Beberapa hari setelah itu, suasana di ruang praktik berjalan seperti biasa. Tidak ada perubahan yang mencolok, tapi pola yang terbentuk sebelumnya masih terasa. Orang-orang datang, menunggu, lalu pergi tanpa banyak hal yang perlu diatur ulang.
Lulu masuk tanpa tergesa, lalu meletakkan tasnya di meja. Ia tidak langsung duduk. Pandangannya sempat menyapu ruangan, memastikan posisi semua orang sebelum akhirnya menarik kursi.
Rian sudah ada di dalam, duduk santai sambil memutar pena di tangannya. Adrian berdiri di dekat jendela. Selvara belum terlihat.
“Aman hari ini,” kata Rian ringan.
Lulu tidak langsung menjawab.
“Belum mulai,” katanya setelah beberapa detik.
Ia membuka tas, mengeluarkan beberapa alat, lalu menatanya di meja tanpa terburu. Tidak ada yang langsung mendekat. Beberapa orang hanya memperhatikan, seperti menunggu waktu yang tepat.
“Aku mulai,” ucap Lulu.
Seseorang berdiri, menunggu sebentar, lalu mendekat. Proses berjalan seperti biasanya. Tidak ada yang mencoba memotong. Tidak ada yang bergerak terlalu cepat.
Satu orang selesai.
Lulu berhenti sebentar sebelum lanjut ke berikutnya.
Ritme itu tetap terjaga.
Beberapa waktu kemudian, pintu terbuka.
Siswi itu masuk.
Ia tidak berhenti lama di pintu. Langsung berjalan ke dalam dan duduk di tempat yang sama seperti hari-hari sebelumnya. Tidak membawa buku kali ini. Ia hanya duduk, memperhatikan tanpa terlihat mencolok.
Lulu melihat sekilas, lalu kembali ke meja.
Ia melanjutkan.
Satu sesi.
Lalu satu lagi.
Saat jeda berikutnya, suasana tetap tenang. Tidak ada yang bergerak lebih dulu. Semua menunggu tanpa benar-benar terlihat menunggu.
Lulu mengangkat pandangan.
Pilihannya berhenti di satu orang.
Namun sebelum ia menunjuk, suara lain terdengar dari samping.
“Aku bisa duluan?”
Nada suaranya tidak keras. Tidak memaksa.
Tapi cukup jelas.
Orang yang bicara bukan dari yang paling lama menunggu.
Ruang itu langsung terasa berbeda.
Tidak tegang.
Tapi cukup untuk membuat semua orang sadar.
Lulu tidak langsung menjawab.
Ia menoleh.
Orang itu berdiri di posisi yang tidak salah, tapi juga bukan yang seharusnya lebih dulu.
“Kenapa?” tanya Lulu.
Siswa itu terlihat ragu sebentar.
“Cuma… mau cepat selesai,” jawabnya.
Tidak ada alasan lain.
Tidak ada tambahan.
Lulu diam beberapa detik.
Biasanya, itu cukup untuk ditolak.
Namun kali ini, ada hal lain yang ikut masuk.
Siswi yang duduk di sisi ruangan mengangkat pandangan. Tidak bicara. Tidak memberi isyarat.
Tapi tetap terlihat.
Lulu menyadarinya.
Dan itu cukup untuk mengubah cara ia menimbang.
Jeda itu sedikit lebih lama.
Rian berhenti memutar penanya.
Adrian tetap diam, tapi matanya mengarah ke Lulu.
Lulu menarik napas pelan.
Lalu menggeleng.
“Tidak,” katanya.
Nada suaranya tetap tenang.
Tidak keras.
Tapi jelas.
Siswa itu mengangguk cepat.
“Iya.”
Ia mundur tanpa protes.
Lulu kembali ke depan.
“Lanjut,” ucapnya.
Orang yang seharusnya maju akhirnya melangkah.
Proses berjalan lagi.
Seolah tidak terjadi apa-apa.
Namun setelah beberapa saat, Lulu menyadari sesuatu.
Keputusan tadi tidak sepenuhnya netral.
Bukan karena ia ragu.
Tapi karena ia sempat mempertimbangkan hal lain yang seharusnya tidak perlu masuk.
Ia tidak melihat ke arah siswi itu lagi.
Namun ia tahu.
Hal itu tadi… sempat memengaruhi.
Setelah sesi selesai, Lulu berhenti sedikit lebih lama dari biasanya.
Tangannya masih di atas meja.
Tidak bergerak.
Adrian mendekat satu langkah.
“Kamu sempat mikir,” katanya.
Lulu mengangguk kecil.
“Iya.”
Rian menyandarkan tubuhnya.
“Bukan soal siapa yang duluan,” katanya, “tapi kenapa kamu hampir ubah urutannya.”
Lulu tidak langsung menjawab.
Ia menatap meja beberapa detik.
“…karena aku sadar dia lihat,” ucapnya pelan.
Kalimat itu tidak panjang.
Namun cukup jelas.
Adrian tidak menanggapi langsung.
Selvara, yang baru masuk tanpa mereka sadari, berhenti di dekat pintu.
“Itu mulai masuk,” katanya.
Lulu mengangkat pandangan.
“Belum,” jawabnya.
Selvara tidak membantah.
“Tapi sudah terasa.”
Ada jeda setelah itu.
Lulu menghembuskan napas pelan.
Ia kembali menegakkan posisi duduknya.
“Aku tetap pilih seperti tadi,” katanya.
Rian mengangguk kecil.
“Iya. Tapi sekarang kamu tahu ada hal lain yang ikut bergerak.”
