Mana Barista : Aku Belajar Mengendalikan Sihirku Tapi Tidak Pernah Belajar Mengendalikan Perasaanku

Lyneetra
Chapter #25

Episode 23 : Ekspektasi

Keesokan paginya, aula kembali dipakai.

Kursi sudah tersusun rapi.

Kabel tidak lagi berserakan.

Orang-orang bergerak lebih terarah.

Lulu berdiri di pintu masuk bersama beberapa siswa lain.

Ia tidak datang untuk mencoba.

Ia dipanggil.

“Lulu, nanti kamu di bagian tengah ya.”

Salah satu panitia menunjuk ke area depan.

Tidak jauh dari panggung.

Lulu mengangguk.

“Iya.”

Jawabannya tenang.

Namun ia tahu posisi itu bukan yang paling mudah.

Adrian berdiri tidak jauh di sampingnya.

“Kamu yakin?” tanyanya pelan.

Lulu menatap ke depan.

“Iya.”

Ia tidak menambahkan apa-apa.

Saat acara mulai, aula perlahan penuh.

Suara jadi lebih ramai.

Langkah kaki saling bersilang.

Beberapa orang berhenti di lorong.

Beberapa bergerak cepat.

Ruang tetap berubah.

Tidak sepadat kemarin, tapi cukup untuk terasa.

Lulu berjalan ke posisi yang ditentukan.

Langkahnya stabil.

Ia tidak berhenti di tengah jalan.

Ia masuk langsung ke area depan.

Beberapa orang lewat cukup dekat.

Reaksi muncul.

Ringan.

Ia menyesuaikan napas.

Tidak mengganggu.

Ia sampai di tempatnya.

Berdiri.

Menunggu.

Di sekitar panggung, posisi ruangnya lebih sempit.

Orang lalu-lalang untuk persiapan terakhir.

Ada yang lewat cepat.

Ada yang berhenti mendadak.

Perubahan tetap ada.

Lulu tidak bergerak.

Ia menjaga posisi.

Napasnya stabil.

Reaksi tetap muncul setiap ada yang lewat terlalu dekat.

Namun tidak berkembang.

Ia tidak lagi menghitung setiap langkah orang.

Ia hanya menjaga ritmenya sendiri.

Dari sisi aula, Selvara memperhatikan.

Rian berdiri di dekat meja kontrol.

“Dia langsung masuk ke tengah,” kata Rian.

Selvara mengangguk.

“Iya.”

“Tanpa setup.”

Selvara tidak menjawab.

Ia hanya melihat.

Beberapa detik.

“Masih dijaga,” katanya.

Rian melihat layar kecil di tangannya.

“Fluktuasi kecil.”

Selvara mengangguk.

“Normal.”

Di tengah aula, seseorang tiba-tiba berhenti tepat di depan Lulu.

Jarak mendadak hilang.

Reaksi naik.

Cepat.

Lulu tidak mundur.

Ia menarik napas.

Menahan.

Lalu melepasnya perlahan.

Reaksi tetap tinggi beberapa detik.

Namun tidak bertambah.

Orang itu bergerak lagi.

Ruang terbuka.

Reaksi turun.

Lulu tetap di tempat.

Tidak berubah posisi.

Beberapa menit berlalu.

Suasana mulai lebih stabil.

Orang-orang duduk.

Pergerakan berkurang.

Ruang tidak lagi berubah terlalu cepat.

Lulu merasakan perbedaannya.

Tubuhnya ikut lebih tenang.

Reaksi hanya muncul sesekali.

Tidak lagi terus-menerus.

Adrian berjalan mendekat dari sisi aula.

Ia tidak langsung berdiri di samping Lulu.

Ia berhenti beberapa langkah.

Melihat.

“Masih aman?” tanyanya.

Lulu mengangguk.

“Iya.”

Adrian tidak mendekat lebih jauh.

Ia tetap di posisi itu.

Memberi ruang.

Namun tetap ada.

Di belakang, beberapa panitia mulai berbicara lebih serius.

“Kalau dia bisa di situ tanpa masalah…”

“Kita bisa pakai dia buat sesi utama.”

“Lebih stabil dari yang lain.”

Suara mereka tidak keras.

Namun cukup untuk terdengar.

Lulu tidak menoleh.

Tapi ia mendengar.

Ia tetap berdiri.

Menjaga napasnya.

Namun pikirannya mulai menangkap arah pembicaraan itu.

Rian melirik ke Selvara.

“Mereka mulai lihat dia.”

Selvara mengangguk.

“Iya.”

“Ini bakal naik.”

Selvara tetap tenang.

“Memang akan begitu.”

Di tengah aula, Lulu tidak bergerak.

Ia tetap menjaga ritmenya.

Namun sekarang

Yang berubah bukan ruangnya.

Melainkan ekspektasi di sekitarnya.

Dan itu mulai terasa.

Pelan.

Namun jelas.

Beberapa saat setelah itu, suasana aula mulai benar-benar menetap.

Kursi sudah terisi.

Langkah kaki yang tadi saling bersilang kini berkurang, menyisakan suara kecil yang sesekali muncul dari lorong. Udara terasa lebih tenang, meski tidak sepenuhnya diam.

Lulu masih berdiri di tempatnya.

Posisinya tidak berubah sejak tadi.

Namun cara ia berdiri sedikit berbeda sekarang.

Bahu yang sebelumnya agak tegang mulai turun perlahan, seolah tubuhnya mulai menerima ritme ruangan yang baru.

Ia menarik napas, lalu melepasnya pelan.

Tidak tergesa.

Seolah memberi ruang bagi dirinya sendiri.

Di kejauhan, suara panitia mulai terdengar lebih terstruktur. Beberapa orang memanggil nama, sebagian memberi instruksi singkat, dan sisanya hanya mengangguk sambil bergerak cepat.

