Mana Barista : Aku Belajar Mengendalikan Sihirku Tapi Tidak Pernah Belajar Mengendalikan Perasaanku

Lyneetra
Chapter #31

Episode 29 : Arah yang Tidak Bisa Ditunda

Keesokan harinya, Arcane Brew sudah terisi beberapa orang saat Lulu masuk. Suasana tenang. Percakapan pelan terdengar di beberapa meja, sementara yang lain hanya duduk tanpa banyak bicara.

Lulu menggantung tasnya, lalu berhenti sebentar sebelum mulai menyiapkan alat. Ia tidak melihat ke sekitar lebih lama dari yang perlu.

Rian sudah ada di sudut, duduk santai dengan satu tangan di meja. Adrian belum terlihat. Selvara juga belum datang.

“Aku mulai,” ucap Lulu.

Seseorang berdiri dan mendekat. Proses berjalan seperti biasa. Tidak ada yang mendahului. Tidak ada yang perlu diingatkan.

Satu selesai.

Lulu berhenti sebentar.

Lalu lanjut.

Ritmenya tetap sama.

Pintu terbuka.

Suara lonceng terdengar ringan.

Lulu sempat berhenti sesaat sebelum kembali bergerak.

Siswi itu masuk.

Ia langsung berjalan ke dalam dan duduk di tempat yang sama seperti sebelumnya. Kali ini tanpa buku. Tangannya hanya bertumpu di meja, pandangannya mengarah ke depan tanpa fokus yang jelas.

Lulu melihat sekilas, lalu kembali ke pekerjaannya.

Ia tidak mengubah urutan.

Tidak juga mempercepat.

Satu sesi selesai.

Lalu berikutnya.

Saat jeda berikutnya datang, tidak ada yang langsung bergerak. Semua menunggu seperti biasa.

Namun kali ini, suara datang lebih dulu.

“Aku bisa duluan?”

Nada suaranya tenang.

Lulu menoleh.

Siswi itu sudah berdiri.

Tidak terlalu dekat. Tidak juga di posisi paling depan.

“Kenapa?” tanya Lulu.

Siswi itu menarik napas pelan.

“Aku tidak bisa lama hari ini.”

Tidak ada tambahan.

Lulu diam beberapa detik.

Alasannya masuk akal.

Tapi bukan satu-satunya yang menunggu.

Ia sempat melihat ke arah yang lain.

Lalu kembali ke siswi itu.

Jeda itu cukup terasa.

Rian berhenti bergerak di sudut.

Lulu menarik napas.

“Belum,” katanya.

Tidak keras.

Tapi jelas.

Siswi itu mengangguk.

“Iya.”

Ia mundur tanpa protes.

Lulu mengalihkan pandangan.

“Lanjut,” ucapnya.

Orang berikutnya maju.

Proses berjalan lagi.

Seperti biasa.

Namun setelah beberapa saat, Lulu menyadari sesuatu.

Keputusan tadi terasa lebih berat dari yang seharusnya.

Bukan karena salah.

Tapi karena ia sempat mempertimbangkannya lebih lama.

Ia tidak melihat ke arah siswi itu lagi.

Namun ia tahu, pilihan itu tidak sepenuhnya netral.

Beberapa saat setelah itu, ritme di dalam Arcane Brew tetap berjalan tanpa gangguan, tetapi Lulu tidak lagi sepenuhnya tenggelam di dalamnya. Tangannya masih bergerak seperti biasa, meracik, menuang, menyesuaikan, namun ada jarak tipis antara apa yang ia lakukan dan apa yang ia rasakan.

Ia menyelesaikan satu orang, lalu berhenti sejenak.

Tidak ada yang langsung maju.

Semua menunggu.

Seperti biasa.

Namun kali ini, ia sadar siapa yang menunggu.

Dan siapa yang tidak bergerak.

Lulu mengangkat pandangan, lalu menunjuk satu orang di sisi kiri.

Orang itu mengangguk dan maju.

Siswi itu tetap di tempatnya.

Tidak mendekat.

Tidak juga menghindar.

Hanya diam.

Seolah keputusan tadi sudah cukup.

Proses berlanjut.

Lulu menjaga ritmenya tetap sama. Ia tidak mempercepat, tidak juga menahan. Semua berjalan seperti yang sudah ia lakukan selama beberapa hari terakhir.

