Pagi itu, Lulu tidak datang lebih awal.
Ia datang seperti biasa.
Tidak cepat.
Tidak terlambat.
Namun ada satu hal yang berbeda.
Ia berhenti lebih lama di depan kelas.
Menatap ke dalam.
Seolah memastikan sesuatu sebelum masuk.
Di dalam, Adrian sudah ada.
Duduk di tempatnya.
Jarak dari kemarin masih sama.
Tidak berubah.
Lulu masuk.
Langkahnya pelan.
Adrian menoleh.
“Pagi.”
“Pagi.”
Lulu duduk.
Tidak terlalu dekat.
Tidak terlalu jauh.
Posisi itu… sudah terasa seperti aturan.
Beberapa detik hening.
Tidak canggung.
Tapi jelas berbeda dari dulu.
“Kemarin…” kata Adrian pelan.
Lulu menoleh.
“Iya?”
Adrian berpikir sebentar.
“Kamu kaget?”
Lulu mengangguk kecil.
“Iya.”
Ia melihat ke meja.
“Lebih kuat dari yang aku kira.”
Adrian mengangguk.
“Iya… kelihatan.”
Hening sebentar.
“Sekarang?” tanya Adrian.
Lulu menarik napas pelan.
Merasakan.
“…aman.”
Adrian mengangguk.
“Iya.”
Mereka tidak melanjutkan.
Tidak perlu.
Namun ada satu hal yang sama-sama mereka sadari—
Mereka mulai terbiasa.
Saat kelas mulai terisi, suasana terasa lebih normal.
Siswa masuk seperti biasa.
Suara mulai ramai.
Rian datang.
Seperti biasa.
Namun kali ini, ia langsung duduk tanpa banyak komentar.
Ia melirik Lulu.
Lalu Adrian.
Lalu kembali ke depan.
Seolah menyimpan pertanyaan.
Tapi tidak langsung bertanya.
Lulu menyadarinya.
Namun ia juga tidak menjelaskan.
Pelajaran dimulai.
Lulu mencatat.
Lebih rapi dari biasanya.
Lebih fokus.
Namun setiap beberapa menit—
Ia sadar.
Ia menjaga jarak.
Bukan hanya dari Adrian.
Tapi dari gerakan kecil.
Dari posisi duduk.
Dari arah tubuh.
Semua terasa lebih diperhitungkan.
Dan itu melelahkan.
Istirahat.
Rian langsung berdiri.
“Kalian ikut?”
Lulu menatapnya.
Lalu mengangguk.
“Iya.”
Adrian juga berdiri.
Namun kali ini—
Mereka tidak langsung berjalan bersama.
Ada jeda kecil.
Sebelum akhirnya langkah mereka menyatu.
Dengan jarak yang sama seperti kemarin.
Di koridor, beberapa siswa melihat.
Masih.
Namun Lulu mulai terbiasa.
Ia tidak lagi terlalu memikirkan.
Yang lebih ia pikirkan sekarang
Adalah jarak di sampingnya.
Adrian berjalan tenang.
Ia tidak mendekat.
Tidak juga menjauh lebih dari perlu.
Seolah sudah memahami batasnya.
Tanpa perlu diingatkan.
Dan itu…
Membuat Lulu sedikit lebih ringan.
Di kantin, mereka duduk.
Tidak berhadapan kali ini.
Tapi menyamping.
Dengan jarak yang cukup.
Rian memperhatikan.
Lebih lama dari sebelumnya.
Akhirnya ia tidak tahan.
“Serius nanya.”
Lulu menoleh.
“Iya?”
“Kalian kenapa sih?”
Langsung.
Tanpa basa-basi.
Adrian tidak langsung menjawab.
Lulu juga tidak.
Rian menatap mereka bergantian.
“Ini bukan cuma ‘fokus’, kan?”
Hening.
Beberapa detik.
Lulu menarik napas pelan.
“…kami lagi coba jaga jarak.”
Rian mengernyit.
“Kenapa?”
Lulu tidak langsung menjawab.
Ia melihat ke meja.
“…lebih aman.”
Rian masih tidak mengerti.
“Aman dari apa?”
Adrian akhirnya bicara.
“Dari hal yang kemarin.”
Rian diam.
Ia ingat.
Namun belum sepenuhnya paham.
“Se-separah itu?”
Lulu mengangguk kecil.