Lulu tidak menyangkal.
Ia hanya menatap ke depan.
Lalu berkata,
“Aku akan tetap jaga.”
Tidak ada penekanan.
Namun kali ini, kalimat itu terasa sedikit berbeda.
Bukan karena lebih kuat.
Tapi karena ia tahu… apa yang harus ia jaga sudah mulai berubah bentuk.
Beberapa saat setelah itu...
Pintu Arcane Brew terbuka perlahan, bunyi lonceng kecilnya terdengar ringan, hampir tenggelam oleh suara uap dari mesin di sudut ruangan.
Lulu tidak langsung menoleh.
Tangannya masih bergerak pelan, menuangkan cairan bening ke dalam gelas ukur. Gerakannya stabil, nyaris tanpa jeda. Seolah apa pun yang baru saja terjadi di luar… tidak cukup untuk mengganggu ritmenya.
Namun hanya seolah.
Ada sesuatu yang tertinggal di antara napasnya.
Halus, tapi tidak sepenuhnya hilang.
Langkah kaki mendekat. Tidak tergesa. Tidak ragu.
Rian.
Ia berhenti beberapa langkah dari meja kerja, tidak langsung berbicara. Tatapannya sempat jatuh ke susunan alat di depan Lulu—rapi, presisi, tanpa satu pun yang bergeser dari tempatnya.
Seperti biasa.
Atau setidaknya… seperti yang selalu Lulu jaga.
"Kamu kembali lebih cepat," ucap Lulu akhirnya, tanpa mengangkat kepala. Suaranya tenang, tapi sedikit lebih pelan dari biasanya.
Rian menyandarkan bahunya ringan ke sisi meja.
"Iya," jawabnya singkat, lalu diam sejenak, seolah memilih apakah perlu melanjutkan.
Tatapannya bergeser ke sisi wajah Lulu.
Ada sesuatu yang berbeda.
Bukan pada ekspresi—karena Lulu masih terlihat sama.
Tapi pada cara diamnya.
Sedikit lebih… penuh.
"Ada yang berubah?" tanya Rian, nadanya tidak menekan, hanya datar seperti biasa.
Tangan Lulu berhenti sebentar.
Hanya sepersekian detik.
Lalu kembali bergerak.
"Tidak," jawabnya singkat.
Jawaban yang terlalu cepat untuk ukuran Lulu.
Rian tidak langsung menanggapi. Ia hanya menghela napas pelan, lalu mengalihkan pandangan ke jendela. Cahaya sore masuk tipis, memantul di permukaan kaca botol-botol kecil.
"Dia datang lagi?" lanjutnya, seolah pertanyaan sebelumnya tidak cukup.
Kali ini, Lulu tidak langsung menjawab.
Jari-jarinya berhenti lebih lama.
"...Iya."
Nada suaranya masih stabil, tapi tidak lagi setenang tadi.
Rian mengangguk kecil. Tidak ada komentar tambahan.
Tidak ada pertanyaan lanjutan.
Hanya diam yang cukup panjang untuk terasa… tapi tidak membuat sesak.
Lulu akhirnya mengangkat kepala.
Pandangan mereka bertemu sebentar.
Lalu Lulu mengalihkan matanya lebih dulu.
"Dia hanya ingin tahu sesuatu," ucapnya pelan, seolah menjelaskan, tapi tidak sepenuhnya.
Rian tidak bertanya apa.
Tidak perlu.
Ia sudah cukup mengerti arah percakapan itu.
"Hm," gumamnya singkat, lalu menegakkan tubuhnya.
Tidak ada reaksi besar. Tidak ada perubahan sikap.
Tapi justru itu yang membuat ruang di antara mereka terasa sedikit bergeser.
Lulu menyadari.
Entah kenapa.
Ia meletakkan alat di tangannya, lalu mengeringkan jari-jarinya dengan kain kecil di samping.
Gerakan sederhana.
Namun kali ini… tidak sepenuhnya otomatis.
"Aku menjawab," lanjut Lulu tiba-tiba.
Kalimat itu keluar sebelum ia sempat menahannya.
Rian menoleh lagi.
Tidak terkejut.
Hanya memperhatikan.
"Biasanya kamu tidak," katanya pelan.
Bukan menilai. Hanya menyatakan.
Lulu terdiam.
Tatapannya jatuh ke meja.
"Iya."
Satu kata.
Tapi tidak selesai di situ.
Ia menarik napas perlahan.
"Seharusnya aku tidak perlu," lanjutnya, lebih pelan, hampir seperti berbicara pada dirinya sendiri.
Rian tidak langsung menjawab.
Ia hanya menunggu.
Memberi ruang… tanpa mendorong.
Lulu menelan sisa kalimat yang hampir keluar. Bahunya sedikit menegang, lalu perlahan melepas.
"Aku hanya..." Ia berhenti, lalu menggeleng kecil. "Tidak apa-apa."
Kalimat itu menggantung.
Tidak sepenuhnya benar.
Dan mereka berdua tahu.
Rian menatapnya beberapa detik lebih lama, lalu mengalihkan pandangan.
"Kalau itu pilihanmu," katanya akhirnya.
Nada suaranya tetap sama.
Tidak ada tekanan.
Tidak ada arah.
Hanya penerimaan yang… terlalu netral untuk dianggap biasa.
Lulu mengangkat sedikit kepalanya.
Ada sesuatu dalam kalimat itu yang terasa… berbeda.
Bukan karena kata-katanya.
Tapi karena—
Ia tidak merasa dinilai.
Tidak juga diarahkan.