Namun pikirannya tidak sepenuhnya ikut.

Setelah sesi selesai, ia menarik napas pelan, lalu berdiri sedikit lebih tegak.

“Aku istirahat sebentar,” katanya.

Tidak ada yang protes.

Beberapa orang mengangguk kecil.

Lulu meninggalkan meja, berjalan ke sisi ruangan yang lebih sepi. Ia berdiri dekat jendela, menatap keluar tanpa benar-benar fokus.

Beberapa detik berlalu.

Lalu langkah pelan mendekat.

Ia tidak perlu menoleh untuk tahu siapa.

“Kamu tidak biasanya berhenti di tengah,” suara itu terdengar pelan.

Lulu menoleh.

Siswi itu berdiri di jarak yang sama seperti sebelumnya.

Tidak mendekat lebih jauh.

“Perlu,” jawab Lulu singkat.

Siswi itu mengangguk kecil.

Tidak langsung bicara lagi.

Ada jeda.

Tidak canggung.

Namun juga tidak sepenuhnya ringan.

“Aku tidak masalah tadi,” ucapnya kemudian.

Lulu sedikit mengernyit.

“Maksudnya?”

Siswi itu menggeser pandangannya sebentar sebelum kembali.

“Yang kamu bilang tidak,” jawabnya, “itu wajar.”

Lulu memperhatikannya beberapa detik.

“Kamu sempat berharap,” katanya.

Bukan bertanya.

Siswi itu tersenyum tipis.

“Iya.”

Tidak disembunyikan.

Tidak juga dilebihkan.

Lulu menghela napas pelan.

“Aku tidak akan ubah urutan hanya karena itu,” katanya.

Siswi itu mengangguk.

“Aku tahu.”

Ia berhenti sebentar.

“Dan itu bagus.”

Kalimat itu tidak terdengar seperti basa-basi.

Lebih seperti kesimpulan.

Lulu tidak langsung menjawab.

Ia hanya menatap keluar lagi, lalu berkata pelan,

“Tapi aku sempat mempertimbangkannya.”

Siswi itu diam.

Tidak menyela.

Tidak juga terlihat terkejut.

“Kenapa?” tanyanya.

Lulu tidak langsung menjawab.

Ia berpikir sebentar, bukan mencari alasan, tapi memastikan ia tidak menjawab asal.

“…karena aku sadar kamu yang minta,” ucapnya akhirnya.

Jawaban itu sederhana.

Namun cukup jujur.

Siswi itu tidak langsung menanggapi.

Ia menunduk sedikit, lalu menarik napas pelan.

“Kalau begitu,” katanya, “aku harus hati-hati.”

Lulu menoleh.

“Hati-hati?”

Siswi itu mengangguk kecil.

“Kalau aku mulai memengaruhi keputusanmu tanpa sengaja, itu berarti aku terlalu dekat.”

Kalimat itu tenang.

Namun arahnya jelas.

Lulu tidak langsung membalas.

Ia memperhatikan beberapa detik, lalu berkata,

“Aku yang harus jaga itu.”

Siswi itu tersenyum tipis.

“Iya. Tapi aku juga tidak mau jadi alasan.”

Lulu terdiam.

Untuk pertama kalinya, ia tidak punya jawaban langsung.

Karena kalimat itu… tidak meminta sesuatu.

Tidak juga mendorong.

Namun tetap membawa arah.

Beberapa detik berlalu.

Suara dari dalam ruangan tetap terdengar pelan.

Orang-orang masih menunggu.

Namun ruang di antara mereka terasa terpisah dari itu.

“Kamu tetap di sini?” tanya Lulu akhirnya.

Siswi itu mengangguk.

“Iya. Sampai kamu selesai.”

Tidak ada tambahan.

Namun cukup jelas.

Lulu mengangguk kecil.

Lalu kembali ke meja.

Ia tidak mengatakan apa pun lagi.

Namun langkahnya sedikit lebih pelan dari sebelumnya.

Saat ia sampai, semua orang masih di posisi masing-masing.

Tidak ada yang bergerak lebih dulu.

Lulu duduk.

Menatap ke depan.

“Aku lanjut,” katanya.

Satu orang maju.

Lihat selengkapnya