Keesokan harinya…
Arcane Brew sudah lebih ramai saat Lulu masuk, dengan beberapa orang yang duduk dan sebagian lain berdiri di jarak yang cukup dekat, seolah siap bergerak kapan saja tanpa benar-benar terlihat menunggu. Suasana tidak bising, namun jelas lebih padat dari hari sebelumnya.
Lulu menggantung tasnya, lalu langsung menuju meja tanpa berhenti lama, namun sebelum mulai, pandangannya sempat bergeser ke arah mesin di sisi belakang, hanya sebentar sebelum akhirnya kembali ke depan.
“Aku mulai,” katanya.
Seseorang langsung maju, dan ritme hari itu terasa lebih cepat sejak awal, membuat Lulu menyesuaikan tanpa perlu berpikir panjang, karena tidak ada jeda panjang di antara setiap orang yang datang.
Satu selesai, lalu langsung lanjut ke berikutnya.
Semua berjalan rapi.
Beberapa menit kemudian, pintu terbuka dan Adrian masuk, berjalan tanpa ragu sebelum mengambil posisi di sisi meja yang tidak mengganggu, tidak langsung bicara, namun cukup jelas bahwa ia datang untuk hal yang sama seperti sebelumnya.
Lulu melihat sekilas, lalu kembali ke depan tanpa mengubah apa pun.
Proses terus berjalan.
Tidak berubah.
Beberapa waktu setelah itu, pintu kembali terbuka dan siswi itu masuk, kali ini tanpa berhenti lama di ambang, karena ia langsung berjalan ke dalam dan mengambil posisi berdiri, tidak maju, tidak juga mundur, hanya menunggu dengan jarak yang tetap terjaga.
Lulu melihat itu.
Dan kali ini, ia tidak menghindar.
Ia menyadarinya sejak awal.
Satu orang selesai, lalu Lulu berhenti sejenak, cukup untuk mengangkat pandangan dan membaca situasi tanpa perlu menunggu terlalu lama.
Adrian mulai bergerak.
Siswi itu juga.
Keduanya tidak saling melihat, namun waktunya hampir bersamaan, membuat ruang itu kembali terasa seperti kemarin, hanya saja kali ini Lulu tidak membiarkannya terbentuk sepenuhnya.
“Kamu dulu,” katanya.
Arah suaranya jelas menuju siswi itu.
Tanpa jeda panjang.
Tanpa menoleh ke arah lain.
Siswi itu maju.
Adrian berhenti.
Tidak ada reaksi berlebihan, hanya satu langkah mundur sebelum akhirnya kembali ke posisi semula.
“Ya sudah,” katanya ringan.
Lulu langsung melanjutkan tanpa mengubah ritme, karena keputusan itu tidak lagi terasa seperti sesuatu yang perlu dipikirkan ulang, melainkan sesuatu yang sudah ia tentukan sejak awal.
Proses berjalan.
Siswi itu selesai, mengangguk kecil sebelum mundur, dan kali ini ia tidak langsung duduk, melainkan tetap berdiri beberapa detik sebelum bergeser ke samping, memberi ruang tanpa terlihat dipaksa.
Lulu tidak melihat ke arahnya lagi.
Ia langsung mengangkat pandangan.
Adrian sudah di depan.
Tidak menunggu dipanggil.
Namun juga tidak mendesak.
Lulu mengangguk.
Adrian maju.
“Yang kemarin,” katanya.
Lulu mulai bekerja tanpa tambahan percakapan, dan suasana di dalam ruangan tetap stabil, namun arah yang terbentuk sudah berbeda, karena keputusan tidak lagi terjadi sebagai respon terhadap situasi, melainkan sebagai sesuatu yang ditentukan lebih dulu.
Beberapa sesi berlalu.
Ritme tetap cepat.
Namun tetap terjaga.
Dan di sela-sela itu, tanpa benar-benar mengganggu alur, Lulu mulai memperhatikan hal lain, karena setiap kali ada jeda kecil, pandangannya kembali bergeser ke arah mesin, hanya sebentar, namun cukup sering untuk tidak lagi dianggap kebetulan.
Rian melihat itu.
Namun tidak langsung bicara.
Karena ia tahu, itu baru dimulai.
Beberapa saat setelah itu…
Ritme di dalam Arcane Brew tetap cepat, namun tidak terasa terburu-buru karena setiap orang sudah memahami alurnya, dan Lulu tetap berada di tengahnya, menjaga agar semuanya berjalan tanpa perlu banyak penyesuaian. Ia menyelesaikan satu orang, lalu langsung melanjutkan ke berikutnya, tanpa jeda panjang, tetapi setiap kali ada ruang beberapa detik, pandangannya kembali bergeser ke arah mesin di sisi belakang, tidak lama, namun cukup sering untuk terasa.
Rian memperhatikan dari tempatnya, lalu akhirnya bicara, “Kamu tidak sepenuhnya di sini.”