“Iya.”
Rian bersandar.
Memproses.
Lalu menghela napas.
“…oke.”
Ia tidak memaksa.
Tidak bertanya lebih jauh.
Tapi ekspresinya berubah.
Lebih serius.
“Kalau gitu… bilang saja kalau butuh bantuan.”
Adrian mengangguk.
“Iya.”
Lulu juga mengangguk.
“Iya.”
Percakapan selesai.
Namun suasana berubah.
Sekarang
Bukan cuma mereka berdua yang tahu.
Setelah itu, mereka keluar dari kantin.
Langkah mereka pelan.
Rian berjalan sedikit di depan.
Memberi ruang.
Tanpa diminta.
Lulu menyadarinya.
Dan kali ini
Ia tidak merasa sendirian.
Namun di saat yang sama
Ia juga sadar.
Semakin banyak orang yang tahu…
Semakin nyata batas itu, dan semakin sulit untuk berpura-pura seperti dulu.
Setelah dari kantin, mereka kembali ke kelas.
Rian masuk lebih dulu.
Lulu dan Adrian menyusul di belakang.
Jarak di antara mereka tetap sama.
Tidak berubah.
Di dalam kelas, beberapa siswa melihat.
Lebih jelas dari sebelumnya.
Lulu duduk.
Adrian juga.
Posisinya tetap.
Rian duduk sambil melirik mereka.
“Kalian serius lanjut kayak gini?” tanyanya.
Lulu mengangguk.
“Iya.”
“Terus sampai kapan?”
Lulu tidak langsung jawab.
“Belum tahu.”
Rian bersandar.
“Oke.”
Ia tidak lanjut bertanya.
Pelajaran dimulai.
Lulu mencatat.
Fokusnya lebih stabil.
Tidak ada sensasi aneh.
Tidak ada gangguan.
Semua terasa normal.
Namun—
Ia sadar sesuatu.
Ia harus terus menjaga posisi.
Tidak bisa bergerak bebas.
Setiap kali ia sedikit condong ke samping
Ia langsung berhenti.
Mengoreksi posisinya.
Adrian juga melakukan hal yang sama.
Tanpa bicara.
Tanpa saling mengingatkan.
Beberapa kali tangan mereka hampir bersentuhan.
Selalu berhenti sebelum terjadi.
Semuanya terasa… terkontrol.
Terlalu terkontrol.
—
Di tengah pelajaran, guru meminta semua siswa maju satu per satu.
Mengumpulkan tugas.
Barisan terbentuk.
Lulu berdiri.
Adrian juga.
Tanpa sengaja, posisi mereka jadi berdekatan.
Lebih dekat dari biasanya.
Lulu langsung sadar.
Ia mundur sedikit.
Namun di belakangnya ada orang lain.
Tidak bisa mundur jauh.
Jaraknya jadi sempit.
Adrian melihat itu.
Ia langsung geser setengah langkah.
Memberi ruang.
Tidak banyak.
Tapi cukup.
Lulu menarik napas pelan.
“Makasi,” katanya lirih.
Adrian mengangguk.
“Iya.”
Barisan bergerak.
Maju sedikit demi sedikit.
Semakin ke depan—
Semakin sempit.
Tidak ada pilihan.
Lulu berdiri di depan meja guru.
Adrian tepat di belakangnya.
Jaraknya terlalu dekat.
Sensasi itu muncul.
Lebih cepat dari sebelumnya.
Lulu menahan napas.
Tangannya mengepal.
Ia tidak bergerak.
Tidak bisa.
“Cepat,” kata guru.
Lulu menyerahkan tugas.
Langsung melangkah ke samping.
Menjauh.
Begitu jarak terbentuk
Sensasi itu hilang.
Lulu menghela napas.
Lebih panjang dari biasanya.
Adrian keluar dari barisan setelahnya.
Ia melihat Lulu.
“Masih?” tanyanya pelan.
Lulu menggeleng.
“Sudah.”
Namun ekspresinya jelas.
Barusan lebih kuat.
Setelah kembali duduk, Lulu tidak langsung menulis.
Tangannya masih sedikit kaku.
Ia membuka buku.
Berusaha fokus.
Namun pikirannya tertinggal di kejadian tadi.
“…kalau nggak bisa mundur…” pikirnya.
Ia tidak melanjutkan.
Di sampingnya, Adrian juga diam.