Mana Barista : Aku Belajar Mengendalikan Sihirku Tapi Tidak Pernah Belajar Mengendalikan Perasaanku

Lyneetra
Chapter #36

Episode 34 : Jarak yang Mulai Terasa Berbeda

Chapter 2 - Episode 10 

Keesokan harinya…

Arcane Brew belum sepenuhnya ramai, namun beberapa orang sudah datang lebih awal dan mengambil tempat seperti biasa, membuat suasana terasa siap tanpa perlu dibentuk ulang. Lulu masuk, menggantung tasnya, lalu berhenti sejenak di depan meja sebelum mulai, memberi dirinya waktu untuk menyesuaikan diri tanpa tergesa.

Pandangannya sempat bergeser ke arah mesin di sisi belakang, tidak lama, lalu kembali ke depan.

“Aku mulai,” katanya.

Seseorang maju.

Alur langsung berjalan.

Lulu bekerja seperti kemarin, menjaga ritme tetap jelas tanpa memberi jeda yang terlalu panjang, namun juga tidak menutup ruang sepenuhnya. Ia menyelesaikan satu orang, lalu menunjuk berikutnya dengan keputusan yang tidak ragu.

Beberapa menit berlalu.

Semua terasa stabil.

Tidak sepenuhnya sama seperti hari-hari sebelumnya, tapi cukup untuk membuat suasana tetap tenang.

Pintu terbuka.

Siswi itu masuk.

Langkahnya tidak berubah, tetap tenang dan tidak tergesa, namun kali ini ia tidak berhenti lama di pintu, langsung berjalan ke dalam dan mengambil posisi yang sedikit lebih dekat dari biasanya, meskipun masih menjaga jarak.

Lulu melihat sekilas.

Lalu kembali ke depan.

Proses berjalan.

Satu orang selesai.

Lalu berikutnya.

Namun perbedaan kecil itu tetap terasa.

Bukan dari cara siswi itu bergerak.

Tapi dari cara Lulu menyadarinya.

Ia tidak menghindar.

Tidak juga menanggapi secara langsung.

Namun perhatiannya lebih jelas dari sebelumnya.

Beberapa sesi berlalu.

Ritme tetap terjaga.

Namun setiap jeda kini terasa lebih “terlihat”, seolah ruang kecil di antara satu keputusan dan keputusan berikutnya tidak lagi benar-benar kosong.

Lulu menyelesaikan satu orang, lalu berhenti sejenak.

Sebuah Jeda, Seperti semuanya sedang menunggu.

Namun bukan karena ragu.

Lebih karena memahami.

Lulu mengangkat pandangan.

Ia hampir menunjuk, namun melihat ke arah siswi itu.

Hanya sebentar.

Lalu kembali ke depan.

“Kamu dulu,” katanya.

Mengarah ke orang lain.

Orang itu maju.

Siswi itu tidak bergerak.

Tidak terlihat kecewa.

Tidak juga mencoba mendahului.

Ia hanya tetap di tempatnya.

Menunggu.

Namun kali ini, dengan cara yang berbeda.

Lulu mulai bekerja.

Tangannya tetap stabil.

Namun pikirannya tidak sepenuhnya sama seperti sebelumnya.

Ia menyadari satu hal.

Bahwa jarak itu masih ada.

Namun rasanya mulai berubah.

Tidak lagi sekadar batas.

Tapi sesuatu yang harus ia pilih, setiap kali.

Beberapa saat setelah itu…

Ritme tetap berjalan, namun terasa lebih halus dibanding sebelumnya, seolah semua orang sudah memahami kapan harus menunggu dan kapan harus maju tanpa perlu melihat terlalu banyak. Lulu menyelesaikan satu orang, lalu langsung menunjuk berikutnya dengan keputusan yang tidak tertahan, menjaga alur tetap jelas tanpa perlu mempercepat.

Ia tidak melihat ke samping.

Namun ia tahu

siswi itu masih di sana.

