Mana Barista : Aku Belajar Mengendalikan Sihirku Tapi Tidak Pernah Belajar Mengendalikan Perasaanku

Lyneetra
Chapter #34

Episode 32 : Satu Hal yang Tidak Sesuai Rencana


Chapter 2 - Episode 8


Keesokan harinya…

Arcane Brew sudah cukup ramai sejak pagi, namun suasananya tidak seteratur kemarin karena beberapa orang datang hampir bersamaan, membuat jarak antar mereka tidak lagi sejelas biasanya. Ada yang langsung mendekat, ada yang masih mencari posisi, dan ada juga yang berdiri tanpa benar-benar tahu harus mulai dari mana.

Lulu masuk, menggantung tasnya, lalu berhenti sebentar di depan meja sebelum mulai. Pandangannya sempat bergeser ke arah mesin, hanya sekejap, lalu kembali ke depan.

“Aku mulai,” katanya.

Beberapa orang bergerak hampir bersamaan.

Tidak semua maju.

Namun cukup untuk membuat alur yang biasanya rapi… sedikit bergeser.

Lulu melihat itu.

Ia tidak langsung menunjuk.

Ia menunggu satu detik.

Dua detik.

Lalu memilih satu orang di sisi kiri.

“Kamu dulu,” katanya.

Orang itu maju.

Yang lain mundur sedikit.

Namun tidak semuanya langsung kembali ke posisi semula.

Beberapa tetap berdiri.

Menunggu.

Lebih dekat dari biasanya.

Lulu mulai bekerja.

Tangannya tetap stabil.

Namun kali ini, ruang di sekitarnya tidak sepenuhnya mengikuti ritme yang ia buat.

Satu sesi selesai.

Lulu berhenti.

Biasanya, satu orang akan maju.

Namun kali ini, dua orang bergerak hampir bersamaan.

Bukan Adrian.

Bukan juga siswi itu.

Orang baru.

Lulu melihat keduanya.

Jeda.

Lebih terasa dari kemarin.

Karena tidak ada yang jelas lebih dulu.

Ia menarik napas pelan.

“Kamu,” katanya, menunjuk salah satu.

Yang lain berhenti.

Namun ekspresinya tidak sepenuhnya netral.

Tidak protes.

Namun terlihat.

Lulu tetap melanjutkan.

Proses berjalan.

Namun sekarang, ia mulai menyadari sesuatu.

Ritme yang ia bangun, tidak otomatis diikuti oleh semua orang.

Beberapa memahami.

Beberapa masih mencoba menyesuaikan.

Dan beberapa, tidak benar-benar memperhatikan.

Ia menyelesaikan satu sesi.

Lalu berikutnya.

Namun kali ini, jeda yang ia buat tidak selalu direspons dengan cara yang sama.

Ada yang maju terlalu cepat.

Ada yang menunggu terlalu lama.

Ada yang ragu.

Lulu tidak menghentikan.

Ia menyesuaikan.

Namun tidak semua bisa langsung kembali rapi.

Beberapa menit kemudian, pintu terbuka.

Adrian masuk.

Ia berhenti sebentar, melihat ke dalam, lalu langsung menangkap situasi yang sedikit berbeda dari biasanya.

Ia tidak langsung mendekat.

Hanya berdiri di sisi.

Memperhatikan.

Lulu melihat sekilas.

Lalu kembali ke depan.

Satu sesi selesai.

Jeda.

Kali ini, sebelum siapa pun bergerak, seseorang sudah melangkah lebih dulu.

Tidak menunggu.

Tidak melihat ke sekitar.

Langsung maju.

“Bisa cepat?” tanyanya.

Nada suaranya tidak kasar.

Namun tidak mengikuti ritme yang ada.

Lulu menatapnya beberapa detik.

Tidak langsung menjawab.

Orang lain di belakang berhenti.

Situasi berubah.

Tidak besar.

Namun cukup.

Lulu menarik napas pelan.

“Tidak,” katanya.

Nada suaranya tetap tenang.

Namun lebih tegas dari biasanya.

Orang itu terlihat ingin menambahkan sesuatu.

Namun berhenti.

“Iya,” katanya akhirnya.

Ia mundur.

Namun suasana sudah berubah.

Tidak lagi sepenuhnya teratur.

Lulu melanjutkan.

Namun kali ini, ia tidak hanya menjaga ritme.

Ia mulai harus menahan arah.

Dan itu terasa berbeda.

