Mana Barista : Aku Belajar Mengendalikan Sihirku Tapi Tidak Pernah Belajar Mengendalikan Perasaanku

Lyneetra
Chapter #32

Episode 30 : Saat Pilihan Tidak Bisa Menunggu

Keesokan harinya…

Arcane Brew belum terlalu ramai saat Lulu masuk. Beberapa orang sudah duduk, tapi belum ada yang benar-benar menunggu. Suasananya tenang, seperti jeda sebelum sesuatu mulai bergerak.

Lulu menggantung tasnya, lalu langsung ke meja. Ia tidak berhenti lama. Tangannya mulai menyiapkan alat seperti biasa, satu per satu, tanpa terburu.

Rian sudah ada di sudut. Posisi yang sama seperti kemarin. Ia melirik sebentar, lalu kembali ke cangkir di depannya.

Lulu melihat itu sekilas.

Cukup.

“Aku mulai,” katanya.

Nada suaranya tetap tenang.

Seseorang berdiri, lalu mendekat. Proses berjalan seperti biasa. Tidak ada yang mendahului. Tidak ada yang mencoba mengambil celah.

Satu selesai.

Lulu berhenti sebentar.

Lalu lanjut ke berikutnya.

Ritmenya masih sama.

Tidak ada yang berubah.

Beberapa waktu berlalu.

Jumlah orang mulai bertambah pelan. Bukan datang bersamaan, tapi satu per satu. Mereka tidak langsung mendekat. Sebagian duduk, sebagian berdiri di jarak yang cukup.

Lulu tetap bekerja.

Tidak mempercepat.

Tidak menahan.

Namun ia mulai menyadari sesuatu.

Orang-orang tidak lagi hanya menunggu giliran.

Mereka memperhatikan.

Cara ia memilih.

Cara ia berhenti.

Cara ia melanjutkan.

Ia tidak menanggapi itu.

Namun ia sadar.

Pintu terbuka.

Lonceng berbunyi pelan.

Lulu tidak langsung menoleh.

Tangannya tetap bergerak.

Namun ada jeda kecil.

Adrian masuk.

Langkahnya santai. Ia berhenti sebentar di dalam, melihat ke arah meja, lalu berjalan mendekat.

“Kamu mulai cepat,” katanya.

Lulu mengangguk kecil.

“Iya.”

Adrian tidak langsung mengambil posisi depan. Ia berdiri di samping, tidak terlalu dekat.

“Aku tunggu,” ucapnya.

Nada suaranya ringan.

Namun jelas.

Lulu tidak menjawab.

Ia melanjutkan pekerjaannya.

Satu sesi selesai.

Lalu berikutnya.

Ritme tetap terjaga.

Beberapa menit kemudian, pintu terbuka lagi.

Kali ini Lulu menoleh.

Siswi itu masuk.

Langkahnya tidak cepat. Ia berhenti sebentar di pintu, lalu melihat ke dalam sebelum berjalan masuk. Tidak ada yang ia cari secara jelas, tapi arah langkahnya tetap sama seperti hari-hari sebelumnya.

Ia duduk.

Tidak membawa buku.

Tangannya hanya bertumpu di meja.

Lulu melihat itu sekilas.

Lalu kembali ke depan.

Ia tidak mengubah apa pun.

Namun sekarang, ia tahu.

Keduanya ada di ruangan yang sama.

Dan itu belum pernah terjadi seperti ini sebelumnya.

Beberapa waktu berlalu.

Satu orang selesai.

Lulu berhenti.

Jeda.

Biasanya, seseorang akan bergerak setelah itu.

Namun kali ini, tidak ada yang langsung maju.

Semua menunggu.

Lebih sadar dari sebelumnya.

Lulu mengangkat pandangan.

Ia hampir menunjuk.

Namun sebelum itu, dua gerakan terjadi.

Adrian sedikit maju.

Siswi itu juga berdiri.

Tidak cepat.

Tidak saling melihat.

Namun waktunya sama.

Lulu melihat keduanya.

Jeda itu singkat.

Namun cukup jelas.

Tidak ada ruang untuk menunda terlalu lama.

Tidak seperti kemarin.

Ini bukan satu arah.

Ada dua.

Dan keduanya tidak salah.

“Aku dulu?” kata Adrian.

Nada suaranya tetap santai.

Namun posisinya sudah jelas.

Siswi itu tidak bicara.

Namun ia tetap berdiri.

Tidak mundur.

Tidak mendesak.

Hanya… menunggu.

Lulu diam.

Tangannya masih di atas meja.

Matanya berpindah dari satu ke yang lain.

Sekali.

Tidak berulang.

Rian berhenti memutar cangkirnya.

Ia tidak ikut bicara.

Namun jelas memperhatikan.

Lulu menarik napas pelan.

Tidak panjang.

Namun cukup.

Ia tidak melihat lagi ke arah mereka.

Ia sudah tahu.

“Yang tadi belum,” katanya.

Nada suaranya tenang.

Jelas.

Tidak memberi ruang untuk ditafsir ulang.

Siswi itu maju.

Adrian mundur setengah langkah.

Tidak ada protes.

“Ya sudah,” katanya ringan.

Ia kembali duduk.

Seolah tidak terjadi apa-apa.

Namun jelas, ia mencatat.

Lulu kembali ke meja.

Proses dimulai.

Tangannya tetap stabil.

Tidak berubah.

Namun di dalam, ia tahu.

Ini pertama kalinya ia memilih di depan dua orang secara langsung.

Dan kali ini, ia tidak menunda.

Proses berjalan seperti biasa.

Lulu menyelesaikan racikan di depannya tanpa terganggu oleh apa pun yang baru saja terjadi. Tangannya tetap stabil, langkahnya tidak berubah. Ia tidak mempercepat, tidak juga berhenti lebih lama dari yang perlu.

Siswi itu berdiri di depan meja.

Tidak banyak bicara.

Hanya menjelaskan seperlunya.

Lulu mendengarkan, lalu bekerja.

Beberapa menit berlalu.

Cangkir digeser ke depan.

“Sudah,” kata Lulu.

Siswi itu mengangguk.

“Terima kasih.”

Tidak ada tambahan.

Ia mundur.

Kembali ke tempat duduknya seperti sebelumnya.

Tidak menoleh ke arah Adrian.

Tidak juga mencoba membaca reaksi siapa pun.

Hanya duduk.

Tenang.

Lulu tidak melihat ke arahnya lagi.

Ia berhenti sebentar.

Jeda.

Lalu mengangkat pandangan.

Adrian sudah berdiri.

Tidak terburu.

Namun tidak menunggu dipanggil.

“Aku sekarang?” tanyanya.

Lulu mengangguk.

“Iya.”

Adrian maju.

Ia meletakkan tangannya di meja, lalu menatap Lulu beberapa detik sebelum bicara.

“Yang kemarin,” katanya.

Lulu mengangguk kecil.

Ia mulai bekerja.

Tidak ada perubahan dari luar.

Namun kali ini, ia tidak lagi berpikir ulang.

Lihat selengkapnya