
Lulu mengangguk.
“Iya.”
Ia menatap ke depan.
“Kayaknya… sekarang lebih sensitif.”
Adrian mengernyit.
“Maksudnya?”
Lulu menarik napas pelan.
“Kalau terlalu dekat…”
Ia berhenti.
Mencari kata.
“…rasanya beda.”
Adrian memperhatikannya lebih serius.
“Beda gimana?”
Lulu menoleh sedikit.
“…kayak ditarik.”
Adrian diam.
“Ditahan?”
Lulu menggeleng.
“Bukan… lebih kayak ditarik.”
Hening sebentar.
“Sekarang juga?” tanya Adrian.
Lulu menutup mata sebentar.
Merasakan lagi.
Sensasi itu masih ada.
Halus.
Tapi terus terasa.
“Iya.”
Adrian berpikir.
Lalu berdiri.
Lulu langsung menoleh.
Adrian mundur satu langkah.
“Sekarang?”
Lulu memperhatikan.
Sensasinya berkurang.
Ia mengangguk.
“Lebih ringan.”
Adrian mundur lagi.
Dua langkah dari sebelumnya.
“Kalau sekarang?”
Lulu menarik napas.
Merasakan.
Lalu sedikit membelalakkan mata.
“…hilang.”
Adrian berhenti.