Beberapa saat setelah itu…

Ritme di dalam Arcane Brew belum sepenuhnya kembali seperti kemarin. Lulu tetap bekerja seperti biasa, namun kali ini ia tidak hanya membaca siapa yang siap maju, karena ia juga harus memastikan siapa yang benar-benar mengikuti alur.

Ia menyelesaikan satu orang, lalu berhenti sebentar.

Jeda.

Seseorang di depan sempat melangkah setengah maju, lalu berhenti sendiri saat menyadari Lulu belum memberi tanda.

Lulu melihat itu.

Ia tidak menegur.

Tidak juga mengabaikan.

Ia hanya mengangkat pandangan, lalu menunjuk ke arah lain.

“Kamu dulu.”

Orang yang ditunjuk langsung maju, sementara yang tadi hampir melangkah mundur pelan tanpa suara.

Situasinya tidak kacau.

Namun belum sepenuhnya rapi.

Rian yang duduk di sisi ruangan memperhatikan, lalu berkata pelan, “Hari ini kamu tidak cuma pilih orang.”

Lulu tidak langsung menoleh.

Ia menyelesaikan satu sesi lagi sebelum menjawab,

“Iya.”

Rian mengangguk kecil.

“Kamu juga atur caranya mereka ikut.”

Lulu tidak menyangkal.

Ia kembali ke depan tanpa menambah apa pun.

Satu orang selesai.

Kali ini, sebelum jeda terlalu panjang, Lulu langsung menunjuk.

“Kamu.”

Orang itu maju tanpa ragu.

Yang lain tetap di tempat.

Tidak ada yang mencoba mendahului.

Jeda hampir tidak terasa.

Lulu melanjutkan.

Ia tidak mempercepat, tidak juga memperlambat, namun mulai mengurangi ruang kosong yang sebelumnya ia biarkan, seolah memilih untuk menjaga alur tetap jelas daripada memberi terlalu banyak waktu.

Beberapa menit berlalu.

Suasana mulai lebih stabil.

Orang-orang menunggu dengan lebih tepat.

Tidak terlalu dekat.

Tidak juga ragu.

Belum sepenuhnya sama seperti kemarin, tapi cukup.

Pintu terbuka.

Siswi itu masuk.

Ia berhenti sebentar di dalam, melihat ke arah meja, lalu langsung menangkap perubahan kecil di suasana.

Langkahnya tetap tenang.

Ia tidak langsung duduk.

Ia memilih berdiri di sisi.

Menunggu.

Lulu melihat itu sekilas.

Lalu kembali ke depan.

Ia menyelesaikan satu orang.

Lalu berhenti.

Jeda.

Tidak ada yang langsung bergerak.

Siswi itu tetap di tempat.

Orang lain juga.

Beberapa detik berlalu.

Lulu mengangkat pandangan.

“Kamu dulu,” katanya.

Arah suaranya jelas ke siswi itu.

Ia maju tanpa ragu.

Tanpa melihat ke sekitar.

Seolah sudah tahu kapan harus bergerak.

Lulu mulai bekerja.

Dan untuk beberapa saat, ritme itu kembali terasa.

Lebih jelas.

Lebih mudah diikuti.

Rian memperhatikan dari tempatnya, lalu berkata pelan,

“Yang ngerti… langsung nyesuaiin.”

Lulu tidak menjawab.

Namun ia tidak perlu.

Karena ia juga melihatnya.

Beberapa saat setelah itu…

Ritme memang sempat kembali terasa, tapi tidak bertahan lama.

Lulu menyelesaikan satu orang, lalu langsung lanjut ke berikutnya tanpa memberi jeda panjang, karena ia sudah tahu kalau terlalu lama diam, situasinya bisa kembali tidak jelas. Tangannya tetap stabil, pilihannya tetap tegas, namun kali ini ia tidak lagi memberi ruang yang sama seperti sebelumnya.

Beberapa orang mengikuti.

Beberapa lainnya masih ragu.

Dan ada juga yang mulai mencoba membaca celah.

Satu sesi selesai.

Lulu berhenti sebentar, cukup untuk menarik napas.

Namun sebelum ia sempat menunjuk—

seseorang sudah maju.

Tidak sepenuhnya melanggar.

Namun juga tidak menunggu.

“Bisa sekarang?” tanyanya.

Nada suaranya tidak kasar, tapi terburu.

Lulu menatapnya beberapa detik.

Ia tidak langsung menjawab.

Di belakangnya, dua orang lain ikut berhenti.

Situasi kembali menggantung.

Lulu menarik napas pelan.

“Kamu tunggu,” katanya.

Lihat selengkapnya