Mana Barista : Aku Belajar Mengendalikan Sihirku Tapi Tidak Pernah Belajar Mengendalikan Perasaanku

Lyneetra
Chapter #35

Episode 33 : Saat Pertanyaan Mulai Mendekat


Chapter 2 - Episode 9


Keesokan harinya…

Arcane Brew belum terlalu ramai saat Lulu masuk, tapi beberapa orang sudah datang lebih dulu dan mengambil posisi seperti biasa, seolah ritme yang terbentuk kemarin masih mereka ingat, meskipun tidak semua mengikutinya dengan cara yang sama.

Lulu menggantung tasnya, lalu berdiri sebentar di depan meja sebelum mulai, dan seperti hari sebelumnya, pandangannya sempat bergeser ke arah mesin di sisi belakang, hanya sekejap sebelum kembali ke depan.

“Aku mulai,” katanya pelan.

Seseorang langsung maju.

Tidak ada jeda panjang.

Alur terbentuk dengan cepat.

Lulu bekerja seperti biasa, tangannya bergerak tanpa ragu, memilih, menyesuaikan, lalu menyelesaikan satu per satu tanpa terlihat terburu, namun juga tidak memberi ruang yang terlalu longgar. Ia menyelesaikan satu orang, lalu langsung menunjuk berikutnya, menjaga agar ritme tetap jelas sejak awal.

Beberapa menit berlalu tanpa gangguan.

Namun suasana terasa sedikit berbeda.

Bukan karena jumlah orang.

Tapi karena cara mereka memperhatikan.

Beberapa tidak hanya menunggu giliran, tetapi juga melihat bagaimana Lulu memilih, seolah mencoba memahami pola yang tidak lagi sepenuhnya sama seperti sebelumnya.

Lulu menyadari itu.

Namun ia tidak mengubah apa pun.

Ia tetap melanjutkan.

Satu sesi selesai.

Jeda.

Namun kali ini, sebelum siapa pun bergerak terlalu jauh, Lulu langsung menunjuk.

“Kamu dulu.”

Orang itu maju.

Yang lain tetap di tempat.

Tidak ada yang mencoba mendahului.

Namun di sisi ruangan, pintu terbuka pelan.

Siswi itu masuk.

Ia tidak berhenti lama di ambang, langsung berjalan ke dalam dan mengambil posisi seperti biasa, tidak terlalu dekat, tidak juga jauh, namun kali ini pandangannya tidak lepas dari meja, seolah sejak awal ia sudah datang dengan sesuatu yang ingin ia pastikan.

Lulu melihat sekilas.

Lalu kembali ke depan.

Proses berjalan.

Satu orang selesai.

Lalu berikutnya.

Tidak ada perubahan yang terlihat jelas.

Namun perhatian itu tetap ada.

Mengikuti setiap jeda.

Mengikuti setiap pilihan.

Beberapa sesi berlalu.

Ritme tetap stabil.

Namun semakin terasa bahwa hari ini tidak sepenuhnya sama.

Lulu menyelesaikan satu orang lagi.

Lalu berhenti.

Jeda.

Ia tidak langsung menunjuk.

Beberapa detik berlalu.

Dan di sela jeda itu, siswi itu sedikit maju.

Tidak penuh.

Namun cukup untuk terlihat.

Tidak memotong.

Namun juga tidak sepenuhnya menunggu.

Lulu melihat itu.

Ia tidak langsung menolak.

Namun juga tidak langsung memilih.

Ia membiarkan satu detik berlalu.

Lalu berkata,

“Kamu.”

Namun bukan ke arahnya.

Mengarah ke orang lain di sisi kanan.

Orang itu maju.

Siswi itu berhenti.

Tidak mundur.

Namun tidak melanjutkan.

Ia hanya mengangguk kecil, seolah keputusan itu sudah ia perkirakan.

Lulu mulai bekerja.

Tangannya tetap stabil.

Namun kali ini, ia lebih sadar dari sebelumnya.

Bukan hanya tentang siapa yang maju.

Tapi tentang siapa yang tetap di tempat.

Dan kenapa itu mulai terasa lebih jelas.

Beberapa saat setelah itu…

Ritme tetap berjalan seperti sebelumnya, namun terasa sedikit lebih padat, bukan karena jumlah orang bertambah, melainkan karena cara mereka menunggu mulai berubah, seolah setiap jeda sekarang punya arti yang lebih jelas dibanding kemarin.