Lulu tidak langsung menjawab karena tangannya masih bergerak, menuang dan menyesuaikan tanpa berhenti, lalu setelah satu sesi selesai, ia mengangkat sedikit pandangannya.
“Aku tetap selesaiin,” katanya.
Rian mengangguk kecil.
“Iya, tapi kamu mulai bagi perhatian.”
Lulu tidak menyangkal. Ia berhenti sejenak setelah sesi berikutnya, lalu menarik napas kecil sebelum melanjutkan, dan kali ini, saat tidak ada yang langsung maju, ia tidak langsung menunjuk, melainkan memberi jeda yang sedikit lebih panjang dari sebelumnya.
Beberapa orang tetap di tempat.
Tidak ada yang mendesak.
Namun suasana itu tidak kosong.
Lulu mengalihkan pandangannya ke arah mesin lagi, kali ini sedikit lebih lama, lalu kembali ke depan.
“Aku lanjut satu lagi,” katanya.
Seseorang maju.
Proses berjalan lagi.
Namun setelah itu selesai, Lulu tidak langsung melanjutkan. Ia menurunkan tangannya dari meja, lalu berdiri sedikit lebih tegak sebelum akhirnya berkata,
“Aku berhenti sebentar.”
Tidak ada yang protes.
Beberapa orang mengangguk kecil.
Mereka sudah terbiasa dengan ritme itu.
Lulu keluar dari balik meja, lalu berjalan ke arah mesin tanpa terburu, berhenti di depan alat itu seperti kemarin, namun kali ini tanpa ragu yang sama.
Rian berdiri, lalu mendekat beberapa langkah, tetap menjaga jarak.
“Kamu mau coba di tengah?” tanyanya.
Lulu mengangguk.
“Iya.”
Ia mengambil satu cangkir, menempatkannya, lalu mulai mengatur posisi seperti yang ia ingat, dan kali ini tangannya tidak lagi berhenti di awal, karena ia langsung memulai aliran air tanpa menunggu terlalu lama.
Air mengalir.
Lulu memperhatikan.
Tidak tergesa menghentikan.
Namun juga tidak membiarkannya berjalan tanpa arah.
Beberapa detik berlalu.
Ia menghentikan aliran.
Mengangkat cangkir.
Mencicipi.
Ia tidak langsung bicara.
“…masih ringan,” katanya.
Rian mengangguk kecil.
“Kamu masih jaga terlalu aman.”
Lulu tidak membantah.
Ia mengambil cangkir lain, lalu mengulang, dan kali ini ia menahan sedikit lebih lama sebelum menghentikan aliran, tidak terlalu jauh, tapi cukup berbeda.
Ia mencicipi lagi.
Jeda.
“…lebih terasa,” katanya.
Rian tidak langsung menjawab.
Namun jelas setuju.
Lulu tidak berhenti.
Ia mencoba lagi.
Satu kali.
Lalu satu lagi.
Setiap percobaan tidak jauh berbeda, namun cukup untuk membuatnya memahami perubahan kecil yang terjadi di tengah proses, bukan di awal seperti yang biasa ia lakukan.
Beberapa saat kemudian, ia berhenti.
Bukan karena selesai.
Tapi karena sudah cukup untuk saat itu.
Ia menatap cangkir terakhir, lalu berkata pelan,
“Ini tidak bisa ditentukan dari awal.”
Rian bersandar ringan di dekatnya.
“Iya.”
Lulu mengangkat pandangan.
“Berarti aku harus lihat saat berjalan.”
Rian mengangguk.
“Bukan sebelum. Bukan setelah.”
Jeda kecil muncul.
Lulu menatap kembali cangkir itu, lalu menyesap sekali lagi, kali ini tanpa terburu, membiarkan rasanya turun perlahan sebelum akhirnya menghembuskan napas kecil.
“…ini lebih dekat,” katanya.
Rian tidak menambahkan.
Namun jelas—
ia mengerti.
Lulu meletakkan cangkir itu, lalu kembali ke meja depan tanpa terburu, dan saat ia sampai, beberapa orang masih menunggu dengan posisi yang sama, tidak berubah, seolah jeda tadi memang sudah menjadi bagian dari sistem yang mereka pahami.
“Aku lanjut,” katanya.
Seseorang maju.
Proses berjalan lagi.
Namun sekarang, Lulu tidak hanya memilih siapa.
Ia juga mulai memilih kapan berhenti, dan kapan berpindah.
Dan itu… mulai terasa.
Beberapa saat setelah itu…
Ritme kembali berjalan, namun tidak sepenuhnya sama seperti sebelumnya karena jeda yang Lulu ambil mulai terasa sebagai bagian dari alur, bukan gangguan. Orang-orang tetap menunggu, tetapi tidak lagi hanya menunggu giliran, melainkan juga menyesuaikan diri dengan kapan Lulu berhenti dan kapan ia melanjutkan.