Semua berjalan.

Tanpa perlu terlalu banyak kata.

Dari sisi panggung, Selvara masih memperhatikan.

Tatapannya tidak berpindah jauh.

“Dia mulai menyesuaikan, bukan menahan,” katanya pelan, hampir seperti berbicara pada dirinya sendiri.

Rian, yang berdiri di sampingnya, sedikit memiringkan kepala.

“Maksudnya?” tanyanya, tangannya tetap memegang perangkat kecil di depan dada.

Selvara tidak langsung menjawab.

Ia menunggu beberapa detik, memperhatikan Lulu yang tetap diam di tengah.

“Kalau menahan, reaksinya tetap ada tapi kaku,” lanjutnya kemudian, suaranya tenang. “Kalau menyesuaikan, tubuhnya ikut berubah sedikit demi sedikit.”

Rian mengangguk pelan.

Matanya kembali ke layar.

“Fluktuasinya makin rata,” gumamnya.

Tidak ada nada terkejut di sana.

Lebih seperti memastikan sesuatu yang sudah mulai terlihat sejak tadi.

Di tengah aula, Lulu sedikit menggeser berat badannya.

Gerakan kecil.

Hampir tidak terlihat.

Namun cukup untuk membuat napasnya terasa lebih ringan.

Ia tidak lagi terlalu fokus pada setiap orang yang lewat.

Perhatiannya mulai melebar.

Bukan hilang, hanya tidak lagi sempit.

Seseorang berjalan cukup dekat dari sisi kanan.

Jaraknya tidak sejauh sebelumnya.

Reaksi itu tetap muncul.

Seperti riak kecil.

Namun kali ini

Tidak langsung memenuhi seluruh kesadarannya.

Lulu berkedip pelan.

Menarik napas.

Dan membiarkannya lewat.

Adrian masih berada beberapa langkah dari situ.

Ia memperhatikan tanpa mendekat.

Tangannya masuk ke saku jaket, bahunya sedikit bersandar ke tiang terdekat.

“Kelihatan beda,” katanya akhirnya, suaranya rendah.

Lulu menoleh sedikit.

Tidak sepenuhnya menghadap.

“Hm?”

Adrian mengangkat dagunya sedikit, memberi isyarat ke sekeliling.

“Kamu nggak lagi ngikutin semua yang bergerak.”

Lulu diam sejenak.

Matanya kembali ke depan.

“Iya,” jawabnya pelan, hampir seperti memastikan ke dirinya sendiri.

Ada jeda kecil setelah itu.

Bukan canggung.

Lebih seperti ruang yang dibiarkan tetap ada.


Di barisan belakang, suara percakapan mulai berubah arah.

Tidak lagi sekadar membahas teknis acara.

“Kalau dia bisa stabil di situ…”

“Harusnya dia bisa handle bagian interaksi.”

“Lebih aman daripada yang lain.”

Kalimat-kalimat itu terdengar pelan, tapi cukup jelas bagi yang berada di dekat.

Lulu tidak perlu menoleh untuk tahu bahwa yang dibicarakan adalah dirinya.

Jari-jarinya sedikit bergerak.

Bukan gelisah.

Lebih seperti mencoba memastikan sesuatu yang belum sepenuhnya ia pahami.

Ekspektasi itu tidak datang dengan suara keras.

Namun terasa.

Seperti lapisan tipis yang perlahan menempel di udara.


Rian menurunkan sedikit perangkatnya.

“Mereka mulai mutusin tanpa nanya,” katanya.

Selvara tidak terlihat terkejut.

“Karena mereka lihat hasilnya,” jawabnya tenang.

Rian melirik ke arah Lulu.

“Dia belum tentu siap.”

Selvara mengangguk kecil.

“Iya.”

Jawabannya singkat.

Namun tidak diikuti penjelasan tambahan.

Seolah ia tahu

Kesiapan itu bukan sesuatu yang bisa ditentukan dari luar.

Lulu menarik napas lagi.

Kali ini sedikit lebih dalam.

Ia menyadari sesuatu yang berbeda.

Bukan pada ruangnya.

Bukan pada orang-orangnya.

Tapi pada arah perhatian mereka.

Sebelumnya, ia hanya mencoba bertahan.

Sekarang, tanpa diminta

Ia mulai ditempatkan.

Peran itu belum diucapkan secara langsung.

Namun bentuknya sudah mulai terasa.

Dan anehnya

Tubuhnya tidak langsung menolak.

Ia hanya diam sejenak.

Lalu menyesuaikan posisi kakinya sedikit.

Seolah memberi ruang untuk kemungkinan itu.

Lampu aula sedikit meredup.

Tanda bahwa acara utama akan segera dimulai.

Suara di sekitar turun satu tingkat.

Orang-orang mulai menghadap ke depan.

Ruang menjadi lebih terfokus.

Lulu masih di tempatnya.

Namun kali ini

Ia tidak hanya berdiri sebagai seseorang yang bertahan di tengah keramaian.

Ada sesuatu yang bergeser.

Pelan.

Hampir tidak terasa.

Namun cukup untuk mengubah cara orang lain melihatnya.

Dan mungkin

Cara ia melihat dirinya sendiri.

Beberapa menit kemudian, suara rendah dari sistem pengeras mulai terdengar.

Tidak terlalu keras, tapi cukup untuk membuat seluruh aula perlahan terarah ke depan.

“Semua peserta dimohon untuk tetap di posisi masing-masing. Sesi pembukaan akan dimulai.”

Nada suaranya datar, profesional.

Namun efeknya terasa.

Percakapan yang tersisa langsung mereda.

Kursi-kursi berhenti bergeser.

Lihat selengkapnya