Lulu menyelesaikan satu orang, lalu langsung melanjutkan ke berikutnya tanpa memberi ruang terlalu lama, karena ia tahu jika jeda dibiarkan terbuka, arah bisa kembali tidak jelas. Tangannya tetap stabil, pilihannya tetap tegas, namun perhatiannya kini tidak hanya tertuju pada siapa yang maju, melainkan juga pada siapa yang memilih untuk tetap di tempat.

Beberapa orang mulai memahami.

Mereka tidak lagi bergerak terlalu cepat.

Tidak juga ragu terlalu lama.

Namun tidak semua.

Satu sesi selesai.

Lulu berhenti sebentar.

Jeda.

Kali ini tidak ada yang langsung maju.

Semua menunggu.

Namun bukan karena ragu.

Melainkan karena memperhatikan.

Lulu mengangkat pandangan.

Ia hampir menunjuk, namun suara pelan terdengar dari sisi.

“Aku boleh tanya?”

Siswi itu.

Ia tidak maju.

Tidak juga mendekat.

Tetap di tempatnya, namun suaranya cukup untuk menahan momen tanpa memotongnya sepenuhnya.

Lulu menoleh sedikit.

“Apa?”

Siswi itu terlihat berpikir sebentar sebelum melanjutkan.

“Kalau kamu tidak pilih dari awal… kamu nentuin di tengah, kan?”

Pertanyaannya sederhana.

Namun arahnya jelas.

Lulu tidak langsung menjawab.

Ia melihat ke depan sebentar.

Lalu ke arah mesin.

Hanya sekejap.

Kemudian kembali ke siswi itu.

“Iya,” katanya.

Nada suaranya tenang.

Tidak menjelaskan.

Namun tidak juga menutup.

Siswi itu mengangguk kecil.

Seolah mencatat.

“Berarti bisa berubah.”

Lulu tidak menyangkal.

“Iya.”

Jeda kecil muncul.

Namun kali ini tidak terasa menggantung.

Lebih seperti ruang yang sengaja dibiarkan.

Siswi itu sedikit menggeser posisinya.

Tidak mendekat.

Namun lebih siap.

“Kalau begitu… kamu tahu dari kapan harus berubah?”

Lulu menatapnya.

Pertanyaan itu lebih dalam dari sebelumnya.

Bukan lagi tentang apa yang ia lakukan.

Tapi tentang bagaimana ia memutuskan.

Ia tidak langsung menjawab.

Beberapa detik berlalu.

Orang-orang di sekitar tetap diam.

Namun jelas mereka mendengar.

Lulu akhirnya berkata,

“Tidak selalu.”

Suaranya tetap pelan.

Namun lebih jujur.

Siswi itu tidak langsung membalas.

Ia mengangguk pelan.

Seolah jawaban itu justru yang ia cari.

Lulu kembali ke depan.

“Kamu dulu,” katanya.

Mengarah ke orang yang sudah menunggu cukup lama.

Orang itu maju.

Proses berjalan lagi.

Namun percakapan tadi tidak hilang.

Ia tetap ada.

Tipis.

Namun cukup untuk mengubah cara suasana itu terasa.

Rian yang sejak tadi duduk di sisi ruangan memperhatikan, lalu berkata pelan,

“Kamu sekarang tidak cuma dilihat dari hasil.”

Lulu tidak menoleh.

Ia menyelesaikan satu sesi, lalu menjawab,

“Iya.”

Rian tersenyum tipis.

“Mereka mulai lihat cara kamu mikir.”

Lulu tidak langsung membalas.

Namun kali ini ia tidak menghindar.

Beberapa saat setelah itu…

Ritme kembali berjalan, namun tidak lagi terasa sepenuhnya netral, karena percakapan tadi meninggalkan jejak yang halus di dalam suasana, membuat setiap jeda terasa sedikit lebih “terlihat” dari sebelumnya.

Lulu menyelesaikan satu orang, lalu langsung menunjuk berikutnya tanpa memberi ruang terlalu lama.

“Kamu.”, Orang itu maju.

Yang lain tetap di tempat.

Namun kali ini, cara mereka menunggu tidak sama seperti sebelumnya, karena sebagian dari mereka tidak hanya melihat urutan, tetapi juga memperhatikan Lulu lebih dari sekadar apa yang ia lakukan.

Lulu menyadari itu.

Namun ia tidak menyesuaikan secara langsung.

Ia tetap melanjutkan.

Satu sesi selesai.

Lalu berikutnya.

Beberapa menit berlalu tanpa gangguan.

Namun perhatian itu tidak hilang.

Ia tetap ada.

Mengikuti.

Lihat selengkapnya