Satu sesi selesai.

Lalu berikutnya.

Beberapa menit berlalu tanpa perubahan berarti.

Namun setiap kali ada jeda kecil, kesadaran itu tetap muncul, membuat Lulu lebih berhati-hati dalam memilih tanpa terlihat ragu.

Rian memperhatikan dari tempatnya.

“Kamu sekarang lebih sadar,” katanya pelan.

Lulu tidak langsung menjawab. Ia menyelesaikan satu sesi sebelum mengangkat pandangan sedikit.

“Iya.”

Rian mengangguk kecil.

“Bukan soal ritme lagi.”

Lulu tidak menyangkal.

Ia kembali ke depan.

Satu orang selesai.

Jeda.

Kali ini, sebelum ia menunjuk, siswi itu melangkah satu langkah ke depan.

Tidak terlalu dekat.

Namun cukup untuk terlihat jelas.

Ia tidak berbicara.

Hanya berdiri.

Menunggu.

Lulu melihat itu.

Ia tidak langsung memilih.

Namun juga tidak menghindar.

Beberapa detik berlalu.

Orang lain di sisi kiri juga mulai bersiap.

Situasi kembali terbuka.

Namun tidak seperti kemarin.

Tidak ada yang mendesak.

Hanya pilihan yang harus dibuat.

Lulu menarik napas pelan.

“Kamu dulu,” katanya.

Mengarah ke orang di sisi kiri.

Orang itu maju.

Siswi itu berhenti.

Namun kali ini ia tidak mundur.

Ia tetap di tempatnya.

Menunggu giliran berikutnya tanpa menarik diri.

Lulu mulai bekerja.

Namun pikirannya tidak sepenuhnya di sana.

Bukan karena terganggu.

Namun karena ia menyadari

ia mulai memperhitungkan sesuatu yang sebelumnya tidak ia lakukan.

Satu sesi selesai.

Jeda.

Kali ini Lulu tidak menunda.

Ia langsung mengangkat pandangan.

“Kamu sekarang.”

Arah suaranya jelas.

Ke siswi itu.

Ia maju.

Tidak terburu.

Namun juga tidak ragu.

Untuk pertama kalinya hari itu, jarak itu berubah tanpa perlu dijelaskan.

Lulu mulai bekerja.

Tangannya tetap stabil.

Namun kali ini ia tidak langsung menutup ruang dengan diam.

“Apa lagi?” tanyanya.

Siswi itu sedikit terkejut.

Tidak menyangka Lulu yang membuka.

Ia mengalihkan pandangan sebentar, lalu kembali.

“Aku cuma mau tahu,” katanya pelan, “kalau kamu terus pilih seperti ini… kamu capek?”

Lulu tidak langsung menjawab.

Tangannya tetap bergerak.

Pertanyaannya sederhana.

Namun tidak ringan.

Ia berhenti sejenak setelah menyelesaikan bagian awal, lalu mengangkat pandangan.

“Kadang,” katanya.

Siswi itu mengangguk kecil.

“Terus kenapa tetap lanjut?”

Lulu menatapnya beberapa detik.

“Karena masih perlu,” jawabnya.

Tidak panjang.

Namun cukup.

Siswi itu tidak langsung membalas.

Ia mengangguk pelan, seolah menerima tanpa perlu memaksa jawaban lain.

Lulu melanjutkan.

Beberapa detik kemudian, ia menyelesaikan racikannya dan mendorong cangkir itu ke depan.

Siswi itu menerimanya.

“Terima kasih.”

Nada suaranya lebih ringan dari sebelumnya.

Ia tidak langsung pergi.

Namun juga tidak bertanya lagi.

Ia mundur satu langkah.

Memberi ruang.

Lulu kembali ke depan.

Namun kali ini, ia menyadari sesuatu dengan lebih jelas.

Bahwa jarak itu masih ada.

Namun bukan lagi sesuatu yang ia jaga sendirian.

Lihat selengkapnya